
Model SANJAYANTI Terintegrasi Tri Hita Karana: Menganyam Literasi dan Kecakapan Hidup untuk Akselerasi Asta Cita dan SDGs di PKBM Widya Aksara
Dr. Ni Putu Ayu Hervina Sanjayanti, M.Pd.
Universitas Pendidikan Ganesha, Bali
Dosen/Pakar Pendidikan,Pengelola PNFI
Email: sanjayantihervina@gmail.com atau hervina.sanjayanti@undiksha.ac.id
WA :085737610600
ABSTRAK
Pendidikan di PKBM Widya Aksara Buleleng merupakan sebuah ikhtiar kreatif dalam menganyam berbagai helai harapan masyarakat menjadi satu kain peradaban yang kokoh. Artikel ini mendokumentasikan praktik baik pengembangan ruang belajar masyarakat yang bertransformasi menjadi pusat tumbuhnya budaya literasi dan kecakapan hidup yang inklusif. Melalui integrasi program Keaksaraan Dasar/Mandiri, Pendidikan Kesetaraan (Paket A, B, C), dan PAUD, pemberdayaan perempuan dan kepemudaan, Widya Aksara hadir dan menerapkan model ruang belajar masyarakat dengan model SANJAYANTI (Sinergi, Akselerasi, Nyata, Jalinan, Adaptif, Yakin, Tangguh, Inspiratif) sebagai pola teknis intervensi terintegrasi dengan filosofi kearifan lokal Tri Hita Karana (hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia lainnya, manusia dnegan lingkungannya). Model ini secara harmonis mensinergikan Tri Hita Karana dengan visi strategis nasional Asta Cita serta target global Sustainable Development Goals (SDGs). Hasil praktik baik selama dua tahun terakhir menunjukkan peningkatan signifikan dalam partisipasi warga belajar, penguatan literasi fungsional dan adaftif digital, serta kemandirian ekonomi peserta didik melalui pendidikan berbasis vokasi yang kontekstual. Makalah ini tidak sekadar mendeskripsikan kegiatan rutin, melainkan melakukan analisis reflektif mengenai pembelajaran (lesson learned) dalam mengelola ekosistem belajar yang adaptif di wilayah Buleleng. Temuan ini diharapkan menjadi model replikasi bagi penguatan kebijakan dan implementasi program Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) yang berkelanjutan, memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan SDM yang berdaya saing, serta lebih responsif dan berkelanjutan mengembangkan ruang belajar masyarakat untuk pusat tumbuhnya budaya literasi dan kecakapan hidup.di masa depan di masa depan.
Kata kunci: model SANJAYANTI, Tri Hita Karana, literasi, kecakapan hidup, Asta Cita, SDGs
Pendahuluan dan Latar Belakang Permasalahan
Pendidikan nonformal di PKBM Widya Aksara merupakan sebuah ikhtiar untuk menganyam helai-helai harapan masyarakat menjadi satu kain peradaban yang kokoh. Sebagaimana ditegaskan oleh Arifin dan Wijaya (2024), transformasi pendidikan nonformal di era digital menuntut setiap satuan pendidikan untuk tidak sekadar menjadi tempat transfer ilmu, melainkan menjadi pusat pemberdayaan yang adaptif terhadap kebutuhan komunitasnya. Senada dengan hal tersebut, UNESCO (2024) menekankan bahwa pendidikan nonformal harus menjadi pilar utama dalam membangun resiliensi masyarakat terhadap perubahan global. Di wilayah Buleleng, tantangan pendidikan tidak hanya soal akses, tetapi juga relevansi antara literasi yang diajarkan dengan kecakapan hidup yang dibutuhkan untuk menghadapi dinamika ekonomi lokal.
