CERIA: Challenge Eksplorasi Rempah Interaktif Berbasis Game dan QR Code untuk Asah Nalar Kritis Siswa - Guruinovatif.id

Diterbitkan 05 Mei 2026

CERIA: Challenge Eksplorasi Rempah Interaktif Berbasis Game dan QR Code untuk Asah Nalar Kritis Siswa

CERIA adalah inovasi pembelajaran berbasis kearifan lokal yang memadukan eksplorasi rempah Nusantara, game edukatif, QR Code, proyek kreatif, dan refleksi 4F untuk mengasah nalar kritis, kolaborasi, literasi digital, serta kecintaan siswa terhadap budaya Indonesia.

Metode Mengajar

Nurul Fitria, S.Si

Kunjungi Profile
7x
Bagikan

Di tengah perkembangan zaman yang serba cepat, peserta didik semakin akrab dengan teknologi, makanan instan, dan berbagai hal yang praktis. Mereka mudah mencari informasi melalui gawai, tetapi belum tentu mengenal kekayaan lokal yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah rempah-rempah Nusantara.

Saya menemukan bahwa sebagian siswa lebih mengenal bumbu instan dibandingkan rempah asli seperti jahe, kunyit, kencur, lengkuas, serai, cengkeh, kayu manis, dan pala. Beberapa siswa masih kesulitan membedakan rempah yang bentuknya mirip. Ada yang mengira lengkuas adalah jahe, ada pula yang belum mengetahui manfaat kunyit, serai, atau kayu manis bagi kesehatan.

Padahal, rempah bukan sekadar bumbu dapur. Rempah adalah bagian dari sejarah, budaya, kesehatan, ekonomi, dan identitas bangsa. Dari rempah, peserta didik dapat belajar sains, literasi budaya, komunikasi, kolaborasi, hingga kreativitas. Kondisi inilah yang mendorong saya menghadirkan inovasi pembelajaran bernama CERIA, akronim dari Challenge Eksplorasi Rempah Interaktif untuk Asah Nalar Kritis.

CERIA saya kembangkan sebagai inovasi pembelajaran berbasis kearifan lokal yang memadukan eksplorasi langsung, game edukatif, QR Code, proyek kreatif, dan refleksi. Melalui CERIA, saya ingin menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya membuat siswa mengetahui materi, tetapi juga mengalami, mengamati, bertanya, membandingkan, berdiskusi, mencipta, dan merefleksikan.

Inovasi ini saya terapkan pada peserta didik kelas VII SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta dalam pembelajaran bertema kearifan lokal. Tujuan utamanya adalah mengasah nalar kritis siswa melalui pengalaman belajar yang kontekstual, interaktif, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan nyata.

Gagasan CERIA lahir dari kegelisahan sederhana. Saya melihat adanya jarak antara peserta didik dengan kekayaan budaya lokal. Rempah-rempah yang sebenarnya dekat dengan dapur rumah, makanan tradisional, jamu, dan lingkungan sekitar justru kurang dikenal oleh siswa. Pembelajaran tentang kearifan lokal juga sering kali masih berhenti pada teori. Siswa membaca, mendengar penjelasan guru, lalu mengerjakan tugas. Cara seperti ini belum cukup untuk membangun rasa ingin tahu dan nalar kritis.

Dari kondisi tersebut, saya merancang CERIA sebagai pembelajaran yang menggabungkan unsur tantangan, eksplorasi, permainan, teknologi sederhana, proyek, dan refleksi. Kata CERIA juga mencerminkan suasana belajar yang ingin saya hadirkan, yaitu aktif, menyenangkan, penuh tantangan, dan bermakna.

Kebaruan CERIA terletak pada cara mengemas rempah sebagai media belajar lintas kompetensi. Rempah tidak hanya diperkenalkan melalui penjelasan guru, tetapi dijadikan objek eksplorasi langsung yang dipadukan dengan teknologi dan permainan.

Pertama, siswa belajar melalui POS Rempah. POS Rempah merupakan area eksplorasi yang berisi berbagai jenis rempah asli. Di pos ini, siswa mengamati warna, bentuk, tekstur, aroma, dan ciri khas setiap rempah. Mereka belajar membedakan jahe, kunyit, kencur, dan lengkuas melalui pengalaman langsung, bukan sekadar melihat gambar.

