RUMAH JOGLO SEBAGAI TEMPAT PEMBELAJARAN UNTUK MEMBANGUN KARAKTER dan MENINGKATKAN LITERASI ANAK USIA DINI DI KB KASIH IBU PLAYEN, GUNUNGKIDUL - Guruinovatif.id

Diterbitkan 05 Mei 2026

RUMAH JOGLO SEBAGAI TEMPAT PEMBELAJARAN UNTUK MEMBANGUN KARAKTER dan MENINGKATKAN LITERASI ANAK USIA DINI DI KB KASIH IBU PLAYEN, GUNUNGKIDUL

Pendidikan karakter pada anak usia dini sangat penting karena masa ini merupakan fase emas (golden age) di mana anak mudah menyerap nilai, sikap, dan kebiasaan dari lingkungannya. Penanaman nilai-nilai seperti nasionalis, relijius, kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan empati sejak dini akan menj

Dunia Pendidikan

Titien Andryani S, S.Pd, M.Pd

Kunjungi Profile
3x
Bagikan

LATAR BELAKANG DAN PERMASALAHAN 

Lembaga PAUD KB Kasih Ibu berdiri tahun 2008. Terletak di padukuhan Bandung RT 23 RW 05, Kalurahan Bandung, Kecamatan Playen, gunungkidul, D.I. Yogyakarta. Lembaga kami telah memiliki ijin operasional, memiliki akta notaris dan status akreditasi A yang dimiliki lembaga merupakan bukti bahwa lembaga sudah melaksanakan sesuai standar yang ditetapkan oleh pemerintah. 

Keluarga dan satuan pendidikan mempunyai tujuan yang sejalan yaitu mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik. Dengan demikian dukungan belajar yang dilaksanakan di rumah seharusnya selaras dengan program yang jalankan di sekolah. Oleh karena itu perlu dilakukan kerja sama antara keluarga dengan satuan pendidikan.

Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa keberhasilan pendidikan anak dipengaruhi oleh tri pusat pendidikan yaitu: keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiganya mempunyai peran masing-masing yang saling menyokong.

Kerja sama antara sekolah dan keluarga merupakan kunci keberhasilan dalam perkembangan anak usia dini. Di antara manfaat kerja sama sekolah dan keluarga yaitu menciptakan rasa aman dan nyaman, pemahaman yang lebih mendalam tentang anak, terciptanya lingkungan belajar yang konsisten, dukungan yang komperehensif, sehingga perkembangan anak tercapai optimal.

Peningkatan literasi meliputi stimulasi terhadap kemampuan individu dalam membaca, menulis, berhitung, dan menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari perlu dilakukan sejak usia dini. Sinergi sekolah dan orang tua memegang peranan penting untuk menyukseskan program ini.

Pendidikan karakter sangat dibutuhkan bagi perkembangan anak usia dini. Melalui pendidikan karakter, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kepribadian yang baik dari segi intelektual, spiritual, dan sosial-emosional. Ketidak berhasilan pertumbuhan karakter bagi anak dapat menimbukan permasalahan kepribadian anak ketika berusia dewasa.oleh karena itu diperlukan bantuan dan bimbingan serta kerjasama dari semua elemn Pendidikan agar penenman karakter bagi anak dapat berjalan sesuai dengan semestinya sehingga hasil yang diharpakan akan lebih baik. (Mulyasa, 2012: 43). 

Tujuan adalah mendeskripsikan, mengevaluasi temuan, memaparkan hasil dan mendeskripsikan penerapan strategi “Rumah Joglo” untuk kegiatan pembelajaran dalam rangka meningkatkan literasi dan membangun karakter religius serta nasionalisme di KB Kasih Ibu Bandung, Playen, Gunungkidul.

