OPTIMALISASI MEDIA SOSIAL SEBAGAI WAJAH DIGITAL MIN 1 KULON PROGO - Guruinovatif.id

Diterbitkan 05 Mei 2026

OPTIMALISASI MEDIA SOSIAL SEBAGAI WAJAH DIGITAL MIN 1 KULON PROGO

Artikel ini membahas optimalisasi media sosial sebagai wajah digital MIN 1 Kulon Progo. Melalui pendekatan kualitatif, pengelolaan berkembang dari sederhana menjadi terstruktur, berdampak pada peningkatan motivasi siswa, kreativitas guru, kemudahan akses informasi, dan peluang kolaborasi.

Dunia Pendidikan

Ahmad Syaihu Indrajaya

Kunjungi Profile
5x
Bagikan

OPTIMALISASI MEDIA SOSIAL SEBAGAI WAJAH DIGITAL MIN 1 KULON PROGO

Ahmad Syaihu Indrajaya

MIN 1 Kulon Progo, e-mail : ahmadsindrajaya@gmail.com,

Nomor HP : 085200085111

 

Abstract

This study explores how social media can be optimized as the digital face of MIN 1 Kulon Progo in sharing information, shaping institutional image, and strengthening communication with the community. It begins with the reality that information flows have shifted rapidly in the digital era, pushing madrasahs to be more adaptive and open in how they present themselves. Using a qualitative case study approach, data were gathered through observation, interviews, and documentation, then analyzed descriptively through data reduction, presentation, and conclusion drawing, supported by triangulation. The findings show that social media management at MIN 1 Kulon Progo has grown step by step, from simple, spontaneous documentation into a more structured and consistent publication system. Efforts to optimize include organizing content types, setting posting schedules, improving visual quality, and using more engaging, communicative language. Social media is no longer just a place to share updates, but has become a reflection of the madrasah’s identity in the public space. Its impact is quite visible. Students become more confident and motivated, teachers are encouraged to be more creative, parents find it easier to access information, and the wider education community gains ideas and collaboration opportunities.

Keywords: Innovative Teachers; National Education Day 2026; Impactful Education Community; Social Media Optimization; Digital Branding

Abstrak

Artikel ini mengulas bagaimana media sosial dioptimalkan sebagai wajah digital MIN 1 Kulon Progo dalam menyampaikan informasi, membangun citra lembaga, dan memperkuat komunikasi dengan masyarakat. Hal ini berangkat dari perubahan arus informasi di era digital yang menuntut madrasah untuk lebih adaptif dan terbuka dalam menampilkan aktivitasnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, lalu dianalisis secara deskriptif melalui tahap reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan dengan dukungan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan media sosial berkembang secara bertahap, dari dokumentasi sederhana yang spontan hingga menjadi sistem publikasi yang lebih tertata dan konsisten. Upaya optimalisasi dilakukan dengan mengatur jenis konten, menjadwalkan unggahan, meningkatkan kualitas visual, serta menggunakan bahasa yang lebih komunikatif. Media sosial tidak lagi sekadar sarana berbagi informasi, tetapi juga menjadi representasi identitas madrasah di ruang publik. Dampaknya cukup terasa. Siswa menjadi lebih percaya diri dan termotivasi, guru terdorong lebih kreatif, orang tua lebih mudah mengakses informasi, dan komunitas pendidikan memperoleh inspirasi sekaligus peluang kolaborasi.

Kata Kunci : GuruInovatif; Hardiknas2026; Insan Pendidikan Berdampak; Optimalisasi Media Sosial; Branding Digital

A. Pendahuluan

Perkembangan teknologi informasi membawa perubahan cukup besar dalam cara madrasah menyampaikan informasi kepada masyarakat. Dulu, informasi biasanya hanya disampaikan lewat papan pengumuman atau surat resmi. Sekarang, media sosial jadi pilihan karena lebih cepat dan jangkauannya luas. Kondisi ini mendorong madrasah untuk ikut beradaptasi, termasuk dalam mengelola publikasi kegiatan agar lebih terbuka dan menarik. Dari sinilah muncul kebutuhan untuk mengelola media sosial secara lebih terarah. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki pengaruh yang sangat besar dalam berbagai bidang kehidupan manusia (Muhson, 2010). Pemanfaatan teknologi sekarang ini juga telah memasuki hampir seluruh ranah kehidupan tak terkecuali dalam bidang Pendidikan. Sekolah yang merupakan suatu Lembaga yang bergerak di bidang Pendidikan mulai  memanfaatkan media sosial untuk menjalankan aktivitasnya yaitu sebagai sumber informasi, komunikasi, dan ajang promosi sekolah (Fitriyanti, 2023).