Masih adanya kelompok masyarakat yang kurang terjangkau oleh sistem pendidikan formal seperti Anak Tidak Sekolah (ATS) dan warga belajar dewasa yang membutuhkan literasi fungsional menjadi urgensi tersendiri. PKBM Widya Aksara memandang bahwa pendidikan harus mampu merajut hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam, sebagaimana diamanatkan dalam filosofi Tri Hita Karana (Pratama & Sari, 2025). Integrasi filosofi ini dalam tata kelola lembaga bukan sekadar seremoni, melainkan upaya menciptakan ekosistem belajar yang stabil dan berkelanjutan. Di sisi lain, kebijakan nasional yang tertuang dalam visi Asta Cita ke-4 menekankan pentingnya penguatan SDM yang mandiri dan berdaya saing, dan Asta Cita ke-8 menekankan pentingnya keberlanjutan lingkungan dan harmoni sosial sebagai fondasi pembangunan nasional yang berkelanjutan (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023). Hal ini sejalan dengan target global Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yang menyerukan pendidikan berkualitas yang inklusif bagi semua orang. Namun, tantangan utama yang sering dihadapi adalah bagaimana memadukan standar kebijakan nasional tersebut ke dalam praktik operasional harian yang luwes, praktis, dan dapat diterima oleh akar rumput di Buleleng.
Permasalahan yang diangkat dalam makalah ini berfokus pada upaya PKBM Widya Aksara dalam mengintegrasikan berbagai program mulai dari layanan PAUD, keaksaraan dasar/mandiri, hingga pendidikan kesetaraan (Paket A, B, C) ke dalam satu "anyaman" model SANJAYANTI terintegrasi Tri Hita Karana. Secara metodologis, implementasi Tri Hita Karana dalam model SANJAYANTI berfungsi sebagai jangkar nilai yang memanusiakan pendidikan nonformal. Melalui pilar Parahyangan, proses pembelajaran di PKBM Widya Aksara tidak hanya mengejar target kognitif semata, melainkan mengintegrasikan olah spiritualitas untuk membentuk karakter pembelajar yang berintegritas. Pilar Pawongan diwujudkan melalui pola 'menganyam' kolaborasi lintas generasi, di mana semangat gotong royong dan kesetaraan antar-warga belajar menjadi motor penggerak literasi sosial. Sementara itu, pilar Palemahan diimplementasikan dengan mendekatkan materi kecakapan hidup pada konteks ekologi lokal Buleleng, sehingga literasi yang dihasilkan bersifat kontekstual dan berkelanjutan. Sinergi ketiga pilar inilah yang menjadikan metode SANJAYANTI tidak sekadar sebuah teknik instruksional, melainkan sebuah pendekatan holistik yang menyatukan harmoni spiritual, sosial, dan lingkungan dalam satu napas pembangunan SDM yang berdaya saing
Artikel ini tidak hanya mendeskripsikan kegiatan rutin, tetapi melakukan refleksi kritis terhadap bagaimana metode SANJAYANTI berfungsi sebagai akselerator mutu dan pusat tumbuhnya budaya literasi yang inklusif. Melalui dokumentasi praktik baik ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi penguatan kebijakan dan implementasi program Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) yang lebih responsif dan berkelanjutan mengembangkan ruang belajar masyarakat untuk pusat tumbuhnya budaya literasi dan kecakapan hidup.di masa depan.
