ABSTRAK
Penelitian ini dilaksanakan di SMKN 1 Omben, Jenis penelitian yaitu Penelitian Tindakan Kelas. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X DKV 1 yang berjumlah 37 orang siswa terdiri dari 17 laki- laki dan 20 perempuan, Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar sketsa, melalui motode demonstrasi dan latihan. Berdasarkan hasil observasi awal yang di temukan oleh peneliti, masih rendahnya hasil belajar sketsa siswa. Peneliti melakukan pre test untuk mengetahui kondisi awal sebelum dilaksanakannya tindakan persiklus. Hasil pre test menunjukkan masih rendahnya ketuntasan belajar siswa, dari 37 orang siswa hanya 7 orang siswa (19,4%) yang tuntas dalam pembelajaran sketsa. Penelitian ini menggunakan motode pembelajaran demonstrasi dan latihan. Pada siklus I diperoleh 24 orang siswa (66,7%) yang tuntas dan 12 orang siswa (33,3%) yang tidak tuntas. Dengan begitu, peneliti melanjutkan ke siklus II dengan perolehan 35 orang siswa (97,2%) yang tuntas dan 1 orang siswa (2,8%) tidak tuntas dalam pembelajaran sketsa. Terdapat peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 30,5%, maka peneliti tidak melanjutkan ke siklus berikutnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan motode pembelajaran demonstrasi dan latihan dapat meningkatkan kemampuan belajar sketsa pada siswa kelas X DKV di SMKN 1 Omben Tahun Pembelajaran 2024/2025.
Kata Kunci: hasil belajar, sketsa, demonstrasi, latihan.
PENDAHULUAN
Dunia pendidikan saat ini dapat dipengaruhi oleh pesatnya perkembangan zaman. Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) merupakan jurusan baru di dunia pendidikan untuk mengikuti kemajuan perkembangan zaman. Pada jurusan Desain komunikasi Visual (DKV) akan terus–menerus menghadapi perkembangan namun tidak lepas dari yang namanya menggambar. Salah satu dasar pembelajaran pada bidang Desain Komunikasi Visual (DKV) untuk melatih kemampuan atau kreatifitas siswa dalam menggambar adalah mata pelajaran sketsa. Sketsa adalah rancangan awal yang sangat mempengaruhi hasil desain komunikasi visual. Di SMKN 1 Omben tepatnya pada jurusan DKV tidak menerapkan seleksi ujian keterampilan dalam menggambar. sehingga siswa yang mengambil jurusan DKV merasa awam dengan hal–hal yang berkaitan dalam bidang menggambar karena yang mereka pahami hanyalah mengoprasikan komputer. Padahal itu adalah syarat dasar ketentuan yang seharusnya dilaksanakan. Dengan begitu saya harus ekstra kerja keras untuk membangun kemampuan siswa dalam menggambar sketsa. Daripada itu saya harus mempersiapakan metode pembelajaran yang tepat untuk disajikan kepada para siswa. Metode pembelajaran yang baik adalah metode yang mampu membawa siswa untuk mencapai suatu tujuan pendidikan, melatih atau mengambangkan kemampuan, kreatifitas siswa dalam berbagai kegiatan. Namun fakta-fakta yang ditemukan dilapangan dalam peoses pembelajaran pada masih menggunakan cara-cara konvensional. Walaupun demikian, terkadang metode konvensional kiranya bisa mendukung metode lainnya. Berkenaan pada proses pembelajaran yang masih konvensional, maka diperlukan metode pembelajaran untuk mengatasi masalah-masalah tersebut yang dapat meningkatkan kualitas pada karya sketsa siswa, salah satunya yaitu dengan menerapkan metode demonstrasi dan metode latihan. Metode demonstrasi ialah cara pembelajaran dengan menunjukkan proses menggambar sketsa yang baik, sekiranya akan diperagakan oleh peneliti yang bekerja sama dengan guru, didukung dengan metode latihan dengan cara latihan yang berulang-ulang untuk melatih kemampuan siswa dalam menggambar sketsa, dimana dengan latihan berulang-ulang akan membuat siswa terbiasa dalam menggambar sketsa. Dari hasil observasi awal ditemukan beberapa penyebab kesulitan siswa kelas X DKV dalam proses pembelajaran sketsa ialah aktifivitas belajar masih berpusat kepada guru membuat proses pembelajaran menjadi monoton, ketersediaan buku-buku pembelajaran sketsa tidak memadai hingga membuat guru terkadang kewalahan dalam proses pembelajaran. Hal ini mengakibatkan siswa kelas X DKV mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran sketsa. Di sisi lain, mengingat alokasi waktu yang tersedia hanya 2 x 45 menit bagi siswa kelas X DKV belum memenuhi standar untuk mencapai ketuntasan belajarnya.
