Peningkatan Kinerja Guru melalui Pengembangan Modul Pembelajaran Terintegrasi Ayat Al-Qur’an - Guruinovatif.id

Diterbitkan 05 Mei 2026

Peningkatan Kinerja Guru melalui Pengembangan Modul Pembelajaran Terintegrasi Ayat Al-Qur’an

meningkatkan kinerja guru melalui pengembangan modul pembelajaran yang terintegrasi dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Modul ini dirancang agar setiap mata Pelajaran memiliki keterkaitan dengan pesan-pesan Al-Qur’an yang relevan.

Media Pembelajaran

4x
Bagikan

Pendidikan di SMP Al-AqSyar tidak hanya bertujuan membentuk peserta didik yang cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter Qur’ani, berdisiplin spiritual, serta memiliki kebiasaan positif dalam keseharian. Sebagai lembaga pendidikan yang berbasis nilai-nilai Islam, Sekolah ini telah lama membudayakan kegiatan rutin seperti sholat wajib berjama'ah, sholat Dhuha, dzikir pagi, bina adab islam dan murojaah. Kegiatan tersebut terbukti mampu menciptakan suasana religius yang kondusif, meningkatkan ketenangan batin siswa, serta membangun kebiasaan mengulang hafalan Al-Qur’an.

Namun, dalam perjalanannya, kami menyadari bahwa budaya positif saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas akademik yang relevan dan inovatif. Salah satu tantangan utama adalah bagaimana menghubungkan nilai-nilai Al-Qur’an secara langsung ke dalam proses pembelajaran inti. Selama ini, kegiatan keagamaan dan pembelajaran akademik berjalan sendiri-sendiri (paralel), sehingga terkesan kurang terintegrasi.

Oleh karena itu, sebagai kepala sekolah, saya mengambil langkah strategis untuk meningkatkan kinerja guru melalui pengembangan modul pembelajaran yang terintegrasi dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Modul ini dirancang agar setiap mata Pelajaran  IPA, IPS, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, PAI, dan informatika memiliki keterkaitan dengan pesan-pesan Al-Qur’an yang relevan. Langkah ini sekaligus menjadi jembatan antara budaya positif yang sudah berjalan dengan peningkatan mutu pembelajaran di kelas.

Praktik baik ini bertujuan untuk: 1. Meningkatkan kinerja guru dalam merancang dan mengimplementasikan modul pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan bernafaskan Al-Qur’an, 2. Menciptakan pembelajaran bermakna bagi siswa dengan menghubungkan materi pelajaran dengan ayat-ayat suci Al-Qur’an, 3. Memperkuat sinergi antara budaya positif sekolah dengan proses pembelajaran di kelas, 4. Menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi tidak hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam belajar sains, sosial, bahasa, dan matematika.

SMP Al-AqSyar merupakan sekolah menengah pertama berbasis Islam yang berlokasi di Kecamatan Kemang, tepatnya di Pondok Udik. Lingkungan sekitar sekolah dikenal memiliki kepedulian yang tinggi terhadap perkembangan siswa, terutama dalam hal pembinaan nilai-nilai keagamaan. Sebagian besar siswa yang bersekolah di SMP Al-AqSyar berasal dari latar belakang keluarga dan lingkungan yang beragam, sehingga karakter serta pemahaman keislaman awal mereka pun bervariasi.

Di tengah kemajuan teknologi yang pesat saat ini, berbagai tantangan baru bermunculan, salah satunya adalah meningkatnya kasus kenakalan remaja dalam berbagai bentuk, seperti penyalahgunaan media sosial, pergaulan bebas, hingga tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pihak sekolah, karena tanpa bentukan karakter yang kuat, siswa rentan terpengaruh oleh arus negatif yang mudah diakses melalui teknologi.

Oleh karena itu, diperlukan penguatan karakter yang sistematis, berkelanjutan, dan berbasis nilai-nilai Islami sebagai benteng bagi siswa. Penguatan ini penting agar siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia, disiplin, tanggung jawab, serta kemampuan menyaring pengaruh buruk dari luar. Praktik baik yang dilakukan di SMP Al-AqSyar ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi strategis dalam membentuk karakter siswa yang resilien, beriman, dan bermanfaat bagi lingkungannya.