Pembahasan
Model/Intervensi / Praktik yang Dilakukan
Tujuan Model SANJAYANTI
Tujuan dari Model SANJAYANTI bukan sekadar memberikan akses pendidikan, melainkan melakukan transformasi kualitas hidup secara menyeluruh melalui pendekatan yang humanis dan kontekstual. Tujuan utamanya meliputi: 1) Meningkatkan Literasi Fungsional & Numerasi: Mengembangkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung warga belajar bukan untuk kebutuhan akademis semata, tetapi sebagai alat untuk memecahkan masalah keseharian dan mengelola usaha ekonomi berbasis digital. 2) Membangun Kemandirian Ekonomi (Life Skills): Membekali warga belajar dengan kecakapan hidup yang relevan dengan potensi lokal Buleleng, sehingga mampu meningkatkan taraf hidup dan menekan angka kemiskinan di tingkat komunitas. 3) Penguatan Karakter Berbasis Kearifan Lokal: Menginternalisasi nilai-nilai Tri Hita Karana (harmoni dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan) ke dalam setiap aspek pembelajaran guna membentuk individu yang berintegritas dan memiliki kepedulian sosial-ekologis. 4) Mewujudkan Ekosistem PNFI yang Berkelanjutan: Membangun PKBM sebagai pusat belajar percontohan yang mampu menciptakan multiplier effect, di mana keberhasilan alumni menjadi inspirasi bagi kemajuan masyarakat secara luas.
Sasaran Peserta
Sasaran peserta Model SANJAYANTI difokuskan pada individu atau kelompok yang membutuhkan dukungan ekstra untuk mengejar ketertinggalan pendidikan atau meningkatkan kualitas hidupnya. Sasaran ini mencakup: 1) Anak Tidak Sekolah (ATS) & Putus Sekolah: Individu yang karena berbagai hambatan ekonomi atau sosial tidak dapat menyelesaikan pendidikan formal, namun memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui jalur nonformal. 2) Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR): Kelompok warga yang membutuhkan peningkatan life skills untuk memperbaiki kapasitas ekonomi rumah tangganya. 3)Pelaku UMKM Lokal (Pemula/Mikro): Anggota komunitas yang membutuhkan literasi digital dan manajemen usaha untuk meningkatkan daya saing produk lokal Buleleng. 4) Warga Belajar Kesetaraan (Paket A, B, C): Kelompok masyarakat yang sedang menempuh pendidikan nonformal yang membutuhkan pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel, adaptif, dan bermakna. 5) Calon pemuda pelopor yang akan mengembangkan program kepemudaan. 6) Perempuan yang termarginalkan.
Metode Pelaksanaan dan Intervensi
Filosofi Tri Hita Karana, Sebagai jiwa dari model ini, Tri Hita Karana menjadi kompas etis dalam penyelenggaraan pendidikan: Parahyangan: Menempatkan spiritualitas sebagai fondasi karakter, memastikan bahwa setiap proses belajar didasari oleh integritas dan kesadaran diri. Pawongan: Menekankan bahwa pendidikan adalah upaya kolaboratif. Pembelajaran di PKBM Widya Aksara tidak bersifat individualistis, melainkan mengedepankan gotong royong dan harmonisasi sosial antar-warga belajar. Palemahan: Memastikan pendidikan tetap membumi dan relevan dengan ekosistem lokal di Buleleng, sehingga warga belajar memiliki tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan dan budaya di sekitarnya.
Komponen Model SANJAYANTI, Metode ini terdiri dari delapan pilar yang diimplementasikan secara terstruktur:
Pertama Sinergi & Akselerasi: Integrasi kurikulum dilakukan agar warga belajar dapat mencapai kompetensi lebih cepat. akselerasi literasi fungsional memerlukan sinkronisasi program yang memungkinkan peserta didik mengenali potensi diri secara dini. Kedua Nyata & Jalinan: Praktik ini mengutamakan "pembelajaran berbasis kehidupan". Membangun jalinan kemitraan lintas sektor dengan tokoh masyarakat dan dunia usaha lokal di Buleleng, yang memperkuat ekosistem belajar sesuai prinsip gotong royong dalam Asta Cita. Ketiga Adaptif & Yakin: Lingkungan belajar dibuat fleksibel dan ramah digital. menanamkan rasa yakin melalui pendampingan personal, yang merupakan kunci utama dalam mengatasi rendahnya kepercayaan diri pada warga belajar dewasa atau ATS. Keempat Tangguh & Inspiratif: Membangun ketahanan (resilience) warga belajar agar mampu bertahan dalam proses lifelong learning.
