GURU YANG GURU
Suwarsono
Lejitan teknologi akhir-akhir ini demikian melesat-mengedepan hingga hiruk-pikuknya menggema menyelusupi segenap sisi dan sendi kehidupan. Tak mengecualikan dunia pendidikan dengan pembelajarannya. Contohnya adalah dengan adanya pelajaran koding, pembelajaran berbasis kecerdasan buatan, dan sebagainya. Tentu semua itu membanggakan mengingat kemajuan jaman memang harus diantisipasi oleh pendidikan. Namun demikian, akan tetap bijaksana sekaligus berkontribusi positif secara nyata bila nilai-nilai filosofis yang selama ini menjadi pijakan sekaligus nafas pendidikan/pembelajaran tetap dipertahankan serta dilestarikan. Di tengah gempuran dinamika implementasi teknologi seperti itu, tidak kemudian serta-merta dan semata bertumpu dengan mengandalkan teknologi tadi. Nah, salah satu filosofi dimaksud adalah filosofi dari kata “guru”.
Kata “guru” dalam bahasa Jawa, merupakan akronim kata gugu yang artinya percaya, patuh, dan tiru yang berarti (di)contoh. Dari sini kemudian muncul pemeo dari kata guru, yakni digugu dan ditiru. Berdasarkan pemeo ini maka secara harfiah kata guru bermakna orang yang (pantas untuk) dipercaya atau dipatuhi serta dijadikan contoh atau ditiru. Hal seperti ini kemudian secara otomatis melekat dalam diri seorang guru.
Dalam dinamika pendidikan/pembelajaran, guru yang digugu dan ditiru sebagaimana pemeo tersebut juga menyiratkan harapan, bahwa sosok guru (diharapkan) bukan hanya mampu dan piawai memberikan penjelasan dan menguraikan kebenaran dari materi-materi ataupun teori-teori keilmuan namun juga bisa menjadi contoh yang bisa ditiru dalam implementasi kebenaran teori serta materi yang dibelajarkannya. Silfia Hanani, sosiolog dari Universitas Andalas, mengatakan bahwa yang terpenting dari seorang guru adalah keteladanan. Kemampuan guru akan menjadi teladan yang baik bagi peserta didik. Hal ini menyiratkan pula pentingnya seorang guru di samping memiliki kompetensi keilmuan, juga bisa menjadi contoh akan kebenaran hingga kemanfaatan ilmu yang diajarkannya itu bagi kehidupan siswa-siswinya.
Secara lebih spesifik dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia, misalnya, makna digugu dan ditiru juga menjadi satu hal yang secara otomatis melekat dalam diri guru. Sebagai pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia, figur guru akan menjadi panutan sekaligus contoh bagi siswa-siswinya dalam hal kebahasa-indonesiaan; baik kebahasaan maupun kesusastraan. Merujuk pada empat ranah kompetensi yang harus dikuasai (oleh siswa) yakni ranah menyimak, berbicara dan mempresentasikan, membaca dan memirsa, serta menulis, maka seorang guru Bahasa Indonesia sepatutnya harus pula mampu menjadi yang digugu dan ditiru dalam hal keempat ranah tersebut.
Dari keempat ranah tersebut, konon menulis (dianggap) sebagai kompetensi yang paling tinggi kadarnya sekaligus paling sulit penguasaannya. Ada beragam faktor yang berkontribusi melahirkan kondisi seperti ini. Misalnya kompleksitas dalam kegiatan menulis yang menyangkut ranah kebahasaan, wawasan dan pengetahuan terkait topik, hingga menuangkannya dalam teks yang komunikatif. Dalam konteks ini Mulyati (Supriyadi, 2023:142), menyatakan bahwa menulis sebagai keterampilan yang bersifat aktif-produktif, merupakan keterampilan berbahasa yang paling sulit dibandingkan dengan keterampilan bahasa lainnya, karena dalam menulis tidak hanya sekedar menyalin kata atau kalimat, melainkan mengembangkan ide, gagasan, dan pikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan.
Berpijak pada ranah menulis yang sepeti itu, maka salah satu ikhtiar sebagai pendorong dalam menyikapinya adalah dengan menjadikan sosok guru itu sendiri sebagai kanalnya.
Guru yang Guru dalam Pembelajaran Menulis

Tanpa menafikan faktor yang memicu kurang diminati atau tidak disukainya pembelajaran menulis oleh siswa, yang kemudian menurunkan motivasi mereka, maka guru dapat menjadikan dirinya sebagai salah satu jalur solusi.