MODEL/INTERVENSI/PRAKTIK YANG DILAKUKAN    

Implementasi Rumah Joglo bersumber pada dana masyarakat sebagai input pendukung program, sinergi dengan warga masyarakat dalam proses pelaksanaan dan menghasilkan output, strategi merupakan Langkah dan kebijakan yang diambil secara rinci dengan langkah pelaksanaan yang jelas sehingga hasil yang di capai lebih oprimal.. Strategi pengelolaan optimalisasi Rumah Joglo untuk kegiatan pembelajaran dalam rangka membangun karakter religius dan nasionalisme, maka erat kaitannya dengan fungsi pengelola PAUD selaku manajer dalam mengelola atau mengatur (manage) lembaganya.  Fungsi manajemen yang dilakukan pengelola PAUD untuk mengimplementasikan strategi Rumah Joglo ini menggunakan 4 fungsi utama yang pertama dimulai dengan proses perencanaan, kemudian dilanjutkan dengan merumuskan pengorganisasian atau langkah konkrit mencapai tujuan, Langkah yang ketiga adalah pengarahan kegiatan dan langkah yang terakhir adalah pengawasan atau sering disebut dengan monitoring.

Upaya pendidik dalam menumbuhkan karakter peserta didik dan meningkatkan literasi mengalami berbagai permasalahan. Permasalahan yang pertama, yaitu peserta didik belum memahami sikap nasionalisme. Pada saat ini anak anak lebih mencintai berbagai produk dari luar negeri, sebagai contoh anak usia dini saat ini lebih suka menggunakan kecangihan android sebagai sarana bermain, dimana alat tersebut bersumber dari luar negeri. Kecintaan pada permainan tradisional yang merupakan budaya anak sudah luntur, dimasa 20 tahun yang lalu masih sangat mudah dijumpai anak- anak bermain dengan teman- temannya menggunakan permainan tradisional yang ada. Dilihat dari segi konsumsi sehari-hari anak-anak sekarang lebih mencintai produk makanan dari luar negeri, baik makanan maupun minuman kemasan, padahal makanan dan minuman tersebut tidak semuanya sehat. Untuk itu diperlukan upaya penyadaran bagaimana pentingnya mencintai budaya dan produk dari masyarakat dan bangsa Indonesia sendiri. Masyarakat kita terutama anak – anak dan remaja sering secara tidak sadar melupakan jati diri sebagai warga negara inonesia dengan mencintai dan menngunakan budaya bangsa Indonesia sendiri. Hal itu dibuktikan dengan meniru budaya barat mulai dari cara berpaikan, berbahasa, makanan dan minuman yang dikonsumsi menggunakan adat dan tradisi bangsa lain., sehingga mengakibatkan sikap individualisme.

Permasalahan yang kedua, yaitu pendidik kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran untuk membangun karakter dan meningkatkan literasi dengan cara yang menarik serta menyenangkan. Kegiatan pembelajaran berlangsung pasif dan monoton. Hal tersebut disebabkan metode/strategi pembelajaran yang digunakan pendidik kurang bervariasi. Permasalahan yang ketiga, yaitu kurangnya pemahaman orang tua tentang pentingnya pendidikan karakter. Tidak sedikit orang tua dari anak berfikiran bahwa pendidikan karakter bukan yang utama untuk diajarkan pada anak usia dini.Tidak sedikit pula orang tua yang lebih menginginkan anaknya yang masih berusia dini  lebih cepat berkembang kemampuan kognitifnya dengan indikator cepat bisa membaca, bisa menulis dengan rapi dan benar serta mampu berhitung dengan cepat, dibandingkan tumbuh menjadi anak yang berkarakter. Kurangnya pemahaman orang tua akan mempengaruhi pola pendidikan karakter anak di lingkungan keluarga masing-masing.

Hasil penelitian oleh Debi Citra Malahati (2018:87) Rumah joglo merupakan rumah adat jawa yang mempunyai 4 soko yang memuat berbagai warisan budaya luhur dan kearifan local. Kearifan local yang dapat kenalkan pada anak sekolah dasar adalah budi pekerti, sopan santun dan gotong royong. Gotong royong merupakan yan diterapkan pada kehidupan masyarakat, penggunaan rumah joglo sebagi tempat tahlilan, nyewu dan kenduri.

