Jika bukan kita siapa lagi? Kalau bisa sekarang, mau kapan lagi? Saya memiliki value dalam hidup bahwa apapun, bagaimanapun keadaan dan di manapun berada tetaplah tebar kebaikan serta memberi kebermanfaatan kepada lingkungan sekitar. Karena kita tidak pernah tahu, amal mana yang nantinya akan membawa kita masuk ke surgaNya kelak. So, selagi napas ini masih berhembus selalu ciptakan langkah kecil bernama kebaikan. Tidak mengapa jika perjalanan menuju itu tidak semulus jalan tol ataupun membuat gagal.
17 Desember 2024, saya memutuskan untuk mengadakan pembelajaran yang berbeda dengan menghadirkan guru tamu dari luar sekolah. Beruntung saya aktif berorganisasi dan terbiasa ada di dunia kerelawanan sosial, alhasil saya tidak terlalu sulit untuk mencari relawan guru. Tetapi lagi-lagi yang menjadi kebimbangan di awal adalah waktu. Yes, terkait waktu yang pas untuk memberikan pembelajaran tersebut. Terkadang, ketika sudah mengatur jadwal namun dari relawan guru tidak bisa, begitupun sebaliknya.
Tantangan-tantangan juga pastinya hadir. Kali ini tantangan saya adalah mengajak kolaborasi anak untuk dapat terlibat aktif. Wah, ini tidak mudah sih. Apalagi ukuran anak sekolah dasar (SD) yang notebene lebih banyak menginginkan bermain saja dibanding membahas materi yang serius. Butuh memberikan pemahaman yang lebih ekstra supaya mereka semua mengerti apa tujuan pembelajaran dan dampak setelah mereka mempelajari hal itu. Adanya tantangan tidak membuat saya menyerah, apalagi berhenti di situ saja justru saya terpacu untuk lebih keras lagi memberikan kebermanfaatan kepada murid-murid saya. Saya ingin menjadi guru yang berbeda dengan harapan dapat menginspirasi serta membawa kenangan di masa merah putih (sekolah dasar). Namanya hidup di dunia pasti ada tantangan yang siap menghadang. Begitu pula dunia pendidikan, sangat beragam tantangannya.
Lalu, langkah apa yang saya ambil dalam mengatasi tantangan tersebut? Yuhu, betul sekali. Saya mengajak kolaborasi teman-teman saya yang ada di komunitas untuk menjadi relawan guru tamu di kelas saya. Kali ini saya mengajak Dik Rendra (aktivis cilik, ketua forum anak kota batik Pekalongan, volunteer akademi berbagi, dan murid SMK Medika Pekalongan) dan memintanya berbagi inspirasi di kelas saya. Alhamdulillah proses ini tidak terlalu lama sehingga waktu yang sudah saya tentukan langsung disetujui. Setelah semua telah fix terkait dengan relawan guru dan waktu pelaksanaan, kemudian saya mencoba mengajak teman-teman yang tergabung dalam gerakan Teman Tumbuh dan Berdaya untuk ambil peran dalam pembelajaran tersebut. Bersyukur ketika saya menghubungi ada salah satu anak yang ingin belajar menjadi moderator. Tanpa berpikir panjang langsung cus kami belajar bersama sebelum hari pelaksanaan itu tiba. Rasanya senang sekali jika ada murid yang mau terlibat ambil peran. Jarang-jarang tho murid SD seperti itu.
Tema saat itu adalah menumbuhkan kepercayaan diri. Pemilihan tema tersebut dilatarbelakangi karena selama saya mengajar 90% murid belum berani bersuara. Mereka terlihat malu, takut terkena bullyan dari teman-temannya jika salah, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, saya ingin mereka mendengarkan cerita dari sesama murid secara langsung dengan tujuan agar menggugah semangat belajar mereka. Kelas ini pun saya siarkan secara live melalui sosial media instagram dan tiktok supaya kebermanfaatannya kian luas seta sebagai branding sekolah. Dan qadarullah yang menonton sedikit sekali. Hahaha - iyalah karena saya bukan artis, influencer, ataupun konten kreator yang memiliki followers banyak. But, tidak menjadi masalah. Yang penting tujuan saya ini baik, selebihnya adalah bonus. Kelas kolaborasi tersebut berlangsung selama dua jam. Ada sesi tanya jawab di akhir kelas. Alhamdulillah ada yang berani bertanya biarpun hanya dua anak. Kelas ini adalah kelas perdana yang mungkin belum pernah dilakukan di sekolah-sekolah lain untuk tingkat SD. Menjadi pembeda itu sangat menyenangkan. Jangan takut berbeda dari lainnya. Teruslah bergerak, berdampak demi perubahan pendidikan.
Tantangan pun tidak menjadi sebuah penghalang untuk menciptakan pembelajaran yang berbeda. Bersyukur kelas ini berjalan lancar. Lalu kami tutup kelas ini dengan refleksi bersama. Sayang momen tersebut tidak terdokumentasikan. Namun saya ingat betul bahwa 80% mereka mengatakan bahwa pembelajaran itu menjadi pengalaman pertama mereka selama bersekolah di jenjang SD. Menyenangkan dan jadi tahu kisah dari murid lain. Yang berperan sebagai moderator pula berkomentar positif, katanya, "ini menjadi pengalaman yang berkesan untukku karena pertama kali bicara di depan umum sebagai moderator."
Memuat komentar...