MENEMBUS BATAS MENCETAK GURU BERKUALITAS
SD Negeri Sidomulyo Kecamatan Bukit Kemuning Kabupaten Lampung Utara, berdiri di tengah wilayah perbukitan yang sunyi dan berbatasan langsung dengan hutan kawasan, dengan jarak sekitar setengah kilometer dari area tersebut. Letaknya yang jauh dari pusat keramaian kota serta jumlah penduduk desa yang relatif sedikit menjadikan sekolah ini berada dalam berbagai keterbatasan. Dalam kondisi tersebut, sebagai kepala sekolah saya sadar, peran kepala sekolah di sekolah ini sangat penting sebagai penggerak perubahan, khususnya dalam memotivasi para guru agar mampu berkembang, berinovasi, dan terus bergerak menuju pembelajaran yang lebih baik. Upaya ini menjadi langkah awal dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih bermutu meskipun berada di daerah yang terpencil.
SD Negeri Sidomulyo memiliki sepuluh orang guru, yang terdiri dari lima orang berstatus PNS dan Lima orang berstatus sebagai guru honorer. Sebagian guru di SD Sidomulyo masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam melaksanakan pembelajaran. Minimnya akses terhadap informasi dan pelatihan, serta letak sekolah yang jauh dari pusat perkembangan pendidikan, Membuat inovasi pembelajaran belum berkembang secara optimal. Proses belajar mengajar cenderung berjalan secara konvensional dan kurang variatif, sehingga belum sepenuhnya mampu mengakomodasi kebutuhan dan karakteristik siswa yang beragam. Selain itu, motivasi guru untuk melakukan perubahan juga masih perlu ditingkatkan, karena terbiasa dengan pola lama dan kurangnya dorongan untuk mencoba hal-hal baru. Mereka merasa pesimis untuk mampu seperti guru di sekolah lain, di tahun 2024 mereka belum terdata sebagai peserta PPG dalam jabatan, terkendala dengan validasi data maupun informasi tentang hal itu. Banyaknya kemudahan yang diberikan pemerintah seperti kuliah gratispun sangat minim informasi. Kondisi inilah yang kemudian menjadi tantangan sekaligus dasar bagi saya sebagai kepala sekolah untuk mulai menggerakkan perubahan di lingkungan sekolah.
Guru di SD Sidomulyo juga menghadapi tantangan fisik yang tidak ringan. Setiap hari, mereka harus menempuh perjalanan menuju sekolah melalui jalanan yang terjal dan berliku, melintasi perbukitan yang cukup menantang. Akses yang belum sepenuhnya memadai membuat perjalanan menjadi tidak mudah, terlebih saat kondisi cuaca kurang bersahabat. Namun demikian, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan langkah mereka untuk tetap hadir dan menjalankan tugas sebagai pendidik.
Perjuangan inilah yang semakin menyentuh hati saya. Di tengah segala keterbatasan dan medan yang harus dilalui, para guru tetap menunjukkan dedikasi yang tinggi. Hal ini menjadi dorongan kuat bagi saya untuk tidak hanya melihat keterbatasan sebagai hambatan, tetapi sebagai alasan untuk menghadirkan perubahan. Saya meyakini bahwa dengan semangat dan komitmen yang sudah dimiliki para guru, mereka hanya membutuhkan arahan, motivasi, dan kesempatan untuk berkembang agar mampu memberikan pembelajaran yang lebih baik bagi siswa.
Tidak hanya menghadapi medan yang sulit, sebagian guru di SD Sidomulyo juga telah mengabdi sebagai tenaga honorer selama lebih dari 13 tahun tanpa kepastian pengangkatan. Dalam kurun waktu yang panjang tersebut, mereka tetap setia menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, meskipun kesejahteraan yang diterima masih jauh dari kata memadai.
Kondisi ini menjadi realitas yang tidak mudah, karena di satu sisi mereka dituntut untuk terus memberikan yang terbaik dalam pembelajaran, namun di sisi lain mereka juga harus menghadapi ketidakpastian dalam status kepegawaian mereka. Melihat hal tersebut, hati saya benar-benar tersentuh. Dedikasi yang begitu besar seharusnya diiringi dengan kesempatan untuk berkembang dan mendapatkan pengakuan yang layak. Hal inilah yang semakin menguatkan tekad saya untuk hadir tidak hanya sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai penggerak yang mampu mendorong para guru untuk terus meningkatkan kompetensinya, membuka peluang yang lebih baik, dan menumbuhkan kembali harapan di tengah keterbatasan yang mereka hadapi.
Kondisi tersebut membuat muncul niat yang kuat dalam diri saya untuk mendorong perubahan, khususnya dalam mengembangkan kemampuan guru-guru yang belum tersertifikasi. Saya menyadari bahwa di balik keterbatasan yang ada, para guru sebenarnya memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya tergali. Namun, keterbatasan akses, minimnya pelatihan, serta kurangnya kepercayaan diri membuat mereka belum berani melangkah lebih jauh.