Penelitian tentang keatifan local rumah joglo dilakukan oleh Dhiyah Mut Mainah (2018: 743). Kearifan local rumah jglo memuat ajaran filosofi yang pertama rumah joglo merupakan sangkan paraning dumadi yaitu harus berhati- hati dalam menjalani kehidupan. Yang kedua makna filosofi yaitu manugaling kawula lan gusti yang mempunyai makna menciptakan ketenangan batin. Memayu hayuning bawana yang mempunyai makna perbuatan yang senantiasa mewujudkan dunia selamat, sejahtera dan bahagia. Berdasarkan sejumlah permasalahan pada artikel ini menerapkan strategi “Rumah Joglo” untuk kegiatan pembelajaran dalam rangka membangun karakter dan meningkatkan literasi anak usia dini di KB Kasih Ibu Bandung, Playen, Gunungkidul?

KB Kasih Ibu berada dilingkungan pekalurahanan yang masyarakatnya sebagian besar mata pencaharian adalah petani. Sebagai petani maka tempat tinggal yang digunakan oleh masyarakat kami adalah rumah jawa yang disebut dengan Joglo. Sebagian besar rumah tempat tinggal masyarakat Kalurahan Bandung adalah rumah joglo. Berdasarkan potensi lingkungan yang ada di wilayah Padukuhan Bandung adalah rumah joglo dan adanya karakter gugur gunung maka kami sebagai pengelola lembaga PAUD membuat strategi pengelolan sebagai optimalisasi potensi lingkungan untuk kegiatan pembelajaran dalam rangka membangun karakter anak didik di KB Kasih Ibu, Playen, Gunungkidul. Untuk mengatasi berbagai permasalahan di atas maka kami melakukan strategi pengelolaaan “Optimalisasi Rumah Joglo Sebagai Tempat Pembelajaran Untuk Membangun Karakter dan Meningkatkan Literasi Anak Usia DIni di KB Kasih Ibu”. 

Metodologi Penelitian

Pendekatan kualitatif bertujuan untuk mempelajari kejadian tentang subyek penelitian yang berkaitan dengan perilaku, motivasi dan lain sebagainya dengan cara mendeskripsikan atau mengambarkan dalam bentuk kalimat dan bahasa secara alamiah dengan memanfaatkan metode yang ilmiah (Moleong, 2011:6).

 Penelitian kualitatif menurut Arikunto adalah penelitian yang terjadi secara alamiah tanpa rekayasa menekankan pada deskripsi atau kata-kata namun masih bisa menggunakan angka secara sederhana. Dengan pengambilan data dengan menuntut keaktifan peneliti dilapangan dalam pengambilan data yang harus dilakukan oleh peneliti sendiri (Arikunto, 2012: 12). 

Penelitian kualitatif dipergunakan untuk mengetahuai langkah- langkah strategi penggunaan rumah joglo dalam membangun karakter dan meningkatkan literasi anak di Kelompok bermain. Cara mengumpulkan data dengan cara wawancara dengan guru dan pengurus kelompok Bermain kasih Ibu serta observasi pada waktu pembelajaran di rumah joglo.

Subjek kajian artikel ini adalah kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di “Rumah Joglo” untuk membangun karakter dan meningkatkan literasi pada anak didik di KB KASIH IBU yang beralamat di Padukuhan Bandung RT 23 RW 05, Kalurahan Bandung, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, D.I. Yogyakarta

Hasil penelitian ini memaparkan gambaran utuh pelaksanaan pembelajaran di KB Kasih Ibu, Playen Gunungkidul melalui optimalisasi lingkungan dengan menggunakan “Rumah Joglo”sebagai tempat belajar mengajar dengan metodologi deskripi naratif. Adapun yang di maksud dengan deskripsi naratif adalah pengambaran peristiwa terhadap objek penelitian secara terperinci dan jelas sehingga pembaca bisa menikmati hasil penelitian seolah- olah ikut dalam penelitian tersebut dengan memperhatikan rentetan kejadian sesuai dengan fakta yang terjadi.

