Tahun kedua menjadi 'wali kelas' lima, sangat menantang. Pengalaman sebelumnya membuat saya merefleksikan keseluruhan tentang apa yang telah saya lakukan. Mulai dari memikirkan konsep belajar bermakna, membangun kemistri, mengajak semua warga sekolah terlibat aktif dalam pembelajaran, dan lain-lain.
Sejatinya bayang-bayang kegagalan mengajar, membawa saya cemas dan takut terulang kembali. Apalagi kelas lima ini menjadi perjalanan belajar yang baru bagi saya.
Biarpun di kelas lima ini saya berjumpa kembali dengan anak-anak yang telah saya ajar ketika duduk di kelas dua, namun tantangan tetap saja ada. Memang awalnya saya berpikir, "Senang nih sudah pernah merasakan belajar bersama, mengenal karakteristik masing-masing anak dan mengenal latar belakang orangtua juga jadi sepertinya mudah deh mengajar mereka semua."
Baru saja mulai pembelajaran di tahun ajaran baru kelas lima tantangan sudah terlihat. Minggu pertama, pasang raut wajah sumringah nyatanya dibalas dengan wajah tegang, kompak tanpa suara, dipancing menggunakan pertanyaan pemantik pun tetap pasif, diam membisu. Horor sekali bagi saya ketika berada di posisi mengajar seperti ini.
Oke, mencoba tenang. Minggu pertama boleh gagal tetapi Minggu berikutnya pasti berhasil membangun kemistri dengan mereka. Saya melakukan refleksi ulang terkait pembelajaran yang telah saya lakukan. Hingga saat merenungi hal tersebut tiba-tiba ide muncul seketika.
"Aha! Kenapa tidak mengajak kolaborasi orangtua? Sekaligus melakukan asesmen awal dengan orangtua."
Saya biarkan pikiran ini bertebaran di kepala. Sambil menyusun rencana program setahun ke depan belajar di kelas lima. Sepertinya harus ada perubahan pembelajaran sehingga membawa dampak baik tersendiri bagi orangtua dan anak.
Lalu, apa langkah perubahan yang saya lakukan?
Pertama, saya membuat grup baru dengan orangtua sebagai ruang diskusi hangat. Tujuannya adalah membangun kemistri agar perjalanan belajar dua semester ke depan setidaknya berjalan sesuai alur kesepakatan bersama.
Kedua, setelah dibentuk grup baru tentu harapannya tidak sunyi, ada percakapan-percakapan bermakna yang terbangun. Contoh, saya membuka percakapan melalui pertanyaan sederhana, "Bagaimana kabarnya hari ini Bapak, Ibu." hingga mengarah ke pertanyaan tentang keresahan menghadapi anak belajar di rumah. Yah - mungkin terlihat mudah, tetapi nyatanya tidak semudah itu. Butuh waktu untuk menunggu para orangtua aktif membalas. Terkadang pun harus menyiapkan beberapa pertanyaan lain atau cari cara supaya membuat orangtua 'mau' berdiskusi dan berbagi keresahannya.
Ketiga, ketika merasa belum berhasil membangun percakapan, saya tidak tinggal diam. Saya coba mencari referensi dengan mendengarkan podcast, membaca buku, atau mengikuti kegiatan temu pendidik baik offline maupun online. Cara itu rupanya membuat otak saya memunculkan ide. Sehingga saya memilih mencoba mengeksekusi ide ini.
"Sesi 10 menit berbicara dari mata ke mata, hati ke hati. Saat orangtua hadir sepenuhnya untuk anak."
Sesi tersebut saya lakukan di Minggu kedua tahun ajaran baru. Saya meminta orangtua hadir, lalu mendampingi anak, kemudian melakukan sesi saling bicara. Dari total 21, hanya 17 orangtua yang hadir. Lainnya ada yang berhalangan karena bekerja dan ada pula yang tidak ada respon sama sekali. Namun anak yang orangtuanya tidak hadir tetap saya libatkan dengan membentuk kelompok dan meminta saling berbicara satu sama lain.
Sesi saling bicara berlangsung dengan hikmat. Bahkan beberapa terlihat penuh haru. Dari sini saya benar - benar belajar tentang pentingnya 'kedekatan' antara anak dan orangtua. Saya juga melihat bagaimana cara masing-masing mengutarakan suara hatinya, ada yang hanya diam menatap wajah anak tetapi penuh rasa yang tidak bisa diungkapkan, ada yang benar-benar asyik mengobrol satu sama lain sehingga terlihat hangat dan erat, dan ada pula yang terlihat seperti belum terbiasa mengajak berbincang si anak.
Tidak lama kemudian, sesi itu dicukupkan. Lalu saya kembali mengajak semua orangtua merefleksikan bagaimana proses mereka mendampingi anak belajar di rumah. Apa yang perlu diperbaiki, apa yang perlu dihentikan, dan apa yang perlu dipertahankan. Lagi-lagi saya melihat para orangtua yang hadir ini seperti ingin ada perubahan dalam diri anak-anaknya.
Bersyukur, sesudah sesi hangat tersebut respon orangtua sangat positif. Sambil berbisik, “Terima kasih banyak telah menghadirkan sesi seperti ini ustadzah. Kami menunggu momen seperti tadi, karena sangat dibutuhkan orangtua.”
Mendengar hal itu, perasaan saya lega. Senang sekali, keterlibatan sederhana ini membawa kebaikan untuk semua.
Aksi sederhana yang saya lakukan tidak cukup melalui sesi tersebut. Seiring berjalannya waktu, saya pun selalu mencoba melibatkan orangtua lewat program-program kelas lima.
Contoh lain, saya melibatkan orangtua untuk hadir melihat secara langsung dan memberi dukungan ketika anak-anaknya mempresentasikan hasil belajar di hadapan mereka. Kali ini seluruh orangtua berjumlah dua puluh satu hadir membersamai proses belajar anak. Saya sebagai guru pun merasa terharu serta bangga melihat keduanya bisa saling terlibat sangat dekat.
Proses perjalanan belajar ini tidak serta-merta berjalan mulus. Suka duka telah dilewati bersama. Saya yang telah siap menjadi gelas kosong setiap pergantian tahun ajaran baru, dan tahun kedua mengajar kelas lima tersebut nyatanya membuat saya semakin berubah positif. Yang awalnya selalu merasa cemas, takut gagal, kini menjadi lebih percaya diri akan kemampuan yang saya miliki. Saya yakin, saya mampu, dan saya bisa!
Saya bukan guru yang hebat. Saya adalah GURU BELAJAR yang tak akan pernah berhenti untuk belajar.
Memuat komentar...