KAJIAN TEORI
1. Hasil Belajar Belajar adalah proses dalam diri individu yang berinteraksi dengan lingkungan untuk mendapatkan perubahan yang menghasilkan sesuatu yang baru. Sudjana (2004 : 22) menyatakan, “hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar”. Hasil belajar sebagai salah satu indikator pencapaian tujuan pembelajaran di kelas tidak terlepas dari faktor-faktor mempengaruhi hasil belajar itu sendiri.
2. Sketsa yang Sebuah sketsa biasanya berupa gambar cepat dan ringan. Sketsa sangat erat kaitannya dengan seni menggambar, melukis dan merancang sebuah karya seni. Sketsa merupakan bentuk latihan yang sangat bagus untuk melatih keterampilan tangan dalam menggambar atau merancang sebuah desain. Menyekets bukan sekedar memakai mata saja tetapi harus menggunakan rasa, pikiran, dan memutuskan, dengan demikian menjadi total. Menurut Azmi (2016 : 6) berpendapat bahwa “menyekets merupakan sebuah pembelajaran kreativitas untuk mampu memberi aksi dan reaksi terhadap sebuah peristiwa kehidupan , untuk dapat memaknai dan bersyukur atas karunia dan nikmat yang dianugerahkan sang pencipta untuk umatnya”. Sketsa (sket) adalah suatu rancangan kasar yang dinominasi oleh tarikan garis-garis yang spontan dan tepat. Sketsa merupakan bentuk latihan yang sangat bagus dalam merancang sebuah karya seni rupa dan desain. Mordiyan ginting, (1985) dalam Azmi (2016 : 67) mengatakan bahwa, “dalam penggunaan sketsa ada yang beranggapan bahwa sketsa ialah perencanaan untuk diteruskan menjadi suatu bentuk gambar atau lukisan. Maka sketsa hanyalah suatu gambar rencana”. Sketsa hanyalah merupakan gambar sketsa rancangan, namun karena perkembangan zaman dari seni rupa, sketsa kemuadian diakui sebagai satu bentuk seni rupa yang berdiri sendiri. Adapun sketsa memotivasi ketajaman rasa / intuisi dari aktivitas kreativitas, mengamati, menghayati dan merasakan kedekatan dengan objek. Menurut Prawoto ( 2015 : 16 ), “Sketsa adalah ungkapan terdalam yang spontanitas dan ekspresi sebagai pencitraan objek dari pengamatan atas penghayatan”. Sketsa juga memiliki seniman-seniman hebat dari dalam negeri maupun mancanegara. Salah satuh seniman sketsa dalamnegeri adalah Ipe Ma’aroef yang bernama lengkap Ismet Pasha Ma’aroef. ”. Dalam proses berkarya sketsa, Ipe Ma’aroef mengungkapkan kesederhanaan hanya dengan goresan garis yang mampu berbicara banyak tentang objek. Amran Eko Prawoto juga seorang seniman yang memiliki karya sketsa yang cukup bagus. Menurut Prawoto (2015 : 56), “sketsa merupakan bentuk ekspresi dalam menyampaikan pengalaman dan memberi pengamatan, melalui garis untuk mengungkapkan atas objeknya dalam Bahasa sketsa”. Agus koecink adalah seniman sketsa yang garis-garis sketsanya cukup sederhana tetapi menyiratkan kelincahan dalam ungkapan bentuk yang sederhana, maupun mengungkapan imajinasi terhadap eksistensi dari keberadaan sebuah karya seni rupa yang merujuk pada pemaknaan sebagai transformasi ungkapan dalam mewujudkan manifestasi dari narasi dan pengalaman. Hamid nabhan adalah seorang perupa yang dapat menggugah sendiri perasaannya berkarya sketsa, sekaligus juga ia juga sanggup menggugah perasaan orang lain sebagai penikmat sketsa. Dalam sketsa garis menjadi unsur utama, kekuatan garis mampu untuk mengungkapkan ekspresi yang terdalam dan spontan dan berfunsi untuk memunculkan identitas dari sebuah ungkapan. Garis memiliki karakter sebagai bahasa rupa. Garis memiliki kekuatan goresan, goresan garis yang sudah memiliki makna estetis inilah yang disebut sebagai sebuah: Sketsa. Menurut Azmi (2016 : 32), ’garis merupakan ungkapan yang paling hakiki, memiliki peranan dalam ungkapan rupa, memberi ekspresi dengan konsep nilai artistik”. Pada menggambar sebuah sketsa, bidang termaksud di dalam unsur-unsur sketsa, yang terhubung garis-garis satu sama lain. Bentuk adalah pepotongan bidang dengan bidang lainnya yang menghasilkan bentuk. Warna terkadang juga terdapat pada karya sketsa. Membuat sebuah gambar sketsa juga bisa menggunakan pensil / pena warna, pensil / pena berwarna juga dapat mendukung semua gambar sketsa agar terlihat lebih menarik.