Kedua, siswa belajar melalui game edukatif seperti boardgame, spin rempah, kuis, dan tantangan identifikasi. Permainan ini dirancang untuk melatih siswa berpikir kritis, bekerja sama, mengambil keputusan, dan menyampaikan alasan atas jawaban yang mereka pilih.

Ketiga, siswa menggunakan QR Code interaktif. Setiap rempah dilengkapi QR Code yang dapat dipindai untuk mengakses informasi tentang asal-usul, manfaat kesehatan, kandungan, dan penggunaan rempah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara ini, teknologi digunakan sebagai alat belajar yang sederhana, menarik, dan tepat guna.

Keempat, siswa mengembangkan proyek kreatif berbasis rempah. Mereka memilih rempah yang ingin dipelajari lebih dalam, membuat laporan atau produk sederhana, lalu mempresentasikan hasilnya. Proyek ini memberi ruang kepada siswa untuk memiliki suara, pilihan, dan tanggung jawab terhadap proses belajarnya.

Kelima, siswa melakukan refleksi 4F, yaitu Fact, Feeling, Finding, dan Future. Refleksi ini membantu siswa memahami apa yang mereka alami, apa yang mereka rasakan, apa yang mereka temukan, dan bagaimana mereka akan menerapkan pengalaman belajar tersebut ke depan.

Pelaksanaan CERIA saya rancang melalui tiga tahap utama, yaitu memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan. Pada tahap memahami, saya menyiapkan POS Rempah di kelas. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Mereka mengunjungi pos, mengamati berbagai rempah, mencium aromanya, meraba teksturnya, membandingkan bentuknya, dan mencatat hasil pengamatan pada lembar kerja.

Pada tahap mengaplikasikan, siswa mengikuti game edukatif berupa boardgame, spin rempah, kuis, dan tantangan eksplorasi. Misalnya, siswa diminta menebak nama rempah berdasarkan aroma, menghubungkan rempah dengan manfaatnya, atau menjelaskan penggunaan rempah dalam makanan tradisional. Diskusi kelompok menjadi lebih hidup karena siswa saling bertanya, berpendapat, dan mencari alasan yang paling tepat.

QR Code menjadi bagian penting dalam tahap ini. Ketika siswa memindai kode pada rempah tertentu, mereka menemukan informasi tambahan yang dapat digunakan untuk menjawab tantangan. Di sinilah literasi digital siswa berkembang. Mereka belajar bahwa gawai bukan hanya alat hiburan, tetapi juga dapat menjadi sumber belajar yang bermanfaat jika digunakan dengan tepat.

Selanjutnya, siswa membuat proyek sederhana berbasis rempah. Mereka diberi kesempatan memilih jenis rempah yang ingin dipelajari lebih dalam, menentukan bentuk karya, lalu mempresentasikannya. Proses ini menerapkan prinsip Voice, Choice, dan Ownership. Siswa memiliki ruang untuk menyampaikan ide, memilih bentuk karya, dan bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya.

Pada tahap merefleksikan, siswa menuliskan pengalaman belajarnya menggunakan model 4F. Mereka menuliskan fakta kegiatan yang dialami, perasaan selama mengikuti pembelajaran, temuan baru yang diperoleh, dan rencana ke depan. Sebagai puncak kegiatan, dilaksanakan selebrasi karya. Siswa mempresentasikan hasil eksplorasi dan produk olahan rempah, seperti makanan atau minuman khas berbahan rempah.

Dampak CERIA terlihat dari perubahan pemahaman, sikap, dan keterampilan siswa. Sebelum program dilaksanakan, saya melakukan pra-survei sederhana terhadap 30 siswa. Hasilnya, hanya sekitar 35% siswa yang mampu membedakan rempah seperti kunyit, jahe, dan lengkuas dengan benar. Selain itu, hanya sekitar 25% siswa yang mengetahui manfaat rempah bagi kesehatan.

Setelah CERIA diterapkan, terjadi peningkatan yang signifikan. Sekitar 90% siswa mampu mengenali rempah secara akurat, dan 85% siswa mampu menjelaskan manfaat serta penggunaan rempah dalam kehidupan sehari-hari.