 HASIL DAN DAMPAK

Langkah-langkah yang diambil untuk memenejemen Rumah Joglo untuk kegiatan pembelajaran dalam rangka membangun karakter dan meningkatkan literasi  adalah sebagai berikut langkah yang pertama yaitu Planning (perencanaan), Perencanaan dilakukan pengelola KB Kasih Ibu dengan melibatkan partisipasi aktif dari semua stakeholder berupa orang tua, pendidik peran serta pemerintah setempat dan masyarakat sekitar. Beberapa cara yang dilakukan pengelola PAUD dalam tahap perencanan adalah sebagai berikut. (a)identifikasi masalah, untuk membangun karakter religius dan nasionalisme serta meningkatkan literasi pada anak didik maka pengelola menganalisis masalah, kebutuhan dan rencana program yang perlu dilakukan yaitu sebagai berikut.(1) Untuk memenuhi aspek rangsangan pendidikan mencapai enam aspek perkembangan maka diperlukan proses pembelajaran menarik dan membangun pendidikan karakter serta meningkatkan literasi anak. (2) Untuk memenuhi aspek kesehatan dan gizi maka diperlukan program pemantauan tumbuh kembang anak usia dini yang rutin sehingga lembaga PAUD perlu melakukan kerjasama dan terintegrasi dengan pelayanan kesehatan. (3) Untuk memenuhi aspek pengasuhan pengelola Kelompok Bermain membutuhkan Kerjasama yang baik dengan orang tua dalam proses pengasuhan anak disekolah dan dirumah agar sejalan dan berkesinambungan. (b) Membuat rencana kerja lembaga, (1) Untuk memenuhi aspek rangsangan pendidikan maka pengelola PAUD membuat program Rumah Joglo untuk kegiatan pembelajaran yang membangun karakter religius dan nasionalisme.  (2) Untuk memenuhi aspek kesehatan dan gizi maka pengelola PAUD membuat surat perjanjian kerjasama dengan posyandu dan Bina Keluarga Balita (BKB) untuk pemantauan tumbuh kembang, membuat program pencegahan dan perawatan anak usia dini.  (3) Untuk memenuhi aspek layanan pengasuhan maka pengelola PAUD membentuk program parenting atau kelompok pertemuan orang tua (KPO). (4)membuat jadwal pelaksanaan.

Langkah yang Kedua adalah Organizing (pengorganisasian). Pengorganisasian adalah suatu cara yang dilakukan pengelola PAUD untuk berkoordinasi dengan berbagai pihak agar perencanaannya untuk mencapai tujuan. Proses pengorganisasian yang dilakukan pengelola PAUD adalah sebagai berikut. (a) Mengelompokkan semua orang sesuai kemampuan dan kualifikasinya. (b) Melakukan pembagian tugas yang kemudian tertuang dalam SK pembagian tugas (c) Melakukan koordinasi dengan pemerintahakan pelaksanaan Rumah Joglo.                 (d) Melakukan koordinasi dengan warga masyarakat yang rumahnya sebagai tempat pelaksanaan Rumah Joglo (e) Membuat perjanjian kerjasama (MOU).