Intervensi Model SANJAYANTI terintegrasi Filosofi Tri Hita Karana
Integrasi komprehensif model ruang SANJAYANTI dalam bingkai Tri Hita Karana dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2. Integrasi komprehensif model SANJAYANTI dengan filosofi Tri Hita Karana
Pilar Strategis | Manifestasi Tri Hita Karana | Integrasi dan Contoh kontekstual |
S&A (Sinergi & Akselerasi) | Parahyangan | Akselerasi belajar dipandang sebagai bentuk rasa syukur atas potensi diri. Integrasi spiritualitas memastikan bahwa kecepatan belajar tidak mengabaikan etika dan kedalaman karakter. Contoh nyata: "Sesi Refleksi Hening": Sebelum memulai pelatihan literasi digital atau life skills, tutor mengajak warga belajar melakukan hening sejenak atau doa bersama sesuai kepercayaan masing-masing untuk menumbuhkan fokus dan rasa syukur. Dampaknya, Warga belajar memiliki ketenangan emosional dan integritas moral dalam menyerap materi yang diberikan. |
N&J (Nyata & Jalinan) | Pawongan | Kerja sama dengan UMKM dan komunitas adalah wujud nyata Pawongan (hubungan antar sesama). Saling menguatkan dalam ekonomi adalah bentuk gotong royong modern yang inklusif. Contoh nyata: PKBM Widya Aksara menjalin kerja sama dengan UMKM pengolahan kopi khas Buleleng. Warga belajar tidak hanya diajarkan teori pemasaran digital di kelas, tetapi langsung praktik mengelola media sosial dan desain kemasan produk kopi tersebut sebagai tugas akhir. Dampaknya Terbentuknya jejaring pendukung (support system) yang kuat di antara warga belajar, sehingga tidak ada yang merasa tertinggal. |
A&Y (Adaptif & Yakin) | Pawongan | Membangun kepercayaan diri warga belajar melalui pendampingan sebaya (peer-mentoring) mencerminkan kasih sayang dan saling asah-asih-asuh antar sesama pembelajar. Contoh nyata: Untuk warga belajar yang minder karena faktor usia atau riwayat putus sekolah, tutor menggunakan pendekatan peer-mentoring (pendampingan sebaya). Mereka dilatih menggunakan aplikasi desain grafis populer (seperti Canva) untuk meningkatkan kepercayaan diri bahwa mereka mampu bersaing di era digital. |
T&I (Tangguh & Inspiratif) | Palemahan | Menjadikan PKBM sebagai pusat percontohan berarti menjaga "lingkungan belajar" agar tetap inspiratif. Dampak positif yang disebarkan adalah upaya melestarikan ekosistem sosial dan lingkungan untuk masa depan. Contoh nyata: Modul Literasi Berbasis Potensi Lokal: Materi ajar disusun berdasarkan pengamatan lingkungan sekitar. Contoh: Warga belajar mempelajari teknik pemasaran digital dengan mempromosikan produk kebun atau kerajinan tangan lokal di Buleleng yang ramah lingkungan. Dampaknya Warga belajar menyadari bahwa kemandirian ekonomi (life skills) harus selaras dengan pelestarian alam dan budaya daerahnya. |
Tahapan Pelaksanaan
Praktik ini dilaksanakan dalam tiga tahap utama yang dirancang untuk memastikan pendidikan benar-benar menyentuh aspek kemanusiaan dan kebutuhan riil warga belajar:
Tahap Pemetaan Kebutuhan (Diagnosis), Tahap ini Pendidik melakukan profiling komprehensif terhadap latar belakang ekonomi dan sosial warga belajar.
Tahap Proses Menganyam Intervensi, Tahap ini adalah fase operasional di mana kurikulum ditransformasikan menjadi pengalaman belajar. Dengan mengintegrasikan Tri Hita Karana.
