Dunia Pendidikan 09 Sep 2026

Menggugat Budaya Pura-Pura Baik-Baik Saja di Bangku Kuliah

Menggugat Budaya Pura-Pura Baik-Baik Saja di Bangku Kuliah

Di balik tuntutan untuk selalu produktif dan kompetitif, banyak mahasiswa diam-diam berjuang menghadapi tekanan sosial, kecemasan, dan rasa tidak percaya diri. Artikel ini mengulas akar permasalahan tersebut serta langkah-langkah sederhana untuk membangun kesehatan mental yang lebih baik.

Bayu Maulana

Bayu Maulana

4x Dilihat


Bagikan

Ada sebuah narasi yang tidak tertulis di dunia mahasiswa yaitu kita harus selalu terlihat produktif, ekspresif, cepat, dan tanpa celah. Baik itu di dalam media sosial maupun di dalam kampus, kompetisi sudah bukan lagi soal nilai akademis, melainkan siapa yang paling lihai dalam membaur dan paling cepat menyelesaikan masalah. Namun, jika kita mau menyingkap topeng itu sedikit saja, maka kita akan menemukan realitas yang kontradiktif yaitu masih banyak di antara kita yang sebenarnya sedang mengalami banyak kesulitan, terjebak dalam ruang sunyi pikiran sendiri, dan memilih berpura-pura baik-baik saja. Setiap orang pasti  memang mempunyai mekanisme tersendiri dalam menghadapi badai kehidupan. Namun, mengapa memendam masalah sendirian kini seolah menjadi pilihan populer? Mengapa ruang kelas yang penuh manusia justru sering kali terasa begitu mengintimidasi?

Ruang Kelas dan Ilusi Kompetisi Sosial

Masalah pertama bersumber dari pola pikir yang sering keliru tentang kemandirian. Banyak sekali mahasiswa merasa bahwa ketika mereka menceritakan kesulitan hidup kepada orang lain adalah bentuk dari kelemahan atau tindakan yang "merepotkan". Asumsi bahwa "masalah akan selesai sendiri seiring waktu" membuat mereka untuk terus menarik diri mereka dari lingkungan sekitar. Secara psikologis, hal ini merupakan alarm bahaya. Ketika kemampuan keterbukaan diri (self-disclosure) disumbat, yang akan terjadi bukanlah kedewasaan melainkan kecanggungan sosial. Sehingga kita akan menjadi bingung bagaimana memulai obrolan, merasa asing di tengah keramaian, dan perlahan mengikis kedekatan hubungan dengan orang-orang di sekitar kita.

Kondisi ini dapat diperparah oleh racun yang bernama perbandingan sosial (social comparison). Kita hidup di era yang di mana kita konstan membandingkan diri kita dengan orang lain. Akibatnya, akan muncul Impostor Syndrome dimana perasaan bahwa kita adalah seorang yang tidak layak berada di lingkungan sosial kita. Hal ini karena saat melihat teman lain lebih supel, muncul bisikan negatif seperti "Aku tidak cukup asyik untuk berada di sini." Perasaan inferior inilah yang membuat kita memandang sinis terhadap ketulusan orang lain; ajakan berkumpul dari teman pun sering disalah artikan sebagai rasa kasihan belaka.

Korban Ritme Zaman: Antara "Lelet" dan Ketakutan Dinilai

Dua hambatan lain yang sering membuat mahasiswa mengunci potensi mereka adalah tekanan waktu dan ketakutan akan evaluasi negatif. Pertama, mengenai ritme kerja ada sebagian mahasiswa yang memiliki gaya berpikir mendalam, teliti, dan berprinsip "pelan tapi pasti" hal ini membuat ketika berada di tengah sistem yang menuntut serba instan dan cepat, individu dengan karakteristik ini akan kerap dicap lambat atau kurang sigap. Tekanan tenggat waktu (deadline) bukan memacu produktivitas mereka, melainkan memicu kepanikan kognitif (cognitive load) yang membuat fokus berantakan. Akibatnya sering dibanding-bandingkan dengan mereka yang bergerak cepat, rasa percaya diri mereka kembali merosot.