Guru sebagai fasilitator pembelajaran tentulah sudah memiliki kompetensi serta wawasan keilmuan yang memadai sehingga selaksa teori tentang bahasa (juga sastra) telah dikuasainya. Dengan kompetensi yang demikian ini maka sederet teori dan ilmu terkait bahasa atau sastra yang digariskan kurikulum atau silabus mata pelajaran, dengan mudah dapat dipapar-jelaskan pada siswa-siswinya. Dari sisi ini boleh dikata, tak ada masalah sehingga peserta didik dengan mudah menyerap setiap kaidah, atau teori dalam setiap materi yang dipelajari dan difasilitasi oleh guru. Dengan asumsi yang seperti ini (dimana proses pentransferan ilmu dan pengetahuan berjalan sesuai harapan), maka penting bagi guru untuk memberikan bukti pada peserta didik terkait materi-materi pembelajaran yang disampaikannya. Guru dapat menunjukkan contoh kalimat yang baik, diksi yang menarik, paragraf yang apik, dalam wujud wacana atau karangan secara nyata.
Guru bukan hanya memfasilitasi pembelajaran tentang teori ataupun materi saja. Dalam konteks pembelajaran menulis, perlu dikondisi-pastikan juga bahwa peserta didik mampu menerapkan materi atau teori-teori yang telah dipelajari. Pada tataran ini biasanya permasalahan itu mengemuka. Tidak sedikit siswa yang kemudian menjadi lesu, tak bernafsu, bahkan menjadi mati kutu karena merasa tidak mampu. Di situasi kondisi seperti inilah guru sebagai figur yang saban hari berinteraksi, yang setiap kali memfasilitasi pembelajaran dapat tampil menjadi model atau contoh nyata dengan cara menunjukkan tulisan yang pernah dibuat kepada peserta didiknya. Karya tulis yang ditunjukkan merupakan bukti bahwa menulis itu tidak sesulit yang mereka bayangkan, bahwa menulis itu tidak serumit yang mereka takutkan. Ikhtiar seperti ini dapat membangkitkan motivasi serta animo mereka.
Lebih intens sekaligus efektif lagi pengaruh motivatifnya jika tulisan yang dibuat guru itu pernah dimuat di media massa, atau dipublikasikan dalam forum ilmiah. Ketika ada tulisan yang demikian maka tak berlebihan bila “dipamerkan” di depan kelas. Tujuannya bukanlah untuk pamer namun hanya sebagai ‘bukti’ sekaligus media motivasi bahwa sederet teori yang dibelajarkan kepada mereka ada bukti dan manfaatnya. Pengalaman empiris penulis menunjukkan, upaya seperti ini terbukti mampu merangsang hingga memicu semangat siswa untuk (berani) menulis. Terlebih lagi ketika dalam ‘menunjukkannya’ di depan kelas dibarengi dengan ulasan atau cerita terkait tulisan tersebut. Misalnya, latar belakang tulisan, proses kreatifnya, cara mengirimkan ke redaksi, bahkan hingga seberapa besar honorarium yang diterima dari hasil menulis tersebut.
Berdasarkan pengalaman, langkah seperti itu mampu menginspirasi siswa untuk berkegiatan menulis, untuk menuangkan gagasan atau perasaannya dalam rangkaian kata, kalimat, atau paragraf. Pada gilirannya, selalu ada siswa yang kemudian datang mengonsultasikan tulisannya, baik berbentuk artikel sederhana, sebatas cerita, ataupun sekumpulan puisi karyanya. Kesempatan seperti ini penulis manfaatkan untuk memberikan bimbingan, melakukan koreksi dan penekanan sehingga potensi dan kompetensi mereka terasah perlahan. Kemudian dalam beberapa waktu berselang, tak jarang muncul hasil tulisan mereka yang dimuat di media massa lokal (Pikiran Rakyat, Bandung), ada pula di media online, puisi yang diterbitkan bersama penulis puisi lainnya, bahkan pernah karya puisi siswa dimuat di Majalah Sastra Horison. Ada juga yang mencoba bekerja sama untuk menerbitkan karya puisinya secara kolaborasi dengan pihak luar. Dan di saat fase seperti ini telah terjadi maka penulis manfaatkan untuk memotivasi siswa lainnya dengan cara memberi kesempatan pada siswa yang tulisannya dipublikasikan untuk bercerita di depan kelas tentang tulisannya tersebut. Misalnya, dari mana inspirasi idenya, bagaimana proses kreatifnya, kendala yang dialami, langkah atau cara dia mengirimkan karyanya itu, hingga bagaimana dia menerima ‘uang lelah’ nya. Dinamika di depan kelas yang seperti ini, berpengaruh kuat pada bangkitnya motivasi sekaligus tereliminasinya perasaan kekurangmampuan mereka dalam menulis.
Begitulah guru yang “guru”, yang tidak hanya digugu namun sekaligus juga pantas ditiru peserta didik. Guru yang “guru” pun akan menajamkan kompetensi menulis, sehingga menambah kepercayadirian dan keprofesionalan sekalgus terhindar dari “Guru Omdo” (omong doang) yang hanya piawai berteori menjelaskan materi-materi namun tak bisa menjadi bukti dengan karya sendiri.
Nah, sudahkan kita menjadi guru yang “guru”?
Pustaka:
Supriadi. (2023). Pembelajaran Menulis Bahasa Indonesia: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Penerbit Buku Pendidikan.
(http://edukasi.kompas.com/read/2011/05/23/14195890/kuncinya.guru.digugu.dan.ditiru.)