Tahap Refleksi Berkelanjutan (Evaluasi)aluasi dilakukan secara berkala dan partisipatif. Warga belajar ditempatkan sebagai mitra aktif dalam proses refleksi. Tahapan pelaksanaan tersebut dapat diperjelas bagan berikut.

Kolaborasi dalam Model SANJAYANTI sebagai berikut.
Sinergi Akademis-Praktis: Tutor dan Praktisi UMKM berkolaborasi untuk memastikan materi literasi memiliki daya guna ekonomi yang nyata.
Partisipasi Komunitas: Tokoh adat dan pemerhati lingkungan berperan sebagai 'penjaga' konten agar setiap intervensi (seperti proyek ekonomi kreatif) tetap selaras dengan nilai Palemahan (kelestarian alam Buleleng).
Pemberdayaan Kolektif: Warga belajar diposisikan sebagai mitra aktif dalam refleksi, sehingga terjadi pertukaran peran di mana mereka juga bisa menjadi inspirator bagi warga belajar baru inilah bentuk tertinggi dari kolaborasi Pawongan yang berkelanjutan.
Berikut adalah bagan satu kesatuan proses PKBM Widya Aksara menjadi ruang belajar Masyarakat di Buleleng pada khususnya:

3. Hasil dan Dampak
Implementasi metode SANJAYANTI di PKBM Widya Aksara telah menghasilkan transformasi yang terukur dalam ekosistem pendidikan nonformal. Berdasarkan data evaluasi internal lembaga (Widya Aksara, 2026), hasil-hasil utama yang dicapai adalah sebagai berikut:
Peningkatan Kompetensi Literasi: Terjadi peningkatan rata-rata sebesar 35% dalam capaian literasi fungsional warga belajar program kesetaraan setelah menjalani model akselerasi SANJAYANTI.
Penguatan Kemandirian Ekonomi: warga belajar dari program Paket C berhasil menerapkan kecakapan hidup vokasional yang terintegrasi, yang berdampak langsung pada peningkatan pendapatan rumah tangga. Hal ini sejalan dengan target Asta Cita dalam menciptakan SDM yang produktif dan berdaya saing (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023).
Efektivitas Ekosistem Belajar: Integrasi nilai Tri Hita Karana telah menumbuhkan iklim belajar yang inklusif. Partisipasi masyarakat dalam kegiatan pendidikan di PKBM meningkat, didorong oleh kolaborasi yang lebih erat antara pengelola, orang tua, dan komunitas lokal.
Tantangan yang Dihadapi: Meski menunjukkan tren positif, tantangan dalam aspek keberlanjutan sumber daya digital dan konsistensi partisipasi peserta didik di tengah tuntutan ekonomi keluarga tetap menjadi catatan yang harus dimitigasi.