Kedua, fenomena membisu di ruang kelas. Banyak dari mahasiswa yang sebenarnya tahu jawaban dari pertanyaan dosen, tetapi mereka akan memilih menelan kembali kata-kata itu? hal ini karena ketakutan akan ditertawakan, ketakutan dianggap tidak pintar, atau merasa opini kita tidak berbobot adalah bentuk nyata dari rendahnya self-efficacy (keyakinan diri). Sehingga mereka sering kali melakukan perilaku menghindar (avoidance behavior) demi melindungi diri dari penolakan, tanpa sadar bahwa tindakan itu justru membunuh kesempatan kita untuk berkembang.

Membuka Katup Penyelamat: Langkah Realistis yang Bisa Kita Ambil

Ketika mulai merasa merefleksikan satu atau beberapa kondisi di atas, ingatlah bahwa kita itu tidak sendirian, dan ini bukan akhir dari segalanya. Langkah penyembuhan tidak harus berupa lompatan besar melainkan bisa perubahan-perubahan kecil yang konsisten:

  1. Normalisasi Berbagi Cerita dimana kita harus meruntuhkan ego pola pikir bahwa bercerita itu merepotkan. Berbagi beban psikologis dengan teman dekat atau keluarga adalah hal yang wajar dan sehat. Oleh karena itu kita bisa memulai dengan hal-hal kecil seperti ini.
  2. Berlatih Komunikasi Tanpa Menghakimi Diri dimana kita harus singkirkan dialog batin yang negatif (negative self-talk). Jangan mengadili diri sendiri sebelum orang lain memberikan penilaian. Saat berinteraksi, fokuslah pada jalannya komunikasi, bukan pada spekulasi isi kepala orang lain terhadap Anda.
  3. Gunakan Strategi Penguraian Tugas dimana ketika memiliki rasa panik oleh tekanan waktu, mulailah memetakan tugas lebih awal. Buat skala prioritas (to-do list) dan pecah tugas besar menjadi bagian-bagian kecil agar otak tidak mengalami kelelahan kognitif.
  4. Katakan Lewat Tulisan (Journaling) hal ini karena ketika mulut masih terlalu kaku untuk bersuara, biarkan pena saja yang berbicara. Menuliskan kecemasan dan emosi yang dirasakan terbukti efektif mengelola stres dan mencegah emosi menumpuk.
  5. Apresiasi Langkah Kecil: Setiap kali ketika berhasil mengalahkan ketakutan seperti berani menyapa teman duluan atau mengangkat tangan di kelas berikan penghargaan pada diri sendiri. Itu adalah bukti bahwa self-efficacy Anda sedang tumbuh.

Oleh karena itu menjadi seorang mahasiswa bukan berarti kita harus menjadi manusia super yang kebal terhadap masalah dan kecemasan apa pun. Mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja, menerima bahwa ritme berpikir kita berbeda, dan berani membuka diri adalah bentuk dari keberanian yang sesungguhnya. Kampus adalah laboratorium tempat kita boleh melakukan kesalahan. Sehingga sudah saatnya kita berhenti memendam semuanya sendiri, meruntuhkan dinding pembatas, dan mulai saling mendengarkan secara tulus..


Penyunting: Cahya

Ruang Diskusi

Loading comments...

Memuat diskusi menarik...

Akses Terbatas?
Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Sekarang Juga!

Ikuti pelatihan dan event secara gratis, perluas wawasan, dan dapatkan sertifikat ber-JP yang akan membantu kenaikan pangkat di tempat kerja Anda.

Daftar Akun Gratis

Halo! 👋 Ada yang bisa GuruInovatif bantu hari ini?

GuruInovatif Live Chat