Resiliensi Pada Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini - Guruinovatif.id

Diterbitkan 04 Mei 2026

Resiliensi Pada Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini

Resiliensi pada perkembangan sosial emosional Anak usia dini

Dunia Pendidikan

Natalia Devi Aryani

Kunjungi Profile
9x
Bagikan

Apakah anda pernah melihat seorang anak TK yang masuk sekolah dengan muka kuatir, menahan kuat air matanya saat berpisah dengan papa atau mamanya namun tetap melangkah masuk ke sekolah? Atau ada anak yang marah dan menangis saat ia harus berbagi mainan, atau anak yang bisa mengungkapkan kekecewaannya saat dengan kata yang sopan.

              Momen sederhanaini sering terjadi di kelas TK, disitulah anak membangun resilien. Resilien Adalah istilah yang diambil dari ilmu fisika, yang diartikan “bisa melambung kembali”  (Isaacson, 2002) atau juga diartikan kemampuan untuk berhasil menghadapi perubahan atau kemalangan. Jika dikaitkan dengan anak, maka anak resilien adalah anak yang tetap tenang dan kompeten dibawah tantangan atau ancaman. Dan anak yang mampu bangkit lagi dari kejadian traumatis (Papalia, Olds & Feldman, 2009).

Faktor protektif dan factor resiko saling mempengaruhi dan menentukan resiliensi seseorang. Anak yang resilien bukan anak yang luar biasa, mereka hanya mbisa mengelola keadaan yang buruk dengan memeperoleh sumber dan kekuatan yang positif, lalu menjadikannya emosi positif. 

Resiliensi seorang anak terbangun dari hubungan yang baik serta ikatan yang kuat dengan orang tua yang kompeten dan suportif atau orang dewasa lain yang peduli.

Faktor-faktor protektif yang dapat meningkatkan resiliensi:

  1. Temperamen atau kepribadian anak

    Anak-anak resilien Adalah mereka yang mampu beradaptasi, ramah dan disukai rang di sekitarnya, orang dewasa di sekitar anak-anak ini harus mampu memberi pengertian positif pada setiap keadaan yang dihadapi anak. 

  2. Pengalaman-pengalaman yang yang dapat mengkompensasi.

    Lingkungan rumah serta sekolah yang mendukung atau pengalaman berhasil dalam belajar, hal-hal kecil yang di rayakan, kebersamaan dengan teman dan orang dewasa lainnya dapat mengkompensasi saat mereka menghadapi keadaan yang buruk.

  3. Kurangi Hal-hal yang beresiko.

    Sebagai seorang guru, kita juga diamanahkan untuk meningkatkan factor protektif anak. Demikian juga lingkungan sekolah, sebagai lingkungan sosial.

Anak akan menjadi resilien jika didukung orang tua, guru sebagai orang dewasa yang perhatian dan mendukung, lingkungan sekolah yang aman sehingga membuat anak tertarik berkegiatan, serta diberi kesempatan memikul tanggung jawab. Latihan Latihan kecil berawal di rumah dan sekolah diharapkan bisa membentuk reslieinsi pada anak.

0

0

Loading comments...

Memuat komentar...

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis
Klaim Sertifikat & Promo 🎁
Komunitas