Namun, setelah melakukan observasi dan supervisi akademik secara mendalam, saya menemukan sebuah kesenjangan (gap) yang cukup signifikan:

Aspek

Kondisi

Budaya positif

Berjalan baik, disiplin siswa tinggi, suasana religius terasa.

Pembelajaran di kelas

Masih konvensional; guru mengajar secara umum tanpa keterkaitan dengan Al-Qur’an.

Kinerja guru

Cenderung stagnan; belum ada inovasi dalam pengembangan modul ajar.

Integrasi nilai Qur’ani

 Al-Qur’an hanya dipelajari di pelajaran PAI dan tahfid, tidak di mata pelajaran lain.

 

Selama menjabat sebagai kepala sekolah, saya melihat bahwa guru-guru di SMP Al-AqSyar sebenarnya memiliki semangat dan loyalitas tinggi. Namun mereka belum mendapatkan pendampingan yang cukup untuk mengembangkan modul pembelajaran yang inovatif dan berbasis nilai-nilai Al-Qur’an. Sebagian besar guru masih menggunakan modul dari penerbit umum tanpa modifikasi.

Sekolah kami terletak di lingkungan yang cukup mendukung, dengan akses terhadap sumber daya  meliputi guru Agama dan tahfidz yang hafal Al-Qur’an, tersedia mushaf dan terjemahan, serta dukungan dari donator dalam penyediaan mushaf. Namun potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal dalam pembelajaran sehari-hari.

Jika masalah ini tidak segera diatasi, risiko yang akan muncul antara lain:

  1. Siswa merasa kegiatan sholat, dzikir, dan membaca Al-Qur’an hanya sekadar ritual yang terpisah dari pelajaran akademik. Hal ini dapat menyebabkan kebosanan dan kehilangan makna.

  2. Guru akan terus berkutat pada cara mengajar yang itu-itu saja, dan  kehilangan tantangan profesional karena tidak ada pengembangan diri.

Sebagai kepala sekolah, peran dan tanggung jawab saya adalah: Sebagai pemimpin pembelajaran (instructional leader): mendorong, memfasilitasi, dan mengawasi pengembangan modul, sebagai manajer: menyediakan sumber daya, waktu, dan pendampingan bagi guru, sebagai teladan: ikut serta dalam kegiatan budaya positif dan menunjukkan antusiasme terhadap modul Qur’ani, Sebagai evaluator: melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap kinerja guru dan implementasi modul.

Dalam upaya meningkatkan kinerja guru melalui pengembangan modul terintegrasi ayat Al-Qur’an, saya menghadapi sejumlah tantangan: 

  1. Sebagian besar guru belum terbiasa mengaitkan ayat Al-Qur’an dengan mata pelajaran umum,

  2. Guru sudah memiliki beban mengajar dan administrasi yang padat, sehingga menyusun modul baru dirasa “tambahan pekerjaan”

  3. Belum banyak modul pembelajaran umum yang terintegrasi ayat Al-Qur’an, sehingga guru harus “membuat dari nol”.

  4. Bagaimana memastikan bahwa budaya positif dan pembelajaran tidak terganggu oleh kesibukan pengembangan modul, malah saling mendukung.

Pihak yang terlibat dalam menghadapi tantangan ini antara lain: Yayasan, kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, guru mata Pelajaran, siswa komite dan wali murid.

Berikut adalah aksi nyata yang saya lakukan sebagai kepala sekolah untuk menjawab setiap tantangan di atas.

Langkah 1: Sosialisasi dan Penyadaran (Membangun Visi Bersama)

Pada bulan  April 2025 minggu pertama saya mengadakan rapat guru khusus untuk menyampaikan pentingnya integrasi Al-Qur’an dalam modul pembelajaran. Saya menunjukkan data hasil supervisi bahwa pembelajaran masih terpisah dengan budaya positif. Saya mengajak guru bermimpi bersama: “Bayangkan jika siswa belajar IPA sekaligus melihat kebesaran Allah melalui ayat-ayat kauniyah.” 

