MENGHIDUPKAN AKSARA DAERAH MELALUI INOVASI ALAT PERAGA KAGANGA
Inovasi Media Pembelajaran Muatan Lokal Berbasis Budaya di Bengkulu Utara
Pendidikan yang baik tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjaga identitas budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Namun dalam praktiknya, pembelajaran budaya lokal sering menghadapi berbagai tantangan, terutama keterbatasan media pembelajaran yang menarik dan mudah dipahami peserta didik. Kondisi inilah yang melatarbelakangi lahirnya inovasi alat peraga Kaganga yang saya kembangkan di Bengkulu.
Saya, Yudha Adi Nugraha, bekerja sebagai tenaga kesehatan. Di luar profesi tersebut, saya memiliki perhatian besar terhadap pelestarian budaya daerah, khususnya aksara Kaganga sebagai aksara tradisional suku suku masyarakat di Bengkulu.
Inovasi alat peraga Kaganga bermula pada tahun 2020 ketika anak saya mendapatkan tugas sekolah mengenai aksara Kaganga. Saat mendampingi anak belajar, saya menemukan bahwa referensi pembelajaran sangat terbatas. Bahkan buku cetak khusus pembelajaran aksara Kaganga pun sulit ditemukan. Kondisi tersebut membuat proses belajar menjadi sulit dan kurang menarik bagi anak-anak.
Berangkat dari pengalaman tersebut, saya mulai mengembangkan sebuah alat peraga sederhana yang dapat membantu peserta didik mempelajari aksara Kaganga dengan lebih mudah, menarik, dan interaktif. Saya merancang media pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar secara visual dan praktik langsung sehingga aksara daerah tidak lagi terasa sulit dipahami.

Setelah dikembangkan, alat peraga tersebut mulai diuji coba dalam pembelajaran di SD Negeri 13 Bengkulu Utara. Hasil uji coba menunjukkan dampak yang sangat positif. Sebanyak 100% siswa yang mengikuti pembelajaran menyatakan bahwa alat peraga tersebut membantu mereka mempelajari aksara Kaganga dengan lebih mudah dan menyenangkan.



Melihat efektivitas inovasi tersebut, saya terus mengembangkan dan menyempurnakan alat peraga Kaganga agar dapat digunakan lebih luas dalam pembelajaran muatan lokal di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.
Pada tahun 2022, saya mengikuti lomba inovasi tingkat Provinsi Bengkulu dengan membawa inovasi alat peraga Kaganga tersebut. Inovasi ini berhasil meraih juara tingkat provinsi karena dinilai mampu menghadirkan solusi kreatif dalam pembelajaran budaya lokal. Atas pencapaian tersebut, saya juga menerima penghargaan tambahan dari Bupati Bengkulu Utara sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi inovasi dalam bidang pendidikan dan budaya daerah.


Penghargaan tersebut semakin memperluas keterlibatan saya dalam kegiatan pendidikan dan pelestarian budaya di daerah. Saya dipercaya menjadi juri Festival Tunas Bahasa Ibu, khususnya sebagai juri lomba aksara Kaganga di Kabupaten Bengkulu Utara. Kegiatan tersebut menjadi ruang penting untuk mendorong generasi muda lebih mengenal dan mencintai bahasa serta aksara daerahnya sendiri.
Perjalanan inovasi ini terus berkembang. Pada tahun 2024, Balai Bahasa Bengkulu meminta saya menulis artikel mengenai inovasi alat peraga Kaganga yang saya ciptakan. Artikel tersebut kemudian diterbitkan pada Juni 2024 sebagai bagian dari upaya dokumentasi dan pengembangan pembelajaran budaya lokal di Bengkulu.


Selanjutnya pada tahun 2025, saya memperoleh penghargaan berupa fasilitasi pemajuan kebudayaan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Bengkulu dan Lampung. Melalui program tersebut, saya menggagas kegiatan “Antologi 1000 Sajak Aksara Kaganga oleh 1000 Siswa dan Guru di Kabupaten Bengkulu Utara”. https://www.instagram.com/p/DNlb6GhJ3Nb/?img_index=9&igsh=MWxpM245NDY4ZGt5eQ==

Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, alat peraga Kaganga yang saya ciptakan dibagikan secara gratis kepada 1.000 siswa sebagai media belajar menulis aksara Kaganga. Peserta kemudian menulis karya sajak menggunakan aksara Kaganga dan seluruh karya tersebut berhasil dihimpun menjadi sebuah buku antologi 1000 sajak aksara kaganga oleh 1000 siswa di bengkulu utara.






Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa inovasi alat peraga Kaganga tidak hanya membantu proses pembelajaran di kelas, tetapi juga mampu mendorong lahirnya karya literasi budaya dalam skala besar. Peserta didik yang sebelumnya kesulitan mengenal aksara daerah kini mampu menulis dan berkarya menggunakan aksara Kaganga dengan lebih percaya diri.
Testimoni https://drive.google.com/drive/folders/1HFN1i9imoVl2liRe9gSRxuz3ND1GLNdJ?usp=sharing
Hingga saat ini, alat peraga Kaganga masih terus digunakan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah. Guru memanfaatkan media tersebut untuk menciptakan pembelajaran yang lebih aktif, kreatif, dan kontekstual sesuai kebutuhan peserta didik.
Dampak inovasi ini tidak hanya terlihat dari meningkatnya kemampuan siswa dalam mempelajari aksara Kaganga, tetapi juga tumbuhnya rasa bangga terhadap budaya lokal. Peserta didik mulai memahami bahwa aksara Kaganga merupakan bagian penting dari identitas budaya Bengkulu yang perlu dijaga dan diwariskan.
Saya meyakini bahwa inovasi dalam pendidikan tidak selalu harus berbasis teknologi tinggi. Inovasi dapat lahir dari kepedulian terhadap masalah sederhana di sekitar kita, kemudian dikembangkan menjadi solusi yang memberikan manfaat nyata bagi peserta didik dan dunia pendidikan.
Melalui inovasi alat peraga Kaganga ini, saya berharap pembelajaran budaya lokal dapat terus berkembang secara kreatif dan relevan dengan kebutuhan generasi muda. Dengan demikian, aksara Kaganga tidak hanya menjadi warisan sejarah, tetapi tetap hidup dan digunakan dalam dunia pendidikan formal.
Karena menjaga budaya melalui pendidikan berarti menjaga identitas dan masa depan generasi bangsa.