Mengarungi Dua Dekade Pendidikan: Dedikasi, Inovasi, dan Transformasi Pembelajaran dari Kutai Timur - Guruinovatif.id

Diterbitkan 04 Mei 2026

Mengarungi Dua Dekade Pendidikan: Dedikasi, Inovasi, dan Transformasi Pembelajaran dari Kutai Timur

Mengabdi selama 20 tahun di Kutai Timur, Priliani Rukmiyanti membuktikan bahwa pendidikan adalah katalisator perubahan. Artikel ini merekam perjalanan dedikasi dan inovasinya—mulai dari mendobrak stigma kelas Bahasa Inggris, memadukan kearifan lokal dengan teknologi AI, hingga mencetak hattrick Juar

Cerita Guru

Priliani Rukmiyanti

Kunjungi Profile
7x
Bagikan

Babak Pertama: Sebuah Panggilan Jiwa di Ujung Timur Kalimantan

Pendidikan sejati tidak pernah berhenti pada batas-batas dinding ruang kelas, melainkan meluas menjadi sebuah ekosistem kehidupan yang membentuk karakter, merajut asa, dan membangun peradaban manusia. Nama saya Priliani Rukmiyanti. Selama dua dekade terakhir—sebuah rentang waktu 20 tahun yang penuh dinamika—saya telah mendedikasikan hidup saya sebagai seorang guru Bahasa Inggris di SMP YPPSB Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Mengabdi di daerah yang dikenal dengan kekayaan sumber daya alamnya memberikan saya sebuah perspektif yang mendalam: bahwa investasi terbaik dan paling abadi bagi sebuah bangsa bukanlah pada tambang atau mineral di dalam perut bumi, melainkan pada kualitas sumber daya manusia yang ada di atasnya.

Menyadari tanggung jawab moral yang besar tersebut, saya memegang teguh sebuah prinsip fundamental dalam perjalanan karier saya: seorang pendidik yang berhasrat menjadi teladan bagi murid-muridnya tidak boleh memiliki titik henti dalam belajar. Jika kita ingin anak didik kita menjadi pembelajar sepanjang hayat, maka guru harus terlebih dahulu memberikan contoh nyata. Prinsip inilah yang terus menyalakan api semangat saya untuk secara konsisten mengembangkan kapasitas diri. Bermula dari menyelesaikan studi S1 Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Negeri Surabaya, hingga kini, di tengah padatnya rutinitas mengajar, mendidik, dan berorganisasi, saya kembali menantang diri untuk duduk di bangku kuliah, menempuh pendidikan pascasarjana di Universitas Mulawarman Samarinda yang saat ini telah menginjak semester keempat. Perjalanan akademis ini bukan semata-mata untuk gelar, melainkan untuk memperkaya keilmuan pedagogik agar saya dapat menyajikan pengalaman belajar yang selalu relevan dengan perkembangan zaman.

Mendobrak Stigma: Menciptakan Ruang Aman dan Nyaman dalam Belajar Bahasa Inggris

Dalam konteks pendidikan di Indonesia, Bahasa Inggris sering kali dianggap sebagai mata pelajaran yang menakutkan, sulit, dan penuh dengan aturan tata bahasa yang kaku. Banyak anak didik yang datang ke kelas dengan beban psikologis dan rasa tidak percaya diri yang tinggi. Menyadari hal ini, langkah pertama yang selalu saya lakukan sebagai seorang guru adalah membangun ikatan emosional dan menciptakan lingkungan belajar yang aman (safe space) bagi mereka. Saya berupaya keras meruntuhkan dinding pembatas antara guru dan murid, menjadikan diri saya sebagai fasilitator dan teman belajar yang mendengarkan.