Langkah ke tiga yaitu Actuating (pengarahan) Implementasi strategi Rumah Joglo untuk kegiatan pembelajaran dalam rangka membangun karakter religius dan nasionalisme serta meningkatkan literasi anak adalah sebagai berikut. (a) Joglo Nasionalis Joglo nasionalisme adalah program kegiatan pembelajaran di rumah warga yang di susun untuk membangun karakter nasionalis dan meningkatkan literasi anak. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan terintegrasi dengan tema pada rencana kerja lembaga pada program semester. Joglo nasionalisme dilaksanakan terintegrasi pada kegiatan pembelajaran harian yang berupa: (1) menggunakan bahasa indonesia; (2) menyanyikan lagu-lagu nasional; (3) menceritakan sejarah; (4) mengunjungi tempat wisata sejarah; (5) mengenalkan budaya Indonesia; (6) membiasakan anak menghafal pancasila; (7) mengenalkan lambang negara Indonesia; (8) menonton film edukasi Indonesia; (9) mengenalkan cerita rakyat Indonesia; (10) mengenalkan permainan tradisional; (11) menikmati makanan khas Indonesia; dan (12) memperingati hari-hari besar nasional. Joglo budaya adalah program kegiatan pembelajaran di rumah warga yang disusun untuk membangun karakter berbudaya Yogyakarta, religius dan nasionalisme. (b) Joglo budaya dilaksanakan terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran harian untuk meningkatkan literasi anak yang berupa: (1) mengenalkan budaya melalui cerita; (2) menonton video akan budaya Yogya;   (3) memakan makanan tradisional Yogya; (4) mengunjungi keraton yogya;  (5) mengenalkan wayang; (6) mengenalkan pakaian adat yogya; (7) mengenalkan alat transportasi tradisional; (8) mengenalkan jarik Yogya; (9) menonton gelaran seni tradisional; (10) memakai pakaian tradisonal Yogya; (11) mengenalkan permainan tradisional Yogya; dan (12) memainkan gamelan. (c) Joglo Reliji Joglo religi adalah program kegiatan pembelajaran di rumah warga yang disusun untuk membangun karakter religius yang nasionalis untuk meningkatkan literasi. Joglo religi dilaksanakan terintegrasi pada kegiatan pembelajaran harian yang berupa:     (1) mengenalkan Al Quran sebagai kitab suci; (2) mengenalkan kepada anak akan Tuhannya; (3) mengenalkan perilaku baik dan buruk;  (4) pembiasaan berdoa sebelum dan sesudah kegiatan; (5) pembiasaan selalu bersyukur; (6) pembiasaan sikap toleransi;  (7) pembiasaan saling berbagi; (8) pembiasaan sikap jujur; (9) membacakan kisah-kisah nabi; dan (10) pembiasaan hidup bersih. (d) Joglo sehat adalah program kegiatan pembelajaran di balai Padukuhan Bandung yang disusun untuk membangun karakter religius, nasionalisme dan kemandirian.  Joglo sehat dilaksanakan pada anak usia dini yang kegiatannya terintegrasi pada pembelajaran harian, bekerjasama dengan posyandu, orang tua, masyarakat, dan tenaga kesehatan secara holistik dan integratif yang berupa: (1) mengenalkan makanan sehat;    (2) memakan makanan sehat seimbang; (3) pembiasaan menggosok gigi; (4) pembiasaan cuci tangan; (5) penimbangan berat badan; (6) pembiasaan hidup bersih dan sehat;           (7) pemeriksaan dan potong kuku; (8) pemberian vitamin A dan obat cacing; (9) pemeriksaan kesehatan dan SDIDTK; (10) pelibatan orang tua dalam kegiatan sekolah; dan (11) pertemuan orang tua (KPO). 

Langkah keempat Controlling (pengawasan) Fungsi terakhir yang dilakukan pengelola PAUD dalam mengimplementasikan pengelolaan Rumah Joglo ini adalah fungsi pengawasan yang dilakukan untuk memberikan penilaian terhadap kinerja dengan mengacu  kepada standar Pendidikan yang telah digariskan oleh pemerintah. Kegiatan pengawasan yang sudah dilakukan pengelola adalah sebagai berikut. Melakukan supervisi rutin terhadap pendidik dan tenaga kependidikan dengan membawa instrument supervisi sebagai acuan menilai. Melakukan rapat rutin untuk mengatahui perkembangan kegiatan untuk mengetahui progress ketercapaian serta permasalahan atau kendala yang dihadapi. Memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi pendidik dan tenaga kependidikan dalam proses pelaksanaan program.

Hasil dari pelaksanaan Rumah Joglo untuk kegiatan pembelajaran dalam membangun karakter dan meningkatkan literasi anak guna memenuhi standar nasional PAUD. Pemenuhan delapan standar terintegrasi dalam proses kegiatan pembelajaran setiap hari.  (a)Rumah Joglo berhasil meningkatkan kompetensi pendidik dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan lebih menarik dan inovatif. Pembangunan karakter religius, nasionalisme, mandiri, moral dan agama  terintegrasi dalam pembelajaran harian dapat terlaksana secara optimal. Anak didik lebih antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di Rumah Joglo. (b) Rumah Joglo mampu meningkatkan keterlibatan aktif dan partisipatif orang tua, masyarakat dan pemerintah dalam pengelolaan PAUD. Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di Rumah Joglo milik warga di sekitar PAUD memicu pemilik untuk memberikan bantuan berupa penyiapan sarana dan lain sebagainya. Produk. (c) Rumah Joglo antara lain booklet pedoman pelaksanaannya, buku saku pertanyaan terbuka, dan buku saku pendidikan berbasis budaya. Buku-buku tersebut sebagai penunjang pelaksanaan kegiatan pembelajaran bagi pendidik, dan lembaga lain yang ingin mengadopsi Rumah Joglo. (d) Pendidik dan pengelola terbiasa bekerjasama dan berkoordinasi dengan semua pihak dalam melaksanakan strategi Rumah Joglo sesuai dengan prosedur. Keterampilan melaksanakan prosedur kerja tim membuat layanan pada peserta didik meningkat. Adanya peningkatan kualitas layanan menyebabkan berkurangnya keluhan dari orang tua pada layanan pengelola dan pendidik.