Awalnya, perubahan ini berangkat dari hal sederhana. Banyak kegiatan positif di madrasah sebenarnya sudah berjalan, tetapi belum terdokumentasi dan dipublikasikan dengan baik. Padahal, program, prestasi siswa, dan aktivitas pembelajaran punya nilai penting untuk diketahui masyarakat. Dari situ muncul inisiatif untuk mulai mendokumentasikan kegiatan, meskipun masih sederhana dan belum tertata. Madrasah sebagai pendidikan formal bertujuan membentuk manusia yang  berkepribadian, dalam mengembangkan intelektual peserta didik dalam rangka  mencerdaskan kehidupan bangsa. Kepala Madrasah sebagai pemimpin pendidikan perannya sangat penting untuk membantu guru dan muridnya (Putri, 2018).

Seiring waktu, pengelolaan informasi mulai berkembang. Tidak hanya disimpan sebagai arsip, tetapi juga mulai dipublikasikan melalui media sosial. Prosesnya tentu tidak langsung lancar. Ada tahap mencoba, belajar, bahkan melakukan kesalahan—baik dalam menentukan format konten maupun cara penyampaiannya. Namun, dari proses itu mulai muncul pemahaman bahwa konsistensi dan kualitas itu penting. sosial media berperan lebih efektif dalam tindakan bersosialisasi atau partisipasi dan mempengaruhi publik, bukan mengontrol mereka ataupun memberikan pernyataan (Setyawan et al., 2020). Penggunaan fasilitas komunikasi yang semakin canggih memberikan peluang bagi setiap individu untuk mengakses informasi sesuai keinginan (Juwita et al., 2015)

Dorongan untuk mengembangkan media sosial juga datang dari kebutuhan membangun citra positif madrasah. Media sosial tidak lagi sekadar tempat berbagi informasi, tetapi menjadi “wajah” madrasah di mata publik. Karena itu, konten mulai dirancang lebih matang, baik dari segi isi, bahasa, maupun tampilan. Pengelola media sosial juga mulai belajar menulis caption yang lebih komunikatif dan mengelola dokumentasi dengan lebih rapi. Kepercayaan publik terhadap sekolah selain tumbuh melalui penanaman persepsi publik, juga harus memiliki identitas sekolah yang mencirikan perbedaan karakteristik dengan sekolah lain, sehingga citra atau brand yang baik dapat diraih (Ramadhani, 2022). 

Pada akhirnya, upaya ini berkembang menjadi sistem pengelolaan media sosial yang lebih tertata. Pengelola berperan sebagai penghubung antara data kegiatan dan publikasi digital. Dengan menggabungkan ketelitian dalam mengelola data dan kreativitas dalam menyampaikan informasi, media sosial madrasah bisa dikelola lebih efektif. Proses ini menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil, asalkan dilakukan dengan konsisten dan mau terus belajar. pengelolaan media sosial memerlukan dukungan manajerial yang kuat agar dapat berfungsi secara strategis dalam mendukung tujuan kelembagaan (Anisa & Ifendi, 2026).

B. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus untuk memahami secara lebih mendalam proses pengembangan media sosial di MIN 1 Kulon Progo. Pendekatan ini dipilih karena mampu menggambarkan kondisi nyata di lapangan secara utuh. Fokus penelitian meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pengelolaan media sosial sebagai sarana publikasi madrasah.

Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi digunakan untuk melihat langsung proses pengelolaan media sosial. Wawancara dilakukan untuk menggali informasi dari pihak-pihak yang terlibat. Sementara itu, dokumentasi digunakan sebagai data pendukung, seperti arsip kegiatan dan unggahan media sosial.

Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan metode, sehingga hasil penelitian dapat memberikan gambaran yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

C. Hasil dan Pembahasan

1. Proses Implementasi / Pengalaman Nyata

Proses pengembangan media sosial di MIN 1 Kulon Progo tidak berlangsung secara instan, melainkan melalui tahapan yang cukup panjang dan bertahap. Pada masa awal, kegiatan dokumentasi masih bersifat spontan. Setiap ada kegiatan madrasah, guru atau tenaga kependidikan langsung mengambil foto seadanya, tanpa konsep pengambilan gambar maupun perencanaan publikasi yang matang. Unggahan yang dibuat pun cenderung sederhana, hanya berupa foto dengan keterangan singkat, sehingga informasi yang tersampaikan belum utuh dan kurang menarik perhatian masyarakat luas.

Kondisi tersebut perlahan berubah seiring meningkatnya kebutuhan akan keterbukaan informasi dan citra lembaga di era digital. MIN 1 Kulon Progo mulai menyadari bahwa media sosial bukan sekadar ruang berbagi dokumentasi, tetapi juga menjadi wajah digital madrasah yang dilihat oleh masyarakat. Dari kesadaran ini, pengelolaan media sosial mulai diarahkan secara lebih terstruktur. Tim publikasi mulai menyusun perencanaan konten, menentukan jenis unggahan seperti berita kegiatan, prestasi siswa, maupun informasi layanan madrasah. Selain itu, penjadwalan unggahan juga mulai diterapkan agar konten lebih konsisten dan tidak sporadis.

vwcxS7yHuS6Ulh3mtGUOW2GSMRhS3aIsJFg8pdFM.jpg

Gambar 1. Konten media sosial MIN 1 Kulon Progo pada Facebook, Instagram, TikTok, dan YouTube

Perbaikan juga dilakukan pada aspek teknis, seperti kualitas foto yang lebih diperhatikan, penggunaan desain sederhana untuk mempercantik tampilan, serta penyusunan caption yang lebih informatif dan komunikatif. Bahasa yang digunakan pun mulai disesuaikan agar lebih mudah dipahami oleh berbagai kalangan, tidak hanya warga madrasah tetapi juga masyarakat umum.

Ketua Publikasi MIN 1 Kulon Progo, Chafidatul Ulum, M.Pd., menjelaskan bahwa, “Awalnya kami hanya mendokumentasikan kegiatan seadanya, tanpa konsep yang jelas. Namun, seiring waktu kami menyadari bahwa media sosial bisa menjadi jembatan komunikasi dengan masyarakat. Karena itu, kami mulai menata konten, membuat jadwal unggahan, dan meningkatkan kualitas dokumentasi agar informasi yang disampaikan lebih menarik dan mudah dipahami.”

Dengan langkah-langkah tersebut, media sosial MIN 1 Kulon Progo kini tidak hanya berfungsi sebagai arsip kegiatan, tetapi telah berkembang menjadi media komunikasi yang efektif dalam membangun citra positif dan memperkuat hubungan dengan masyarakat.

rXlvGskFV8pqIZfscE9p4Inssbxhhu53NAkKS2MH.jpg

Gambar 2. Prestasi Juara I Publikasi Award Kabupaten Kulon Progo Tahun 2025

Dalam praktiknya, setiap kegiatan didokumentasikan secara lebih sistematis. Hasil dokumentasi kemudian dipilih untuk menentukan gambar atau video yang paling mewakili. Konten disusun dengan memperhatikan kejelasan informasi, bahasa yang mudah dipahami, serta pesan yang positif dan edukatif.

Proses ini juga melibatkan kerja sama berbagai pihak di madrasah. Guru dan staf memberikan informasi terkait kegiatan agar konten tetap akurat. Selain itu, pengelola media sosial juga belajar secara mandiri, seperti teknik dasar pengeditan foto, penulisan caption, dan cara membuat unggahan lebih menarik.

zNx2SAOIt4TjJ0ujZSFcRKFgNosIj1ryWVeHHaPt.jpg

          Gambar 3. Rapat koordinasi publikasi media sosial

Meski masih ada kendala, seperti keterbatasan waktu dan kemampuan teknis, proses ini terus berkembang. Dengan komitmen untuk belajar dan memperbaiki kualitas, pengelolaan media sosial menjadi lebih tertata. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pengembangan media sosial bisa dilakukan bertahap, dari kebiasaan kecil hingga menjadi sistem yang lebih rapi dan bermanfaat.