Bagi saya, anak-anak harus merasa nyaman terlebih dahulu sebelum mereka bisa menyerap materi pembelajaran. Saya menanamkan pemahaman bahwa membuat kesalahan dalam berbahasa adalah bagian alami dan krusial dari proses pembelajaran. Tidak ada hukuman untuk kesalahan pengucapan; yang ada hanyalah apresiasi atas keberanian untuk mencoba. Pendekatan psikologis ini terbukti memberikan dampak emosional yang sangat positif. Binar mata ketakutan perlahan berubah menjadi antusiasme. Murid-murid yang awalnya pasif menjadi lebih berani mengangkat tangan, merangkai kata, dan mengekspresikan gagasan mereka. Kepercayaan diri inilah yang menjadi fondasi utama sebelum kita berbicara tentang kompetensi linguistik.

Integrasi Digital dan Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)

Seiring dengan bergulirnya waktu, karakteristik peserta didik pun berubah. Kita kini berhadapan dengan generasi digital native yang cara berpikir dan gaya belajarnya sangat lekat dengan teknologi. Untuk merespons tantangan ini, saya secara aktif dan konsisten mengajak murid-murid saya untuk menggunakan berbagai perangkat digital bukan hanya sebagai alat hiburan, melainkan sebagai instrumen pembelajaran bermakna. Saya mengimplementasikan konsep Deep Learning (pembelajaran mendalam), di mana siswa tidak lagi belajar di permukaan sekadar untuk menghafal kosakata atau rumus tata bahasa, melainkan menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.

Transformasi digital di kelas saya wujudkan dalam berbagai bentuk proyek nyata. Anak-anak diajak untuk membuat karya kreatif, memproduksi video, hingga memanfaatkan Kecerdasan Artifisial (AI) dan platform seperti Canva dan Assemblr Edu (Augmented Reality) dalam mempresentasikan proyek Bahasa Inggris mereka. Sebagai contoh, pada tahun 2025, saya memandu kreasi video siswa SMP YPPSB yang memanfaatkan AI, berkolaborasi dengan Putri Budaya Kalimantan Timur. Saya sendiri membekali diri dengan sertifikasi sebagai Google Certified Educator pada tahun 2022 serta menjadi Trainer Nasional Canva. Melalui deep learning, anak-anak didorong untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, dan berkolaborasi. Mereka belajar Bahasa Inggris bukan sebagai subjek hafalan, melainkan sebagai alat komunikasi nyata untuk menyampaikan ide-ide besar mereka ke dunia yang lebih luas.

Pembelajaran Kontekstual: Lingkungan Sekolah sebagai Laboratorium Kehidupan

Selain integrasi digital, saya sangat meyakini kekuatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Ruang kelas dengan empat sisi temboknya sering kali membatasi imajinasi anak. Oleh karena itu, saya sering membawa pembelajaran keluar kelas, memanfaatkan lingkungan sekolah dan sekitarnya sebagai laboratorium kehidupan yang kaya akan sumber belajar. Anak-anak saya ajak untuk mengobservasi alam, berinteraksi dengan berbagai elemen di lingkungan sekolah, dan mendeskripsikannya dalam Bahasa Inggris.

Mereka mungkin melakukan simulasi wawancara dengan staf sekolah, membuat kampanye lingkungan hidup menggunakan Bahasa Inggris di mading sekolah, atau melakukan proyek penjelajahan flora dan fauna di taman sekolah sambil mempraktikkan teks deskriptif dan naratif. Dengan mendekatkan materi pelajaran pada realitas kehidupan sehari-hari mereka, Bahasa Inggris menjadi lebih hidup, membumi, dan relevan. Pembelajaran kontekstual ini tidak hanya mengasah keterampilan kognitif mereka, tetapi juga menumbuhkan karakter peduli lingkungan, kolaborasi, dan kemandirian. Gabungan antara kenyamanan psikologis, alat digital yang canggih, dan konteks lingkungan yang nyata membuat kelas Bahasa Inggris menjadi pengalaman yang selalu dinantikan oleh para siswa.