3. Metode Demonstrasi Proses pembelajaran akan lebih semangat jika guru menggunakan metode pembelajaran yang menarik dan bervariasi dalam mengajar. Menurut aminuddin rasyad dalam Ibrahim (2018:77) bahwa, “metode demonstrasi adalah cara pembelajaran dengan memeragakan mempertunjukkan, atau memperlihatkan sesuatu di hadapan siswa di kelas atau di luar kelas”.
4. Metode Latihan (Drill) Metode latihan pada umumnya sama yaitu melatih kemampuan siswa dalam pembelajaran. Menurut Ibrahim (2018 : 79) bahwa, “metode latihan adalah cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Karena metode latihan merupakan suatu teknik mengajar yang mendorong siswa untuk melaksanakan kegiatan latihan atau keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang dipelajari”.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang dipakai pada penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan penelitian praktik, yang bertujuan untuk memperbaiki kekurangan- kekurangan dalam pembelajaran di kelas dengan cara melakukan tindakan-tindakan tertentu. Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga hasil belajar siswa meningkat”. Jenis penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar sketsa siswa melalui metode demonstrasi dan latihan. Penelitian tindakan kelas memiliki beberapa tahap pelaksanaan tindakan yakni dua siklus dimana setiap siklusnya mempunyai empat tahapan yaitu : 1.Perencanaan, 2.Tindakan, 3.Observasi, dan 4.Refleksi. Melalui tiga siklus untuk melihat peningkatan hasil gambar sketsa siswa dengan metode demonstrasi, akan tetapi jika dalam siklus kedua sudah mencapai hasil yang diinginkan, maka siklus ketiga tidak perlu lagi dilanjutkan. data penelitian yang dikumpulkan melalui tes praktik menggambar sketsa dan mengevaluasi dengan menggunakan metode demonstrasi dan latihan dilakukan untuk mengukur peningkatan hasil belajar sketsa siswa dari tahap nilai terendah hingga nilai tahap tertinggi. Tes praktik ini digunakan di setiap siklus penelitian untuk mengetuahui keberhasilan metode pembelajaran demonstrasi dan latihan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Dalam melakukan tindakan kelas, diperlukan pre test sebelum melakukan tindakan pre test siklus. Data yang ditemukan dalam pre test menunjukkan bahwa masih sedikit siswa yang mampu menggambar sketsa dengan nilai yang memuaskan, bahkan belum ada siswa yang mendapatkan predikat sangat baik, baru 3 orang siswa (8,3%) yang mendapat predikat baik, 21 orang siswa (58,4%) mendapatkan predikat cukup baik dan 5 orang siswa (13,9%) mendapatkan predikat kurang baik. Dengan tingkat ketuntasan belajar masih 19,4%, artinya ketuntasan belajar dikelas masih rendah, karena tingkat ketuntasan belajar belum mencapai 75%. Dengan begitu siswa memerlukan latihan untuk memperoleh nilai maksimal. Bardasarkan tes hasil belajar siswa pada siklus I secara keseluruhan di atas masih tergolong cukup rendah, dapat dianalisis bahwa dari 36 siswa terdapat 25 orang siswa (69,4%) yang mendapat predikat cukup baik dan 11 orang siswa (30,6%) yang mendapat predikat baik. Tingkat ketuntasan belajar masih 66,7%, artinya ketuntasan belajar di kelas masih belum terpenuhi, karena tingkat ketuntasan belajar mencapai 75%. Maka dari hasil tindakan I ini, peneliti menjadi tahu peningkatan kemampuan siswa yang masih kurang memuaskan, maka di perlukan tindakan siklus II. Tes hasil belajar siswa pada siklus II secara keseluruhan bagus, dapat dianalisis bahwa dari 36 siswa terdapat 7 orang siswa (19,4%) yang mendapat predikat cukup baik, 28 orang siswa (77,8%) yang mendapat predikat baik dan 1 orang siswa (2,8%) mendapatkan predikat sangat baik. Terjadi peningkatan hasil belajar post test pada siklus I ke siklus II sebesar 30,5%, dengan ketuntasan mencapai 35 orang siswa (97,2%), maka tidak diperlukan tindakan siklus berikutnya.