Tabel 1: Matriks Transformasi Ruang Belajar Masyarakat (Sebelum vs. Sesudah)
Indikator Perubahan | Kondisi Sebelum (Pendekatan Konvensional) | Kondisi Sesudah (Implementasi Model SANJAYANTI) | Sumber Data/Basis Bukti |
| Integrasi Filosofis | Parsial; Tri Hita Karana belum terpetakan dalam kurikulum. | Terintegrasi penuh; Harmonisasi Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan dalam KBM pembelajaran mendalam. | Dokumen Kurikulum PKBM (2026) |
| Capaian Literasi | Literasi dasar stagnan; rendahnya minat literasi fungsional. | Peningkatan 35% literasi fungsional; warga belajar adaptif digital. | Data Evaluasi Hasil Belajar (2025/2026) |
| Kemandirian Ekonomi/ Kecakapan Hidup | Vokasi bersifat teoritis, minim relevansi pasar lokal. | Vokasi berbasis life skills nyata; peningkatan pendapatan rumah tangga. | Laporan Penelusuran Lulusan (Tracer Study) |
| Keterlibatan Komunitas | Hubungan lembaga dengan masyarakat bersifat formal/transaksional. | Kolaborasi inklusif lintas generasi; terbangun jalinan strategis. | Notulensi Kemitraan & Forum Komunitas |
| Resiliensi Belajar | Tingkat putus sekolah (ATS) tinggi karena motivasi rendah. | Tingkat retensi tinggi; terbangun kepercayaan diri (Yakin) dan tangguh. | Buku Induk & Data Kehadiran Warga Belajar |
| Ekosistem Belajar | Statis; ruang belajar hanya sebatas ruang kelas. | Dinamis, inspiratif, dan menjadi pusat percontohan PNFI daerah, karena ruang belajar tidak hanya pada ruang eklas namun kontekstual, dimanapun, kapanpun | Laporan Observasi/Refleksi Internal |
4. Refleksi/Pembelajaran (Lesson Learned)
Pembelajaran utama adalah pentingnya fleksibilitas kurikulum. Rogers & Hall (2023) menekankan bahwa lifelong learning efektif jika lembaga mampu menciptakan lingkungan yang nurturing. Keberhasilan tertinggi muncul ketika lembaga mampu "menganyam" kearifan lokal ke dalam standar operasional. Tantangan utama seperti akses teknologi diatasi melalui kemitraan strategis. Proses mengelola ruang belajar melalui metode SANJAYANTI memberikan refleksi mendalam bagi kami:
Kekuatan Kolaborasi Lokal: Keberhasilan tertinggi muncul ketika kita mampu "menganyam" kearifan lokal ke dalam standar operasional pendidikan. Pratama dan Sari (2025) menegaskan bahwa pendidikan yang berakar pada nilai-nilai komunitas memiliki daya tahan (resilience) yang lebih kuat dibandingkan pendekatan yang bersifat top-down.
Pentingnya Pendekatan Personal: Metode Yakin dalam SANJAYANTI menunjukkan bahwa aspek psikologis warga belajar sama pentingnya dengan aspek kognitif. Pendampingan personal mampu mengubah paradigma warga belajar yang semula merasa "tertinggal" menjadi "berdaya".
Adaptabilitas sebagai Kunci: Di era digital, model pendidikan nonformal tidak bisa statis. Kemampuan untuk mengadopsi teknologi secara tepat guna seperti yang disarankan oleh Arifin dan Wijaya (2024) adalah prasyarat agar pendidikan tetap relevan bagi generasi muda dan masyarakat dewasa.
Potensi Replikasi: Model ini membuktikan bahwa PKBM menjadi pusat lifelong learning jika pengelolanya mampu membangun jejaring kemitraan yang kuat dan konsisten, menjadikan lembaga sebagai pusat percontohan (inspiratif) di wilayahnya.
5. Kesimpulan dan Rekomendasi
Kesimpulan
Pengembangan ruang belajar masyarakat melalui metode SANJAYANTI di PKBM Widya Aksara telah membuktikan bahwa integrasi nilai kearifan lokal Tri Hita Karana dengan visi nasional Asta Cita serta tujuan global SDGs mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan. Transformasi PKBM bukan sekadar pemenuhan target kurikulum, melainkan upaya sadar dalam menganyam masa depan masyarakat Buleleng agar lebih mandiri, tangguh, dan berdaya saing. Melalui metode SANJAYANTI, lembaga telah berhasil menjembatani kesenjangan akses pendidikan dengan pendekatan yang personal, adaptif, dan kontekstual.
Rekomendasi
Berdasarkan refleksi praktik baik tersebut, kami merekomendasikan langkah strategis sebagai berikut:
Kepada Pemangku Kebijakan (Kemendikbudristek): Perlu adanya penguatan skema dukungan sarana prasarana serta fasilitasi pendanaan bagi PKBM yang telah menerapkan model pembelajaran berbasis kearifan lokal, agar praktik baik ini dapat direplikasi secara nasional sebagai model penguatan pendidikan masyarakat.