Langkah 2: Pelatihan dan Pendampingan (Workshop Penyusunan Modul)

Pada minggu kedua bulan April 2025, yayasan bekerja sama dengan kepala sekolah mendatangkan narasumber ahli dari Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) untuk melaksanakan workshop penguatan kompetensi guru. Materi yang disampaikan dalam workshop ini meliputi: (1) cara membuat modul pembelajaran, (2) cara memilih ayat Al-Qur'an yang relevan dengan topik pelajaran, dan (3) teknik mengintegrasikan ayat ke dalam materi pembelajaran. Peserta workshop ini adalah seluruh guru SMP dan SMK Al-AqSyar. Dalam sesi praktik, para guru secara langsung membuat modul pembelajaran sesuai dengan bidang studi masing-masing dengan bimbingan dari narasumber.

Langkah 3: Pembagian Tugas dan Target Modul

Pada minggu ketiga bulan April 2025, para guru menentukan mata Pelajaran apa yang akan disusun sebagai modul pembelajaran, menetapkan dua mata pelajaran yang digabung ke dalam satu modul, serta membentuk tim penyusun modul. saya memberikan template modul sebagai panduan., untuk memudahkan guru dalam penyusunan. Selanjutnya, saya bersama para guru menetapkan target waktu penyelesaian modul secara musyawarah agar diperoleh kesepakatan bersama. Target waktu yang disepakati adalah hingga awal Agustus 2025. 

Langkah 4: Review dan Pendampingan Individu

Pada tahap ini, saya bersama wakil kepala sekolah bidang kurikulum melakukan pendampingan individu kepada setiap guru penyusun modul. Kegiatan dilaksanakan pada hari Selasa secara terjadwal. Dalam sesi pendampingan, kami memberikan umpan balik positif terhadap kelebihan modul yang telah dibuat, sekaligus menyampaikan koreksi konstruktif terhadap bagian-bagian yang perlu diperbaiki, seperti ketepatan pemilihan ayat, kesesuaian integrasi antarmata pelajaran, serta sistematika penyusunan modul. Pendampingan ini bertujuan untuk memastikan modul yang dihasilkan berkualitas, mudah dipahami, dan siap digunakan dalam proses pembelajaran. Guru juga diberikan kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi secara langsung agar perbaikan dapat segera ditindaklanjuti

Langkah ke 5: Penyusunan e-book

Modul yang telah selesai dan diverifikasi oleh kepala sekolah dan kurikulum modul didokumentasikan dalam bentuk e-book. Siswa menerima modul tersebut melalui platform digital sekolah dalam bentuk e-book. Dengan adanya e-book ini, siswa dapat mengakses materi pembelajaran kapan saja dan di mana saja, baik melalui ponsel, tablet, maupun komputer. Hal ini memudahkan siswa untuk mempelajari kembali materi yang telah diajarkan serta mengintegrasikan ayat-ayat Al-Qur'an dalam setiap topik pelajaran secara mandiri.

Langkah 6: Supervisi Pembelajaran 

Supervisi pembelajaran dilakukan per semester dua kali dengan instrumen dan bobot penilaian yang telah ditentukan, tujuan dari supervisi ini adalah :

  1. Memastikan modul terintegrasi dengan ayat Al-Qur’an dan digunakan dengan tepat 

  2. Menguatkan keterkaitan antara budaya positif dan pembelajaran.

  3. Mendorong guru untuk terus mengembangkan modul Qur’ani

  4. Memberikan umpan balik khusus tentang integrasi nilai Qur’ani.

Pada pelaksanaan supervisi dan observasi pembelajaran Proyek terlihat bahwa proyek dengan tema ”Qur’anic Sains Proyek” dilaksanakan melalui lima langkah sistematis. Pertama, peserta didik membuat proposal karya sains yang mencakup judul karya, manfaat karya sains, ayat Al-Qur’an yang relevan dengan karya tersebut, langkah-langkah pembuatan, serta estimasi biaya yang dibutuhkan. Kedua, setelah proposal disetujui oleh guru PIC Proyek, peserta didik mulai merealisasikan pembuatan karya sains. Ketiga, peserta didik membuat poster yang berisi penjelasan proyek, ayat Al-Qur’an yang terkait dengan sains tersebut, serta manfaat sains yang dihasilkan. Keempat, peserta didik mempresentasikan hasil karya mereka di depan guru. Kelima, hasil karya dipamerkan dalam acara “Qur’anic Sains Fair” pada saat pembagian rapor. Hasil karya terbaik diberikan apresiasi berupa sertifikat dari sekolah.