Dampak kegiatan merupakan pengaruh positif tidak langsung yang dihasilkan dari proses kegiatan. Kegiatan optimalisasi Rumah Joglo untuk kegiatan pembelajaran dalam membangun karakter dan meningkatkan literasi di PAUD KB Kasih Ibu adalah sebagai berikut.  (a) Dampak terhadap Lembaga Dampak langsung penerapan Rumah Joglo adalah sebagai berikut. (1) Peningkatan jumlah peserta didik setiap tahun. (2) Menjadi sekolah model pendidikan berbasis budaya. (3)Terpenuhi delapan standar PAUD: lembaga terakreditasi A    (4) Menjadi PAUD rujukan di Kalurahan Bandung, Kapanewon Playen.  Lembaga semakin di percaya oleh orang tua dan masyarakat. Terjadi peningkatan jumlah peserta didik setiap tahun.  Kenaikan grafik peserta didik dapat dilihat pada gambar 1 di bawah ini.   

 

Gambar 1 peningkatan anak didik KB Kasih Ibu 

  1. Dampak terhadap peserta didik. 

    Dampak kepada peserta didik setelah menerapkan Rumah Joglo untuk kegiatan pembelajaran yaitu: anak mampu tumbuh dan berkembang secara holistik (utuh dan menyeluruh), karakter nasionalisme, religius dan kemandirian mulai muncul dan berkembang, kemampuan literasi anak meningkat, tingkat kehadiran peserta didik meningkat. 

  2. Dampak terhadap Pendidik. 

    Dampak kepada pendidik dalam pelaksanaan Rumah Joglo yaitu:  Pembelajaran lebih menarik dan inovatif, Peningkatan kompetensi pendidik, Tempat study banding untuk peningkatan kompetensi pendidik, menjadi narasumber dalam implementasi strategi Rumah Joglo, 

  3. Dampak terhadap Masyarakat, Rumah Joglo milik masyarakat yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran mampu memfasilitasi peran serta masyarakat dalam program PAUD dengan menjadi keterlibatan semesta untuk meningkatkan PAUD yang bermutu.  Rumah Joglo mampu meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk berpartisipasi pada program PAUD terbukti dengan adanya tambahan dana dari masyarakat dan pemerintah. 

Kendala dan Solusi, kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan Rumah Joglo sebagai berikut. Orang tua masih beranggapan bahwa kecerdasan kognitif (calistung) lebih penting daripada pendidikan karakter. Solusinya adalah melakukan sosialisasi dan pembimbingan secara berkelanjutan. Waktu yang relatif panjang ini memerlukan energi besar dan sikap positif. Apabila Rumah Joglo yang digunakan dalam pembelajaran dipakai sendiri oleh tuan rumah dikarenakan ada acara. Untuk mengantisipasi kendala ini mencari solusi Rumah Joglo yang lain. Pada waktu musim hujan pelaksanaan Rumah Joglo tidak maksimal maka dari itu jadwal ditunda pelaksanaannya. 

Faktor-faktor Pendukung internal dan eksternal, Pelaksanaan Rumah Joglo didukung berbagai hal sebagai berikut., Kondisi wilayah di pekalurahanan sehingga karakter gugur gunung masih melekat dan terdapat banyak Rumah Joglo di Padukuhan Bandung. Kesadaran pendidik dan pengelola dalam melaksanakan tanggung jawab program. Kemampuan negosiasi dan manajemen konflik dari berbagai fihak yang terlibat. Orang tua anak didik yang peduli dan terlibat dalam semua program. Kerjasama dengan Kalurahan Bandung dalam pengalokasian anggaran. Komunikasi sehat antara pengelola PAUD, organisasi mitra PAUD, pemerintah kalurahan Bandung dan lembaga PAUD sekitar. Efisiensi dari segi pembiayaan karena untuk melakukan kerjasama dengan keluarga, pemerintah dan masyarakat tidak memerlukan biaya.