2. Dampak Pengembangan Media Sosial

a. Peserta Didik

Pengembangan media sosial di MIN 1 Kulon Progo tidak hanya berdampak pada aspek publikasi lembaga, tetapi juga memberikan pengaruh nyata terhadap peserta didik. Salah satu dampak yang paling terlihat adalah meningkatnya motivasi belajar siswa. Ketika kegiatan pembelajaran, karya, maupun penampilan mereka dipublikasikan melalui media sosial madrasah, siswa merasa lebih dihargai. Hal ini menumbuhkan rasa bangga, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap madrasah tempat mereka belajar.

Selain itu, publikasi yang menampilkan berbagai prestasi siswa turut mendorong munculnya semangat berkompetisi secara sehat. Siswa menjadi lebih berusaha untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. Mereka juga terlihat lebih aktif dan antusias dalam mengikuti berbagai kegiatan, karena ada dorongan untuk bisa tampil dan diapresiasi. Dengan demikian, media sosial secara tidak langsung menjadi salah satu pemicu peningkatan partisipasi siswa dalam kegiatan madrasah.

Dampak lainnya adalah terbentuknya rasa percaya diri pada diri siswa. Ketika mereka melihat foto atau video dirinya tampil di media sosial madrasah, muncul keberanian untuk lebih aktif, tampil, dan berani mencoba hal baru. Pengalaman ini menjadi penting dalam proses pembentukan karakter, khususnya dalam hal kepercayaan diri dan keberanian berpendapat.

Salah satu siswa kelas VB MIN 1 Kulon Progo, Denayya Adzkia Shanum, menjelaskan bahwa, “Saya senang sekali kalau kegiatan saya di madrasah dimasukkan ke media sosial madrasah. Rasanya bangga dan jadi lebih semangat belajar. Kalau ada lomba atau kegiatan, saya juga jadi ingin ikut supaya bisa tampil lagi. Itu bikin saya lebih percaya diri di depan teman-teman.”

          Dengan demikian, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga berperan dalam membentuk sikap positif, meningkatkan motivasi, serta mengembangkan rasa percaya diri peserta didik di MIN 1 Kulon Progo.

b. Pendidik 

Bagi pendidik di MIN 1 Kulon Progo, kehadiran media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana publikasi kegiatan, tetapi juga memberikan dorongan positif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru menjadi lebih termotivasi untuk merancang kegiatan belajar yang kreatif, variatif, dan menarik. Hal ini muncul karena setiap aktivitas pembelajaran yang dipublikasikan secara tidak langsung menjadi representasi praktik mengajar yang dapat dilihat oleh masyarakat luas. Dengan demikian, guru terdorong untuk menampilkan praktik terbaiknya di dalam kelas.

Selain itu, media sosial juga berperan sebagai ruang berbagi praktik baik antarpendidik. Melalui unggahan kegiatan pembelajaran, guru dapat saling belajar dan mendapatkan inspirasi, baik dari rekan sejawat di lingkungan madrasah maupun dari lembaga pendidikan lain. Budaya saling berbagi ini perlahan membentuk ekosistem pembelajaran yang kolaboratif, di mana guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembelajar yang terus berkembang.

Dari sisi profesionalitas, publikasi kegiatan melalui media sosial turut memperkuat citra guru di mata masyarakat. Guru dipandang lebih aktif, inovatif, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Hal ini memberikan nilai tambah tersendiri, karena peran guru tidak lagi terbatas di ruang kelas, melainkan juga hadir dalam ruang digital sebagai bagian dari komunikasi publik lembaga.

Guru kelas VA MIN 1 Kulon Progo, Anggi Krisdianto, menjelaskan bahwa, “Dengan adanya media sosial madrasah, kami sebagai guru jadi lebih termotivasi untuk membuat pembelajaran yang kreatif dan menarik. Ketika kegiatan dipublikasikan, kami ingin menampilkan yang terbaik. Selain itu, kami juga bisa belajar dari unggahan guru lain, sehingga muncul semangat untuk terus berkembang dan berinovasi dalam mengajar.