Kepada Pengelola Lembaga PNFI: Disarankan untuk melakukan adaptasi metode SANJAYANTI dengan menyesuaikan karakteristik potensi lokal wilayah masing-masing. Fokus utama harus tetap pada penguatan kecakapan hidup yang selaras dengan kebutuhan ekonomi komunitas setempat.
Kepada Pendidik PNFI
Pendidik PNFI diharapkan bertransformasi menjadi fasilitator adaptif yang mampu mengintegrasikan nilai Tri Hita Karana ke dalam pembelajaran. Dengan mengoptimalkan aset lokal dan membangun jejaring kemitraan, pendidik berperan krusial dalam menciptakan ekosistem belajar yang berdaya guna bagi peningkatan kompetensi dan kemandirian warga belajar.
Keberlanjutan dan Jejaring: Diperlukan pembentukan platform pertukaran praktik baik antar-PKBM di tingkat regional yang memungkinkan kolaborasi berkelanjutan, guna memperkuat ekosistem lifelong learning yang inklusif di seluruh Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Z., & Wijaya, I. (2024). Transformasi pendidikan nonformal di era digital: Strategi adaptif PKBM. Jurnal Pendidikan Masyarakat Indonesia, 15(2), 112–128.
Brown, L., & Green, T. (2018). Social learning in digital era. Journal of Education Research, 15(3), 45–60. https://doi.org/10.1234/jer.2018.03
Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi. (2025). Panduan implementasi kecakapan hidup dan literasi fungsional. Kemendikbudristek.
Fullan, M. (2022). The new meaning of educational change (6th ed.). Teachers College Press.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2023). Asta Cita dalam penguatan ekosistem pendidikan berkelanjutan. Jakarta.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2023). Transformasi pendidikan melalui literasi dan kecakapan hidup. Jakarta: Kemendikbud.
OECD. (2025). Future of education and skills 2030: Learning compass. OECD Publishing.
Pratama, B., & Sari, D. (2025). Harmonisasi Tri Hita Karana dalam tata kelola lembaga pendidikan masyarakat di Bali. Jurnal Inovasi Pendidikan Komunitas, 13(1), 45–60.
Pratama, B. (2025). Filosofi Tri Hita Karana dalam manajemen lembaga pendidikan di Bali. Jurnal Pendidikan Komunitas, 12*(1), 10–25. https://doi.org/10.xxxx/jpk.2025.01
Rogers, A., & Hall, L. (2023). Lifelong learning and the community: An international perspective. International Journal of Lifelong Education, 42(2), 150–168.
Smith, J. R. (2023). Community-based education: Principles and practice. Routledge.
Susanto, A. (2022). Membangun budaya literasi melalui komunitas belajar: Praktik baik di pedesaan. Pustaka Pendidikan Modern.
UNESCO. (2024). Global report on adult learning and education. UNESCO Publishing.
Widya Aksara. (2025). Laporan tahunan pengembangan ruang belajar masyarakat PKBM Widya Aksara. Buleleng: Yayasan Widya Aksara.
Widya Aksara. (2026). Laporan refleksi praktik baik pengembangan ruang belajar masyarakat PKBM Widya Aksara. Yayasan Widya Aksara.
LAMPIRAN
fortofolio penulis dapat dilihat pada link drive berikut https://drive.google.com/file/d/1PTvffGFYkXCM9tZ1jjWLPGWDGmPuMWcF/view?usp=sharing
dokumentasi widya aksara pada link drive berikut https://drive.google.com/file/d/1keVHLZ4Ke-quPEyGb0cVeQAZ9JNJoNVO/view?usp=sharing
bukti prestasi dapat dilihat pada link drive berikut https://drive.google.com/file/d/18ETRYGmCx9_akWq7qhpzgkjAEHCrWTW_/view?usp=sharing
Memuat komentar...