Tepian Sungai Mahakam menggambarkan kehidupan yang terus bergerak mengikuti perkembangan zaman. Perahu-perahu kecil dan ponton batu bara masih melintas membawa cerita tentang aktivitas masyarakat Samarinda. Di beberapa sudut tepian sungai, aroma makanan khas daerah masih terasa akrab dengan kehidupan masyarakat. Namun di tengah perubahan yang terus bergerak cepat, suasana kota juga perlahan ikut berubah.
Generasi muda kini tumbuh dalam dunia yang semakin dekat dengan teknologi. Gawai dan layar digital menjadi bagian dari keseharian mereka, menghadirkan berbagai informasi, dan hiburan hanya dalam genggaman tangan. Anak-anak begitu mudah mengenal informasi viral di media sosial, sehingga jejak budaya yang selama ini hidup di tengah masyarakat perlahan mulai menjauh dari ingatan mereka.
Saya sebagai guru SMK di Kota Samarinda, beberapa kali mencoba mengenalkan budaya lokal melalui penjelasan di depan kelas. Saya membawa gambar, bercerita tentang kehidupan masyarakat di tepian Mahakam, hingga menjelaskan amplang menjadi salah satu kuliner khas yang telah lama dikenal masyarakat Kalimantan Timur. Namun, suasana kelas sering terasa datar. Sebagian siswa hanya mendengarkan seperlunya, sedangkan yang lain tampak lebih tertarik pada notifikasi yang muncul di layar ponsel mereka.
“Siapa yang pernah melihat langsung proses pembuatan amplang?”
Pertanyaan itu saya lontarkan pada saat kegiatan pembelajaran di kelas XI SMK tempat saya mengajar. Tetapi ruang kelas justru dipenuhi saling pandang dan senyum kecil. Beberapa siswa menjawab dengan ragu dan lainnya justru lebih antusias membicarakan makanan yang sedang populer di media sosial. Padahal di lingkungan tempat mereka terdapat produksi amplang yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat tepian Mahakam Kota Samarinda. Makanan khas berbahan dasar ikan ini bukan sekadar camilan, tetapi merupakan jejak budaya yang menyimpan cerita tradisi yang diwariskan turun temurun, tentang hasil sungai dan laut, kerja keras masyarakat, serta identitas daerah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Saat itulah saya mulai bertanya pada diri sendiri, apakah cara mengajar saya selama ini kurang dekat dengan dunia mereka?
Kejadian di kelas membuat saya berpikir serius. Anak-anak begitu akrab dengan tren media sosial, makanan cepat saji luar negeri, dan berbagai video yang muncul setiap hari di layar gawai mereka. Kegelisahan itu semakin terasa ketika suatu hari saya meminta siswa menyebutkan makanan khas daerah yang mereka ketahui. Jawaban yang muncul justru didominasi makanan viral dari luar daerah yang sedang ramai di media sosial. Hanya sedikit yang menyebut amplang, itu pun tanpa mengetahui cerita di baliknya. Bahkan ada yang menganggap amplang hanyalah camilan biasa yang sering dijual di toko oleh-oleh.
Saya merasa pembelajaran di kelas tidak cukup hanya menyampaikan materi. Berawal dari keresahan inilah saya mulai mencoba mengubah cara belajar di kelas. Saya tidak lagi hanya mengandalkan buku dan metode ceramah, tetapi mulai memanfaatkan media digital bantuan dari Presiden Prabowo Subianto berupa Smart TV Merah Putih agar budaya lokal terasa lebih dekat dengan kehidupan siswa.
Pada salah satu pertemuan, saya membagi siswa ke dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok diminta membuat presentasi digital tentang budaya khas Kalimantan Timur. Ada yang memilih membahas tarian daerah, kain khas, hingga kuliner tradisional. Tanpa saya duga, satu kelompok memilih mengangkat amplang sebagai tema utama mereka.
Awalnya saya mengira mereka akan mengerjakan tugas itu sekadarnya saja. Namun, beberapa hari kemudian suasana kelas mulai berbeda. Anak-anak yang biasanya pasif justru terlihat sibuk berdiskusi. Mereka mencari informasi dari berbagai sumber, menyusun desain presentasi, bahkan merekam video singkat tentang proses pembuatan amplang di rumah salah satu anggota kelompok.
Melalui pembelajaran berbasis digital, siswa mulai mengeksplorasi cerita di balik amplang. Mereka mencari informasi dari berbagai sumber digital, mewawancarai keluarga, hingga mendokumentasikan proses pembuatan amplang melalui video pendek. Ada kelompok yang membuat presentasi interaktif tentang sejarah dan bahan dasar amplang, ada pula yang membuat konten kreatif untuk memperkenalkan kuliner khas Kalimantan Timur melalui media sosial pembelajaran. Salah satu siswa bercerita bahwa ia baru mengetahui sejarah amplang dari hasil wawancara dengan neneknya sendiri. Selama ini siswa tersebut hanya menganggap amplang sebagai makanan yang sering tersaji saat keluarga berkumpul. Dari tugas sederhana ini, siswa mulai memahami bahwa amplang bukan sekadar camilan khas daerah, tetapi juga bagian dari cerita kehidupan masyarakat Kalimantan Timur.
Suasana kelas yang sebelumnya cenderung pasif perlahan berubah menjadi lebih hidup. Siswa terlihat lebih antusias karena pembelajaran terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mereka tidak hanya belajar memahami materi, tetapi juga belajar bercerita, bekerja sama, berpikir kreatif, dan memanfaatkan teknologi secara lebih bermakna. Bahkan beberapa siswa mulai membagikan hasil karya mereka kepada teman dan keluarga dengan rasa bangga.
Saat melihat siswa berdiri di depan kelas sambil menampilkan video dan gambar tentang budaya lokal di Smart TV Merah Putih, saya merasakan harapan yang selama ini sempat memudar perlahan tumbuh kembali. Teknologi ternyata tidak selalu menjauhkan generasi muda dari akar budayanya. Dengan cara yang tepat, layar digital justru mampu menjadi jembatan yang menghubungkan mereka dengan cerita-cerita yang hampir terlupakan dari tepian Mahakam.
Pengalaman itu memberikan pelajaran berharga bagi saya sebagai seorang guru. Di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, pendidikan tidak hanya mengajarkan materi pelajaran tetapi juga mengenal akar budaya dan identitas daerah.
Bagi saya, keberhasilan pembelajaran bukan hanya ketika siswa mampu menyelesaikan tugas atau memperoleh nilai yang baik. Lebih dari itu, pembelajaran yang bermakna adalah ketika siswa mampu mengenali lingkungan, budaya, dan jati dirinya sendiri. Dari proses sederhana di kelas itu, saya belajar bahwa pendekatan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan siswa mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih hidup dan membekas.
Dari tepian Mahakam, saya belajar bahwa budaya dapat tetap hidup ketika dikenalkan melalui cara yang dekat dengan generasi masa kini. Layar digital yang selama ini sering dianggap membuat anak-anak semakin jauh dari lingkungan sekitarnya, ternyata juga dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya lokal. Melalui pembelajaran sederhana tentang amplang, siswa belajar menggunakan teknologi Smart TV Merah Putih sekaligus memahami bahwa budaya daerah merupakan bagian penting dari jati diri mereka.
Memuat komentar...