Dengan demikian, media sosial tidak hanya berdampak pada aspek informasi dan publikasi, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan semangat, kolaborasi, dan profesionalitas pendidik di MIN 1 Kulon Progo.

c. Orang Tua Peserta Didik

Bagi orang tua siswa di MIN 1 Kulon Progo, keberadaan media sosial membawa kemudahan yang cukup signifikan dalam mengakses informasi. Jika sebelumnya orang tua harus menunggu laporan dari anak atau informasi resmi dari madrasah, kini mereka dapat dengan cepat mengetahui berbagai kegiatan yang berlangsung melalui unggahan di media sosial. Informasi yang disampaikan secara rutin dan aktual membuat orang tua merasa lebih dekat dengan aktivitas belajar dan keseharian anak di madrasah.

Selain itu, publikasi kegiatan juga memberikan dampak pada meningkatnya kepercayaan orang tua terhadap madrasah. Melalui foto, video, dan narasi kegiatan yang dibagikan, orang tua dapat melihat secara langsung bagaimana proses pembelajaran berlangsung, bagaimana guru berinteraksi dengan siswa, serta berbagai kegiatan pendukung lainnya. Hal ini memberikan gambaran nyata bahwa madrasah tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga pada pengembangan karakter dan keterampilan siswa.

Media sosial juga berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara madrasah dan orang tua. Meskipun tidak selalu terjadi interaksi secara langsung, keberadaan informasi yang terus diperbarui membuat orang tua merasa tetap terhubung dan terlibat dalam perkembangan anak. Rasa keterlibatan ini penting dalam membangun sinergi antara madrasah dan keluarga dalam mendukung pendidikan siswa.

Salah satu wali murid MIN 1 Kulon Progo, Nur Rohmah, menjelaskan bahwa, “Dengan adanya media sosial madrasah, saya jadi lebih mudah mengetahui kegiatan anak di sekolah tanpa harus menunggu cerita dari anak. Saya juga merasa lebih tenang karena bisa melihat langsung aktivitas mereka. Ini membuat saya semakin percaya dan merasa dekat dengan madrasah.

Dengan demikian, media sosial tidak hanya menjadi sarana penyebaran informasi, tetapi juga memperkuat hubungan emosional dan kepercayaan antara orang tua dan MIN 1 Kulon Progo.

d. Komunitas Pendidikan

Pengembangan media sosial di MIN 1 Kulon Progo tidak hanya memberikan dampak internal bagi warga madrasah, tetapi juga menjangkau komunitas pendidikan yang lebih luas. Melalui publikasi yang dilakukan secara konsisten dan terarah, berbagai kegiatan, program unggulan, serta inovasi pembelajaran yang dilaksanakan madrasah dapat diketahui oleh lembaga pendidikan lain. Hal ini menjadikan media sosial sebagai etalase digital yang menampilkan identitas dan keunggulan madrasah kepada publik.

Konten yang dibagikan tidak jarang menjadi inspirasi atau rujukan bagi lembaga lain dalam mengembangkan kegiatan serupa. Praktik-praktik baik yang ditampilkan, seperti metode pembelajaran kreatif, kegiatan kesiswaan, maupun program penguatan karakter, dapat diadaptasi sesuai dengan kondisi masing-masing lembaga. Selain itu, adanya interaksi melalui komentar atau pesan juga membuka ruang diskusi, sehingga tercipta budaya saling berbagi pengalaman dan pengetahuan antarpendidik maupun antar lembaga.

Di sisi lain, keberadaan media sosial turut memperluas jejaring kerja sama. Madrasah menjadi lebih dikenal oleh masyarakat luas maupun institusi lain, sehingga membuka peluang untuk menjalin kolaborasi, baik dalam bidang pendidikan, kegiatan sosial, maupun program pengembangan lainnya. Hal ini menjadi nilai tambah dalam upaya meningkatkan kualitas dan eksistensi madrasah di tengah perkembangan zaman.