Pada supervisi pembelajaran di kelas, terlihat guru mengajar dengan mengaitkan materi pelajaran terhadap ayat-ayat Al-Qur'an. Guru tidak hanya menyampaikan konsep keilmuan secara umum, tetapi juga menghubungkannya dengan dalil naqli yang relevan. Guru juga memberikan pemahaman kepada peserta didik makna dari ayat tersebut. Dengan pendekatan ini, pembelajaran menjadi lebih bermakna karena peserta didik tidak hanya memahami materi secara rasional, tetapi juga membangun keimanan terhadap kebenaran Al-Qur'an. Selain itu, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan merenungkan ayat yang dikaitkan, kemudian mendiskusikannya secara singkat. Kegiatan ini berlangsung interaktif dan menumbuhkan rasa kagum peserta didik terhadap kebesaran Allah SWT.

Dampak dari Aksi

Setelah menjalankan langkah-langkah tersebut selama satu semester, berikut dampak yang saya amati:

  1. 90% guru berhasil membuat minimal 1 modul terintegrasi ayat Al-Qur’an

  2. Guru lebih percaya diri dan kreatif dalam mengajar

  3. Siswa lebih antusias karena materi pelajaran terhubung dengan Al-Qur’an

  4. Critical thinking siswa terbangun dengan mengaitkan pembelajaran dengan ayat2 dalam Al-Qur’an. 

  5. Membangun keimanan peserta didik terhadap ayat-ayat Al-Qur’an melalui pembuktian ilmiah dalam karya sains. 

     

Respons dari internal dan eksternal sekolah 

Guru                : Awalnya ada yang ragu, tapi setelah workshop dan pendampingan, mereka justru bangga karena modulnya dipakai dan diapresiasi

Siswa               : Sangat antusias; banyak yang bertanya “Bu, pelajaran IPS besok ayatnya apa?”

Wali Murid      : Mendukung penuh pembelajaran yang terintegrasi dengan ayat2 Al-Qur’an

Komite            : Bangga karena SMP Al-AqSyar memiliki ciri khas modul Qur’ani

Pengawas        : Memberikan apresiasi dan mendapat predikat “Sangat Baik” setelah dilakukan Penilaian kinerja kepala sekolah

Faktor Keberhasilan

  1. Komitmen kepala sekolah: Saya secara konsisten hadir di setiap pendampingan dan memberikan teladan.

  2. Pendampingan bertahap: Guru tidak ditinggalkan sendiri setelah workshop, tetapi didampingi secara individual.

  3. Apresiasi yang nyata: Penghargaan, dan pengakuan membuat guru termotivasi.

  4. Keterlibatan semua pihak: Dari Yayasan , wakil kurikulum, koordinator keagamaan, hingga komite sekolah.

 

Praktik baik ini membuktikan bahwa peningkatan kinerja guru dan penguatan budaya positif tidak perlu berjalan sendiri-sendiri. Dengan strategi yang tepat, keduanya dapat saling menguatkan dan menciptakan ekosistem sekolah yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kaya akan nilai-nilai Qur’ani.

Sebagai kepala sekolah, saya merasa bangga karena telah berhasil menggerakkan seluruh komunitas sekolah untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai ruh dalam pembelajaran, sekaligus menjaga kebiasaan baik sholat berjamaah, sholat sunah, dzikir pagi, bina adab islam dan murojaah sebagai napas spiritual sehari-hari.

0

0

Loading comments...

Memuat komentar...

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis
Klaim Sertifikat & Promo 🎁
Komunitas