Rencana Pengembangan, alternatif pengembangan Rumah Joglo yang pertama melalui komunikasi persuasif dan pembimbingan adalah luasan jangkauan program. Banyak lembaga yang belum mengoptimalkan potensi yang ada di lingkungan masing-masing. Alternatif pengembangan kedua adalah mengakses dana dari kalurahan untuk mengembangkan PAUD berbasis budaya. Program PAUD sudah sinergi dan didanai oleh dana kalurahan hanya bagaimana kita pengelola mengakses dana tersebut. Alternatif ketiga adalah sosialisasi dan pembimbingan. Sosialisasi terus dilakukan kepada lembaga lain, masyarakat, orang tua, dan pemerintah kalurahan dalam pelaksanaan strategi Rumah Joglo. Pembimbingan dilakukan kepada lembaga lain yang ingin menerapkan strategi ini. Kemudahan dalam menduplikasi strategi Rumah Joglo merupakan keunggulan dalam metode ini. Pengelola dapat memodifikasi kegiatan pembelajaran dalam rangka karakter apa yang akan dibangun. Mencari bentuk yang paling efektif disesuaikan dengan karakter dan potensi wilayah masing-masing.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Kesimpulan dari strategi optimalisasi Rumah Joglo untuk kegiatan pembelajaran dalam rangka membangun karakter dan meningkatkan literasi anak sebagai berikut. Implementasi Rumah Joglo melalui tahapan pertama perencanaan: (1) identifikasi masalah; (2) membuat program kerja lembaga; dan (3) membuat buku panduan. Tahapan kedua Pengorganisasian, ketiga pelaksanaan: (1) Joglo Nasionalis; (2) Joglo Budaya; Joglo Religi; dan (4) Joglo Sehat; serta tahap keempat pengawasan dan evaluasi. Hasilnya adalah melalui strategi optimalisasi Rumah Joglo untuk kegiatan pembelajaran dalam membangun karakter religius dan nasionalime di KB Kasih Ibu dapat terlaksana secata optimal. Kendala dan solusinya yaitu anggapan orangtua bahwa kognitif lebih penting dari pendidikan karakter solusinya melakukan sosialisasi dan pembimbingan. Alternatif pengembangan dengan melakukan komunikasi persuasif, meraih dana untuk PAUD berbasis budaya, sosialisasi dan pembimbingan berkelanjutan .

 

DAFTAR PUSTAKA

Adat-tradisional.com/20120 /11 / rumah-adat-jawa-tengah-joglo-gambar-dan.html?m=1

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar.  Jakarta: Kemenkes RI

Debi Citra Malahati, (2018). Nilai-Nilai Kearifan Budaya Rumah Joglo (Artefac) Dan Falsafah Kehidupan (Budaya Mantifacts) Pada Komunitas Kalurahan Wisata Pentingsari Sebagai Sumber Pendidikan Karakter Di Sekolah Dasar (SD). Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar 1(2), 87-91,Juli 2018p-ISSN 2615-1391, e-ISSN 2620-3219

Dhiyah Mut Mainah, 2019. Filosofi Dan Pengaruh Konstruksi Rumah Joglo Terhadap Gempabumi Di Kalurahan Jagalan Kecamatan Banguntapankabupaten Bantul. Jurnal penelitian Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta 

Fasli Djalal 2011. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa

Hidayati Ummul. 2019. Pendidikan Holistik Integratif di Raudhatul Athfal. Edukasi: Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan 15 (2) 2017, 241-262. P-ISSN: 1639-6418. http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4/0/. Diakses tanggal 27 Februari 2019

Mulyasa(2012) Manajemen PAUD, Bandung: Remaja Rosdakarya

Suharsimi Arikunto. 2010, Metodologi penelitian , Yogyakarta: Reneke Cipta

Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: Elfabeta

Wibowo, Agus. 2012. Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

 

0

0

Loading comments...

Memuat komentar...

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis
Klaim Sertifikat & Promo 🎁
Komunitas