2. Pembahasan Metode demonstrasi dan latihan di dalam pembelajaran sketsa yang dilaksanakan peneliti telah terlaksana dengan optimal. Walaupun di dalam pelaksanaannya masih ada siswa yang belum memahami dan mengerti cara menggambar sketsa dengan baik dan benar, hal ini terlihat dari hasil tes kemampuan siswa yang masih belum mencapai nilai yang diharapkan, maka dengan metode demonstrasi dan latihan dapat meningkatkan hasil belajar sketsa di kelas X DKV 1 di SMKN 1 Omben. Hasil penelitian yang diperoleh ialah hasil belajar sketsa pada setiap siklusnya terjadi peningkatan. Nilai pre test diperoleh rata-rata 73,4 dengan jumlah siswa yang tuntas 7 orang siswa (19,4%), hasil pada siklus I diperoleh nilai rata-rata 77,6 dengan jumlah siswa yang tuntas 24 orang siswa (66,7%). Siklus II nilai rata-rata kelas mencapai 82,5, siswa yang mengalami ketuntasan belajar sebanyak 35 orang siswa (97,2%).
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan Penerapan metode demonstrasi memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar sketsa siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa pada mata pelajaran sketsa. Nilai hasil kerja siswa mengalami peningkatan pada setiap siklusnya, hal ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa semakin meningkat secara bertahap sesuai dengan setiap siklus yang dilaksanakan peneliti. Didukung pleh metode latihan (Drill) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menggambar sketsa sehingga karya siswa lebih bagus. Aktivitas belajar siswa pada pembelajaran dengan menggunakan metode latihan (Drill) mengalami penigkatan setiap siklusnya. Nilai rata-rata siswa pada saat pre test sebelum diberikan tindakan sebesar 73,4 dan dinyatakan masih belum tuntas, pada siklus I nilai rata-rata siswa meningkat sebesar 77,6 dengan tingkat ketuntasan belajar 66,7%% yang memiliki hasil nilai cukup baik, dan pada siklus II nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 82,5 dengan tingkat ketuntasan belajar 97,2% yang memiliki hasil nilai yang baik. Jadi dapat disimpulkan secara umum bahwa melalui penguatan hasil belajar menggambar sketsa dapat meningkat dengan menggunakan metode demonstrasi dan latihan.
2. Saran Dalam penelitian tindakan kelas dapat dikemukakan saran-saran dalam rangka perbaikan pada proses pembelajaran. Perhatian dan dukungan dari kepala sekolah terhadap tugas mengajar guru dikelas sangat dibutuhkan. Memberi saran-saran dan motivasi kepada guru untuk membuat dan menggunakan berbagai metode pembelajaran yang diharapkan mempermudah siswa dalam memahami materi pembelajaran. Guru diharapkan lebih teliti menentukan pemilihan metode pembelajaran dan mampu menggunakan cara atau strategi lain dalam belajar seperti penggunaan media dan senantiasa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan , yang membuat siswa terbebas dari rasa jenuh dan bosan sehingga siswa lebih percaya diri dan untuk menumbuhkan rasa antusias belajar siswa, ide-ide siswa yang lebih berkembang.
DAFTAR RUJUKAN
Azmi. (2016). Gedung-Gedung Bersejarah di Medan dalam Sketsa. Medan: Unimed Press.
Ibrahim, Anam dan Budiwiwaramulja, Dwi. (2018). Strategi Pembelajaran Seni Rupa. Medan: Unimed Press.
Prawoto, Amran Eko. (2015). Bersama IPE MA’AROEF Sang Empuh Sketser Menelusurin Kota Surabaya. Surabaya: Nabhan Galeri.
Sudjana, Nana. (2009). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.