Keinginan untuk bergerak ini semakin menguat ketika saya melihat secara langsung bagaimana proses pembelajaran berlangsung apa adanya, tanpa banyak inovasi, sementara siswa-siswa di SD Sidomulyo tetap memiliki semangat belajar yang tinggi meskipun berada dalam keterbatasan. Dari situlah saya merasa bahwa perubahan tidak bisa ditunda. Guru sebagai ujung tombak pendidikan perlu didampingi, dikuatkan, dan diberi ruang untuk berkembang. Bagi saya, membantu guru berkembang bukan hanya tentang meningkatkan kompetensi, tetapi juga tentang membuka harapan baru bagi masa depan siswa-siswi di lingkungan yang sederhana ini.
Langkah pertama yang saya lakukan adalah membangun pendekatan secara personal dengan para guru. Saya berusaha memahami kondisi mereka lebih dekat dengan cara berdiskusi secara terbuka mengenai berbagai kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran maupun dalam pengembangan diri. Melalui komunikasi yang hangat dan tanpa jarak, para guru mulai merasa didengar dan dihargai, sehingga perlahan tumbuh kepercayaan untuk menyampaikan berbagai permasalahan yang selama ini mereka pendam.
Selain itu, saya juga mengajak seluruh warga sekolah untuk terlibat dalam diskusi bersama guna mengidentifikasi permasalahan utama yang perlu segera dicarikan solusinya. Dalam forum tersebut, kami bersama-sama menggali ide, bertukar pikiran, dan menyusun langkah awal yang dapat dilakukan sesuai dengan kondisi sekolah. Pendekatan ini menjadi fondasi penting dalam membangun semangat kebersamaan dan menumbuhkan kesadaran bahwa perubahan bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan hasil dari kolaborasi seluruh warga sekolah.
Perbaikan data yang berhasil dilakukan membawa dampak yang sangat berarti bagi para guru. Rasa senang dan haru begitu terasa, karena untuk pertama kalinya mereka melihat adanya harapan baru yang terbuka di hadapan mereka. Validnya data tidak hanya menjadi capaian administratif, tetapi juga menjadi pintu awal bagi kesempatan yang selama ini mereka nantikan. Perubahan tersebut mulai terlihat nyata ketika dua dari lima guru honorer mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) sesuai dengan bidang yang mereka ampu. Selain itu, satu orang guru juga mendapatkan kesempatan berharga untuk melanjutkan pendidikan melalui program kuliah gratis dari pemerintah. Kesempatan ini menjadi bukti bahwa upaya yang dilakukan bersama mulai membuahkan hasil dan memberikan arah yang lebih jelas bagi masa depan mereka.
Salah satu guru, Muhapinah, terpanggil untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Sementara itu, Esti Supriyati mendapatkan kesempatan di Universitas Adzkia, dan Rosmala saat ini tengah menjalani perkuliahan di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Pencapaian ini menjadi momen yang sangat membanggakan sekaligus menguatkan keyakinan bahwa perubahan, sekecil apa pun langkah awalnya, akan membawa dampak besar ketika dilakukan dengan komitmen dan kebersamaan.
Keberhasilan ini tidak hanya meningkatkan semangat para guru, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri mereka untuk terus berkembang. Dari yang sebelumnya merasa terbatas, kini mereka mulai berani melangkah dan mempersiapkan diri menjadi pendidik yang lebih profesional. Dalam proses selanjutnya, saya terus berupaya memotivasi para guru untuk berani mengikuti setiap tahapan dalam pelaksanaan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) maupun perkuliahan yang mereka jalani. Meskipun dihadapkan pada berbagai kendala, seperti keterbatasan dalam penggunaan teknologi, akses jaringan yang belum stabil, serta sarana dan prasarana yang belum memadai, semangat untuk terus melangkah tidak boleh padam.
Saya berusaha hadir tidak hanya sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai penguat. Saya meyakinkan mereka bahwa setiap tantangan dapat dihadapi jika dilakukan bersama-sama. Dengan membangun komitmen bersama seluruh guru, kami saling mendukung dan membantu semaksimal mungkin dalam menghadapi setiap kesulitan yang muncul. Saya terus menguatkan mereka bahwa mereka mampu, bahwa mereka memiliki potensi besar yang selama ini mungkin belum sepenuhnya mereka sadari. Bagi saya, perubahan bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi tentang proses saling menguatkan dan bertumbuh bersama. Dari langkah kecil yang dimulai dengan kepercayaan dan kepedulian, kini mulai tumbuh harapan, keberanian, dan semangat baru di lingkungan sekolah. Inilah bukti bahwa ketika seorang pemimpin mampu menggerakkan dengan hati, maka perubahan nyata akan hadir, bahkan di tengah keterbatasan sekalipun.