Selain peningkatan pengetahuan, CERIA juga berdampak pada keterampilan abad ke-21. Siswa menjadi lebih aktif bertanya, lebih percaya diri saat presentasi, lebih mampu bekerja sama dalam kelompok, dan lebih berani menyampaikan pendapat. Nalar kritis mereka terlihat ketika membandingkan ciri-ciri rempah, mengevaluasi informasi dari QR Code, dan menghubungkan rempah dengan budaya, kesehatan, serta kehidupan sehari-hari.

Bagi saya sebagai pendidik, CERIA menjadi pengalaman yang sangat bermakna. Program ini menguatkan keyakinan saya bahwa inovasi pembelajaran tidak selalu harus rumit atau mahal. Inovasi dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa. Melalui CERIA, saya belajar bahwa guru perlu berperan sebagai perancang pengalaman belajar. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi menciptakan suasana yang membuat siswa penasaran, aktif, dan terlibat.

CERIA juga memberikan dampak pada komunitas pendidikan di sekolah. Program ini membuka ruang kolaborasi antara siswa, guru, kepala sekolah, dan orang tua. Dukungan sekolah menjadi faktor penting dalam pelaksanaan kegiatan, mulai dari persiapan media, pelaksanaan eksplorasi, hingga selebrasi karya. Melalui kegiatan ini, sekolah memiliki contoh praktik baik pembelajaran berbasis kearifan lokal yang dapat dikembangkan lebih luas.

Ke depan, CERIA dapat dikembangkan secara berkelanjutan dengan memperkaya informasi pada QR Code, membuat e-portofolio hasil karya siswa, menambah variasi game edukatif, melibatkan guru lintas mata pelajaran, serta mengadakan workshop atau kunjungan edukatif bersama komunitas lokal. CERIA juga dapat direplikasi untuk tema kearifan lokal lain, seperti makanan tradisional, tanaman obat, batik, lingkungan sekolah, budaya daerah, atau potensi lokal sekitar.

Dokumentasi kegiatan CERIA meliputi foto POS Rempah, alat peraga rempah interaktif, boardgame, spin rempah, penggunaan QR Code, aktivitas eksplorasi siswa, presentasi karya, produk olahan rempah, serta refleksi siswa.

Tautan dokumentasi (Praktek baik PM CERIA meliputi Dokumentasi CERIA, Testimoni Siswa, Guru, Kepsek, dan , Modul, LKPD, Barcode Rempah, Sertifikat penghargaan dan Diseminasi atau Pelatihan): https://bit.ly/DokumentasiCERIA. Berikut contoh salah satu testimoni dari siswa, sedangkan testimoni dari Kepala Sekolah, Guru, dan SEA Teacher Filiphina terdapat di https://canva.link/vpnhl8ep3vjnpbm

Testimoni siswa oleh Alya Kelas VII:
“Belajar rempah dengan game membuat saya lebih mudah membedakan jahe, kunyit, dan lengkuas. Saya juga senang karena bisa memindai QR Code untuk mencari informasi sendiri.”

CERIA lahir dari kegelisahan sederhana: bagaimana membuat siswa mengenal kembali kekayaan budaya yang dekat dengan kehidupan mereka, tetapi mulai terlupakan. Melalui eksplorasi rempah, siswa belajar mengamati. Melalui game edukatif, siswa belajar berpikir kritis. Melalui QR Code, siswa belajar memanfaatkan teknologi secara positif. Melalui proyek, siswa belajar berkreasi dan bekerja sama. Melalui refleksi, siswa belajar memaknai pengalaman.

Bagi saya, CERIA membuktikan bahwa inovasi pendidikan dapat dimulai dari hal yang sederhana, dekat, dan nyata. Ketika guru mampu menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan siswa, maka kelas tidak hanya menjadi tempat menerima pelajaran, tetapi juga ruang untuk menemukan makna, membangun karakter, dan menumbuhkan kecintaan terhadap budaya bangsa.

CERIA bukan sekadar pembelajaran tentang rempah. CERIA adalah ikhtiar kecil untuk menghadirkan pendidikan yang berkesadaran, bermakna, menggembirakan, dan berdampak.

#GuruInovatif #Hardiknas2026 #InsanPendidikanBerdampak

0

0

Loading comments...

Memuat komentar...

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis
Klaim Sertifikat & Promo 🎁
Komunitas