LANTING (Langkah dan Aksi Nyata Pendidikan di Daerah Tertinggal) - Guruinovatif.id

Diterbitkan 05 Mei 2026

LANTING (Langkah dan Aksi Nyata Pendidikan di Daerah Tertinggal)

Dari pelosok Landak, seorang guru menggerakkan perubahan melalui sebuah inisiatif bernama LANTING. Dengan keterbatasan, ia menginspirasi guru lain, menghidupkan pembelajaran, dan mendorong implementasi Kurikulum Merdeka di daerah tertinggal. Kisah nyata tentang dedikasi yang berdampak luas.

Cerita Guru

Deni Ariyadi, S.Pd., Gr.

Kunjungi Profile
4x
Bagikan

Di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, ada satu kenyataan yang tak bisa diabaikan, menjadi guru bukan hanya soal mengajar di kelas, tetapi juga soal menaklukkan medan, keterbatasan, dan ketidakpastian. Jalan berlumpur, perbukitan terjal, tanpa listrik, dan akses internet yang nyaris tak tersedia adalah bagian dari keseharian. Namun di tengah kondisi itu, lahir sebuah gerakan sederhana yang perlahan menjelma menjadi kekuatan perubahan, yakni gerakan LANTING.

LANTING (Langkah Nyata untuk Transformasi Pendidikan Gemilang) bukan sekadar nama. Dalam konteks lokal Kalimantan Barat, “lanting” merepresentasikan sesuatu yang tetap bergerak mengikuti arus, lentur terhadap kondisi, namun tidak kehilangan arah. Filosofi inilah yang menjadi ruh gerakan ini yakni bergerak dalam keterbatasan, beradaptasi dengan keadaan, tetapi tetap membawa perubahan.

Gerakan ini tidak lahir dari program besar atau dukungan fasilitas lengkap, namun lahir dari kegelisahan seorang guru di SMPN 2 Air Besar, sebuah sekolah di Desa Tenguwe yang termasuk daerah 3T yang membuktikan keterbatasan bukan sekadar cerita, tetapi realitas harian.

Kegelisahan itu muncul dari satu hal yang sama di banyak sekolah, Kurikulum Merdeka sudah hadir, tetapi pemahaman belum merata terutama pada pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) atau yang saat ini dikenal dengan program kokurikuler. Banyak guru ingin bergerak, tetapi terhenti pada kebingungan.

Alih-alih menunggu solusi datang, langkah pertama justru dimulai dari diri sendiri.

Perjalanan itu dimulai dengan belajar. Tanpa pelatihan tatap muka yang merata, pemahaman dibangun secara mandiri melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM), webinar, dan berbagai forum belajar. Proses ini diperkuat dengan mengikuti seleksi sebagai Narasumber Berbagi Praktik Baik (NSBPB), yang menjadi legitimasi sekaligus tanggung jawab moral untuk berbagi.

Keyakinan itu kemudian diuji di ruang kelas sendiri. Sejak tahun 2022, implementasi Kurikulum Merdeka mulai dijalankan di SMPN 2 Air Besar melalui skema mandiri belajar, lalu berkembang menjadi mandiri berubah pada tahun 2023. Pada fase inilah P5 mulai benar-benar dilaksanakan secara terstruktur dimulai dari pembentukan tim, pemetaan kesiapan sekolah, hingga penyusunan modul projek.

Tiga tema berhasil dijalankan dalam satu tahun ajaran yakni suara demokrasi, bangunlah jiwa dan raganya serta tema kearifan Lokal. Hasilnya tidak hanya berupa produk projek, tetapi juga perubahan cara belajar peserta didik yang lebih aktif, kontekstual, dan bermakna.

Dari satu sekolah muncul gagasan yang lebih besar, bagaimana jika pengalaman ini dibagikan? Di sinilah Gerakan LANTING benar-benar dimulai. Seperti filosofi lanting yang bergerak dari satu titik ke titik lain mengikuti aliran, gerakan ini menjangkau sekolah-sekolah lain dengan membawa “muatan” praktik baik. Berbagi dimulai dari hal sederhana media sosial dan grup WhatsApp guru di Kabupaten Landak. Namun dampaknya meluas.

Dalam kurun waktu 2023 hingga 2024, setidaknya terdapat 8 kegiatan utama berbagi praktik baik yang dilakukan secara langsung, diantaranya :

  • Workshop P5 di KKG Pade Hulu 

  • Webinar pembelajaran paradigma baru 

  • IHT P5 MGMP SMP Pade Hulu

  • Pendampingan sekolah penerima BOS Kinerja Kabupaten Landak

  • Serta berbagai kegiatan di SD dan SMP di wilayah Kabupaten Landak

Tidak berhenti di tingkat lokal, praktik baik ini juga dibawa ke tingkat yang lebih luas :

  • Peserta Festival Kurikulum Merdeka tingkat Provinsi Kalimantan Barat (2024) sebagai perwakilan Kabupaten Landak

  • Peserta Potret Cerita Kurikulum Merdeka tingkat Nasional (2024) dan masuk dalam 250 nominasi karya terbaik secara nasional

Namun angka-angka itu bukan inti dari cerita ini. Yang lebih penting adalah perubahan yang terjadi. Perubahan paling nyata terlihat pada pola pikir guru. Jika sebelumnya banyak yang berkata, “Kami tidak paham harus mulai dari mana,” kini berubah menjadi, “Kami sudah mencoba, dan ternyata bisa.”