Inovasi Melampaui Batas Krisis dan Jejak Prestasi

Mentalitas seorang inovator paling diuji ketika dihadapkan pada masa krisis. Ketika pandemi COVID-19 melumpuhkan sistem tatap muka, saya menolak menyerah. Pengalaman dan solusi kreatif selama masa krisis tersebut saya tuangkan melalui karya tulis "English Teaching Practices in Indonesia During Covid-19 Crisis" (2020) serta "Pancarona Pada Masa Korona" (2021). Pendekatan yang adaptif dan berpusat pada murid ini akhirnya membuahkan apresiasi yang luar biasa dalam ajang apresiasi guru yang diselenggarakan setiap tahun oleh Kementerian Pendidikan dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional.

Pada ajang bergengsi tahunan dari Kementerian Pendidikan tersebut, saya berhasil meraih predikat sebagai Guru Inspiratif Juara 1 di tingkat Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2022. Semangat berinovasi ini terus saya pertahankan secara konsisten. Pada tahun 2023, saya menorehkan prestasi sebagai Juara 1 Guru Inovatif tingkat Provinsi Kalimantan Timur melalui cerita praktik baik "Pembelajaran Berdiferensiasi melalui Google Sites". Dalam inovasi ini, saya mengintegrasikan pendekatan TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) di kelas 8, di mana murid menggunakan Google Sites sebagai portofolio digital interaktif. Melalui situs web tersebut, mereka menceritakan pengalaman bermain permainan tradisional anak Kalimantan Timur—seperti balogo, asen naga, dan sumpit. Pembelajaran ini sukses memenuhi kebutuhan murid sebagai digital native sekaligus melestarikan budaya lokal melalui diferensiasi konten, proses, dan produk.

Setahun berselang, di ajang yang sama pada tahun 2024, saya kembali dinobatkan sebagai Juara 1 Guru Inovatif Provinsi Kalimantan Timur. Kali ini, saya mengangkat praktik baik Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) bertajuk "Jejak Hijau di Tanah Tambang". Menyadari lingkungan sekolah yang berada di jantung aktivitas pertambangan PT KPC, saya mengajak murid kelas 7 untuk berpikir kritis menyeimbangkan manfaat ekonomi dan kelestarian alam. Puncak inovasi dari proyek ini adalah murid-murid mengampanyekan pentingnya reklamasi lahan bekas tambang dengan cara yang sangat kekinian, yakni menciptakan lagu kampanye lingkungan menggunakan teknologi Kecerdasan Artifisial (Suno AI).

Konsistensi karya praktik baik yang memadukan teknologi canggih (Google Sites dan AI) dengan pelestarian kearifan lokal serta kepedulian lingkungan inilah yang membawa saya melangkah lebih jauh sebagai wakil Provinsi Kalimantan Timur di ajang apresiasi guru tingkat nasional pada puncak peringatan Hari Guru. Lebih lanjut, di luar kompetisi formal, saya juga aktif memoderatori berbagai forum pemberdayaan siswi, seperti podcast edukatif bersama Putri Pelajar Kutai Timur bertema "Kartini Masa Kini yang Menginspirasi" di awal tahun 2026, yang dirancang khusus untuk memompa kepercayaan diri generasi muda, terutama para perempuan.

Menggerakkan Ekosistem Pendidik melalui Kolaborasi

Dampak seorang guru sejati harus beresonansi melampaui sekolahnya sendiri. Karena itu, saya secara proaktif mengambil peran kepemimpinan dalam berbagai komunitas. Saya diamanahkan sebagai Ketua Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Kabupaten Kutai Timur (2023-2026), pengurus inti MGMP Bahasa Inggris Kutai Timur, pengurus inti Komunitas Belajar Etam Kutai Timur (KBGP). Lulus sebagai Guru Penggerak Angkatan V (2023), saya kini mengemban tugas sebagai Pengajar Praktik Pendidikan Guru Penggerak Angkatan XI (2024). Di tingkat provinsi, saya berkontribusi besar bersama Balai Guru Penggerak (BGP) Kalimantan Timur sebagai koordinator penulis dan narasumber. Kami berhasil mengkurasi dan membukukan puluhan karya praktik baik guru dari penjuru daerah yang mengangkat kearifan lokal. Di tahun 2025, saya kembali menjadi narasumber untuk penulisan antologi "Etam Kayuh Bebaya Jilid II" terkait Gerakan Numerasi Nasional dan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat bersama BGTK Kaltim.

