Di sebuah sudut Kabupaten Tasikmalaya, tepatnya di SMK Bhakti Kencana Ciawi, saya pernah dihadapkan pada kenyataan yang cukup menantang: budaya literasi peserta didik belum tumbuh sebagaimana yang diharapkan. Buku masih terasa asing, menulis dianggap beban, dan membaca belum menjadi kebutuhan. Dari kegelisahan itulah, lahir sebuah gerakan sederhana namun penuh harapan: RALINDU (Rabu Literasi dan Duta Literasi).
Awal Perjalanan: Dari Keresahan Menjadi Gerakan
Sebagai kepala sekolah, saya meyakini bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Saya tidak ingin hanya menginstruksikan, tetapi menjadi bagian dari perubahan itu sendiri. Saya mulai dengan membangun kesadaran: bahwa literasi bukan sekadar membaca dan menulis, tetapi tentang membangun cara berpikir, memperluas wawasan, dan membentuk karakter.
RALINDU kami jalankan setiap hari Rabu. Seluruh warga sekolah terlibat—guru, tenaga kependidikan, dan tentu saja peserta didik. Tidak ada pelajaran formal di 30 menit awal. Yang ada hanyalah keheningan yang hidup: semua membaca. Dari sinilah budaya itu mulai tumbuh.
Peran dan Strategi: Menggerakkan, Bukan Memaksa
Saya sadar, perubahan tidak bisa dipaksakan. Maka pendekatan yang saya lakukan adalah menggerakkan, bukan menekan.
Kami membentuk Duta Literasi, yaitu peserta didik terpilih yang menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah. Mereka bukan hanya simbol, tetapi benar-benar menjadi inspirator bagi teman-temannya; mengajak, memotivasi, dan memberi contoh nyata.
Selain itu, saya mendorong guru untuk ikut terlibat aktif, tidak hanya mengawasi, tetapi juga membaca dan menulis. Karena bagi saya, keteladanan adalah kunci utama perubahan karakter.
Menjadi Teladan: Memimpin dengan Aksi Nyata
Saya percaya bahwa kepala sekolah tidak cukup hanya memberi arahan, tetapi harus memberi contoh. Oleh karena itu, saya menempatkan diri bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai pembelajar dan penulis.
Saya aktif sebagai content creator sekaligus author di salah satu website berita nasional, Melintas.ID, dengan menulis berbagai artikel seputar dunia pendidikan. Melalui tulisan-tulisan tersebut, saya tidak hanya berbagi gagasan, tetapi juga menunjukkan bahwa menulis adalah aktivitas nyata yang bisa dilakukan siapa saja.
Selain itu, saya juga telah menulis beberapa buku solo serta terlibat dalam puluhan buku antologi. Proses panjang dalam menulis, menyunting, hingga menerbitkan buku saya bagikan kepada guru dan peserta didik sebagai pengalaman nyata, bukan sekadar teori.
Dampaknya terasa sangat kuat. Peserta didik mulai berpikir, “Jika kepala sekolah saja menulis, mengapa saya tidak?”
Guru pun terdorong untuk keluar dari zona nyaman dan mulai berkarya.
Di sinilah peran keteladanan bekerja: menginspirasi tanpa harus banyak memerintah.
Dampak Nyata: Dari Data ke Perubahan Mental
Perubahan tidak hanya terasa, tetapi juga terlihat secara nyata. Berdasarkan data yang kami himpun dalam satu bulan:
50% peserta didik membaca 1 buku
35% membaca 2 buku
10% membaca 3 buku
5% membaca 4 buku
Data ini bukan sekadar angka, tetapi cerminan dari sebuah transformasi. Dari yang sebelumnya enggan membuka buku, kini sebagian besar peserta didik sudah mulai menjadikan membaca sebagai kebiasaan.
Namun dampak terbesar bukan pada jumlah buku yang dibaca, melainkan pada perubahan pola pikir dan karakter:
Peserta didik menjadi lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat
Muncul keberanian untuk menulis dan berkarya
Terbentuk sikap disiplin dan tanggung jawab
Tumbuh rasa bangga terhadap hasil karya sendiri
Ledakan Karya: Dari Pembaca Menjadi Penulis
Salah satu momen paling membanggakan dalam perjalanan ini adalah ketika peserta didik dan guru tidak lagi hanya menjadi pembaca, tetapi juga penulis.
Melalui program RALINDU, kami berhasil menerbitkan 8 buku antologi karya guru dan peserta didik. Ini bukan hanya pencapaian akademik, tetapi juga pencapaian emosional. Banyak dari mereka yang awalnya tidak percaya diri, kini mampu melihat namanya tercetak di sebuah buku.
Gerakan ini terus meluas. Menulis tidak lagi menjadi tugas, tetapi menjadi kebutuhan untuk mengekspresikan diri.
Penutup: Literasi adalah Gerakan Peradaban
RALINDU mungkin terlihat sederhana; hanya membaca dan menulis. Namun di balik itu, ada misi besar: membangun generasi yang berpikir, berkarakter, dan berdaya saing.
Perjalanan ini belum selesai. Namun satu hal yang pasti, perubahan itu sudah dimulai. Dari satu hari bernama Rabu, kini menjelma menjadi budaya.
“Dan saya percaya,
ketika pemimpin memberi teladan, ketika guru ikut bergerak, dan ketika peserta didik mulai berkarya—maka literasi bukan lagi program, melainkan peradaban yang sedang tumbuh”.