Komite madrasah MIN 1 Kulon Progo, Gunadi, menjelaskan bahwa, “Media sosial membuat kegiatan dan inovasi madrasah lebih dikenal luas. Tidak hanya oleh orang tua, tetapi juga oleh lembaga lain. Dari situ muncul peluang untuk saling belajar dan bahkan menjalin kerja sama. Ini sangat membantu dalam mengembangkan madrasah agar semakin maju dan terbuka.”

Dengan demikian, media sosial berperan penting dalam memperluas dampak madrasah, tidak hanya sebagai sarana informasi, tetapi juga sebagai jembatan kolaborasi dalam komunitas pendidikan yang lebih luas.

D. Penutup

1. Simpulan

Pengembangan media sosial di MIN 1 Kulon Progo merupakan bentuk adaptasi terhadap perkembangan teknologi informasi. Prosesnya berjalan bertahap, dari yang awalnya sederhana hingga menjadi lebih terarah dan sistematis. Mulai dari dokumentasi, penyusunan konten, hingga publikasi dilakukan dengan lebih rapi dan memperhatikan nilai edukatif.

Dampaknya juga cukup luas. Siswa menjadi lebih termotivasi dan percaya diri, guru lebih kreatif, orang tua lebih mudah mendapatkan informasi, dan komunitas pendidikan mendapat inspirasi. Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana publikasi, tetapi juga sebagai media komunikasi dan penguatan citra madrasah.

2. Rekomendasi

Agar pengelolaan media sosial berjalan lebih optimal, diperlukan komitmen bersama untuk menjaga konsistensi. Perencanaan yang lebih matang, seperti jadwal unggahan dan pembagian tugas, perlu terus ditingkatkan.

Selain itu, peningkatan kemampuan pengelola juga penting. Pelatihan sederhana terkait penulisan konten, pengolahan visual, dan penggunaan media digital bisa membantu meningkatkan kualitas publikasi.

Terakhir, media sosial sebaiknya tidak hanya fokus pada publikasi, tetapi juga interaksi. Dengan begitu, media sosial bisa menjadi sarana komunikasi yang lebih aktif dan memperkuat hubungan antara madrasah, orang tua, dan masyarakat.

 

Daftar Pustaka

Anisa, A. N. A., & Ifendi, M. (2026). Optimalisasi Media Sosial Untuk Pemasaran Jasa Pendidikan Madrasah. J-TELITE: Journal of Transforming Education through Leadership, Innovation, and Teaching Excellence, 2(01), 16–28. https://doi.org/10.58586/ygr0m627

Fitriyanti, D. N. (2023). Manajemen Media Sosial Sekolah Di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah 2 Karanganyar. Al-Idaroh: Jurnal Studi Manajemen Pendidikan Islam, 7(1), 93–108. https://doi.org/10.54437/alidaroh.v7i1.676

Juwita, E. P., Budimansyah, D., & Nurbayani, S. (2015). Peran media sosial terhadap gaya hidup siswa. Sosietas: Jurnal Pendidikan Sosiologi, 5(1). https://doi.org/10.17509/sosietas.v5i1.1513

Muhson, A. (2010). Pengembangan media pembelajaran berbasis teknologi informasi. Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia, 8(2). https://doi.org/10.21831/jpai.v8i2.949

Putri, M. L. (2018). Implementasi manajemen perubahan pada program kelas unggulan di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Bandar Lampung [Masters, UIN Raden Intan Lampung]. https://repository.radenintan.ac.id/3153/

Ramadhani, K. (2022). Manajemen Hubungan Masyarakat (Humas) dalam pemanfaatan media sosial sebagai sarana branding di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Batu [Masters, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim]. https://etheses.uin-malang.ac.id/44195/

Setyawan, D. A., Sari, N. I., Kuswindari, I. A., Sari, D. E., Sakhara, I., & Kustiningsih, N. (2020). Optimalisasi Media Sosial Terhadap Pemasaran Di Usaha Mikro Kecil Menengah. Equilibrium: Jurnal Ekonomi-Manajemen-Akuntansi, 16(1), 37–46. https://doi.org/10.30742/equilibrium.v16i1.787

 

0

0

Loading comments...

Memuat komentar...

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis
Klaim Sertifikat & Promo 🎁
Komunitas