Menjadi Agen Perubahan Melalui Komunitas APTP Binaan BPMP Kalimantan Timur

Dalam dua tahun terakhir, spektrum pengabdian saya semakin meluas dan strategis. Saya merasa sangat bersyukur dan tertantang ketika bergabung dengan komunitas Agen Penggerak Transformasi Pendidikan (APTP), sebuah komunitas eksklusif dan berdampak tinggi yang merupakan binaan langsung dari Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Kalimantan Timur. Dalam wadah APTP ini, saya tidak berjalan sendiri. Saya berkolaborasi erat dengan rekan-rekan guru hebat perwakilan dari setiap kabupaten dan kota di seluruh penjuru Kalimantan Timur.

Kami memiliki misi yang sama: menjadi motor penggerak terdepan dalam mengawal transformasi kebijakan pendidikan, mendorong inovasi, dan memastikan penjaminan mutu pendidikan yang merata. Keterlibatan saya di APTP memungkinkan saya untuk berbagi visi pada skala makro. Saya kerap kali dipercaya untuk menjadi narasumber utama maupun moderator dalam berbagai seri webinar pendidikan dan lokakarya yang diselenggarakan oleh BPMP bagi seluruh guru, kepala sekolah, dan pemangku kepentingan pendidikan di Kalimantan Timur. Misalnya, saya berkesempatan memoderatori Webinar Sosialisasi dan Praktik Baik "Bintang Sobat SMP" tahun 2026 bersama BPMP Kaltim.

Menjadi fasilitator dalam forum-forum tingkat provinsi ini memberikan saya ruang untuk menyebarluaskan praktik-praktik baik terkait pembelajaran berpusat pada anak, integrasi digital, pemanfaatan lingkungan, hingga strategi membangun iklim sekolah yang inklusif dan aman. Melalui APTP, saya melihat langsung bagaimana ide-ide inovatif yang awalnya hanya diterapkan di ruang kelas saya di Kutai Timur, kini bisa diadaptasi dan direplikasi oleh guru-guru lain di berbagai wilayah di Kalimantan Timur, menciptakan gelombang perubahan positif yang eksponensial.

Kesimpulan: Lentera Pendidikan yang Terus Menyala

Perjalanan panjang selama dua dekade menapaki jalan sunyi pendidikan ini menegaskan satu hal fundamental: dampak terbesar seorang pendidik tidak akan pernah bisa diukur semata-mata dari nilai ujian anak-anaknya. Dampak sejati diukur dari seberapa jauh kita mampu menyentuh sisi kemanusiaan mereka, membuat mereka merasa dihargai, menumbuhkan nalar kritis mereka melalui deep learning, serta mendekatkan mereka dengan lingkungan sekitarnya. Lebih dari itu, dampak pendidikan juga diukur dari keberanian kita keluar dari zona nyaman, berbagi ilmu dengan rekan sejawat, dan menggerakkan komunitas pendidikan skala daerah hingga provinsi.

Sebagai seorang guru yang terus belajar, inovator pembelajaran, penulis, dan agen penggerak komunitas dari KGBN hingga APTP BPMP Kalimantan Timur, dedikasi saya tak akan pernah surut. Saya berkomitmen untuk terus menjadikan diri ini sebagai instrumen pendidikan yang berdampak, menyalakan pelita harapan di setiap sudut ruang kelas, memberdayakan sesama pendidik, dan melahirkan generasi cerdas berkarakter luhur. Dari Kutai Timur untuk kemajuan dan kejayaan pendidikan Indonesia.

tFWEckGU1ILZGcvpPI8Ht6pKpGOjpziYjbP7ThoY.jpg

0

0

Loading comments...

Memuat komentar...

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis
Klaim Sertifikat & Promo 🎁
Komunitas