Salah satu guru peserta pendampingan di wilayah Air Besar menyampaikan, “Dulu kami pikir P5 itu sulit dan butuh fasilitas lengkap. Setelah didampingi, kami sadar bahwa yang terpenting adalah kemauan untuk mulai. Sekarang kami sudah menjalankan projek, meskipun sederhana.”

Testimoni lain datang dari guru sekolah dasar di Kecamatan Ngabang:

“Pendampingan ini membuka cara berpikir kami. Ternyata P5 bisa disesuaikan dengan kondisi sekolah. Anak-anak jadi lebih aktif dan kami sebagai guru lebih percaya diri.”

Perubahan ini tidak terjadi dalam satu pertemuan, namun tumbuh dari proses pendampingan yang berkelanjutan dan kontekstual bagaikan lanting yang terus bergerak mengikuti arus, menyesuaikan diri, tetapi tetap menuju tujuan.

Dampak emosional pun terasa kuat. Guru yang sebelumnya merasa terbebani oleh perubahan kurikulum, mulai menemukan kembali semangatnya. Mereka merasa lebih percaya diri, lebih berdaya, dan lebih terhubung dengan sesama pendidik.

Hal ini selaras dengan refleksi dari pelaksanaan Gerakan LANTING, bahwa pendampingan yang dilakukan mampu:

  • meningkatkan pemahaman guru terkait P5

  • mendorong keberanian untuk memulai implementasi

  • mempercepat adaptasi Kurikulum Merdeka di daerah 3T

Secara bertahap, dampak ini juga tercermin pada peningkatan implementasi Kurikulum Merdeka di Kabupaten Landak. Berdasarkan perkembangan lapangan selama pendampingan.

Pada tahun 2022, sekolah yang mulai mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara aktif diperkirakan masih berada di kisaran ±30%. Pada tahun 2023, setelah adanya pendampingan dan berbagi praktik baik, meningkat menjadi sekitar ±60%. Hingga tahun 2024, jumlah tersebut terus bertumbuh hingga mencapai ±80% sekolah yang mulai mengimplementasikan, khususnya dalam pelaksanaan P5 secara bertahap.

Peningkatan ini menunjukkan bahwa gerakan berbasis komunitas seperti LANTING berkontribusi dalam mempercepat transformasi pendidikan, terutama di wilayah dengan keterbatasan.

Dampak ini kemudian menjalar ke peserta didik. Melalui projek yang dijalankan, peserta didik tidak lagi hanya menjadi penerima materi, tetapi menjadi subjek aktif dalam pembelajaran. Mereka mulai berani menyampaikan pendapat, bekerja sama, dan mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari.

Tema kearifan lokal, misalnya, menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengenali identitas budaya mereka sendiri. Sesuatu yang sebelumnya jarang tersentuh dalam pembelajaran formal.

Di tingkat komunitas, perubahan juga terlihat jelas. Sekolah-sekolah yang telah dijangkau oleh Gerakan LANTING tidak lagi berhenti sebagai penerima manfaat, tetapi mulai menjadi agen perubahan. Mereka mulai berbagi praktik baik ke sekolah lain, menciptakan efek berantai yang memperkuat ekosistem pendidikan di Kabupaten Landak.

Komunitas belajar yang sebelumnya sulit berjalan karena keterbatasan jarak dan akses, kini mulai hidup kembali melalui semangat kolaborasi. Inilah dampak paling strategis dari gerakan ini: lahirnya budaya berbagi.

Pada akhirnya, Gerakan LANTING bukan sekadar program, tetapi sebuah gerakan perubahan berbasis inisiatif. Yang membuktikan bahwa :

  • keterbatasan tidak menghalangi inovasi

  • satu guru dapat menggerakkan banyak guru lainnya

  • perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil

Perjalanan ini juga mendapatkan pengakuan yang semakin menguatkan dampaknya. Penulis dianugerahi sebagai Guru SMP Dedikatif dalam Apresiasi GTK Kemdikbudristek Tahun 2023, serta kembali memperoleh penghargaan sebagai Guru SMP Dedikatif pada Jambore GTK Tahun 2024. Tidak hanya di tingkat nasional, apresiasi juga datang dari daerah, di mana penulis menerima beberapa penghargaan dari Bupati Landak sebagai guru yang berdedikasi dalam menjalankan tugas di tengah keterbatasan.

Penghargaan tersebut bukan sekadar capaian personal, tetapi menjadi validasi bahwa langkah-langkah kecil yang dilakukan melalui Gerakan LANTING memiliki dampak nyata dan diakui secara luas. Lebih dari itu, penghargaan ini menjadi energi baru untuk terus bergerak dan menjangkau lebih banyak pendidik.

Menjadi inspirator pendidikan bukan tentang siapa yang paling unggul, tetapi siapa yang mau bergerak terlebih dahulu.

Dari pelosok Landak, sebuah gerakan sederhana telah menunjukkan bahwa pendidikan bisa berubah bukan karena fasilitas yang lengkap, tetapi karena semangat yang terus bergerak, seperti lanting yang tak pernah berhenti mengikuti arus perubahan. Ketika satu langkah nyata dimulai, transformasi itu pun menjadi tak terelakkan.             

0

0

Loading comments...

Memuat komentar...

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis
Klaim Sertifikat & Promo 🎁
Komunitas