Di tengah beragam tantangan pendidikan nonformal, khususnya pada pendidikan kesetaraan, kebutuhan akan ruang belajar yang tidak hanya mentransfer pengetahuan tetapi juga menyentuh sisi emosional dan membangun kepercayaan diri menjadi semakin penting. Warga belajar yang datang ke pendidikan kesetaraan tidak hanya membawa keinginan untuk belajar, tetapi juga membawa cerita tentang kegagalan, keterbatasan ekonomi, putus sekolah, hingga pengalaman hidup yang membentuk keyakinan bahwa mereka “tidak cukup mampu”.
Berangkat dari kesadaran tersebut, lahirlah sebuah inisiatif sederhana namun berdampak, yakni program KAMIS BERMUTU (Kamis Bersama untuk Membaca dan Bertumbuh) di SPNF SKB (Satuan Pendidikan Nonformal Sanggar Kegiatan Belajar) Kota Bontang.
Program ini bukan sekadar kegiatan membaca bersama. Ia adalah ruang aman, ruang tumbuh, dan ruang pulih bagi warga belajar yang selama ini mungkin merasa tertinggal, kurang percaya diri, atau bahkan kehilangan arah.
Perjalanan Menghadirkan KAMIS BERMUTU
Perjalanan menghadirkan KAMIS BERMUTU tidak terlepas dari pengalaman dan peran saya sebagai pamong belajar yang saat ini mendapat amanah sebagai Plt. Kepala SPNF SKB Kota Bontang. Dalam perjalanan tersebut, saya terlebih dahulu menginisiasi program GEMAR CERIA (Gerakan Mari Berhitung dan Membaca Bersama).
GEMAR CERIA dilaksanakan selama 30 menit sebelum pembelajaran dimulai sebagai upaya pembiasaan baik dalam meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi warga belajar yang didampingi oleh para wali kelas. Program ini menjadi fondasi awal dalam membangun budaya belajar yang positif dalam upaya mendorong warga belajar untuk terbiasa membaca, berhitung, dan memulai hari dengan aktivitas yang bermakna.
Namun, dalam praktiknya, saya menyadari bahwa kemampuan literasi tidak cukup hanya dibangun dari kebiasaan teknis membaca dan berhitung. Ada aspek lain yang tak kalah penting, yakni keberanian, kepercayaan diri, dan pola pikir.
Dari sinilah KAMIS BERMUTU hadir sebagai penguatan, bukan hanya membaca, tetapi juga bertumbuh secara manusiawi.
Proses Implementasi dan Pengalaman Nyata
KAMIS BERMUTU dilaksanakan setiap hari Kamis sebagai ruang refleksi dan interaksi yang lebih mendalam. Kegiatan dirancang terstruktur namun tetap humanis melalui tahapan berikut:
- Menyaksikan video pendek inspiratif.
- Melakukan refleksi dan diskusi terbuka terkait video yang telah disaksikan.
- Berbagi mimpi dan rencana masa depan.
Warga belajar bebas memilih dan membaca buku atau cerita inspiratif dari koleksi di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) SPNF SKB Kota Bontang.
Setiap warga belajar menceritakan kembali isi buku yang dibaca di hadapan teman-temannya untuk melatih keberanian, kepercayaan diri, dan kemampuan berkomunikasi.
Dalam kegiatan ini, saya tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga sebagai pendamping dan narasumber kehidupan.
Saya seringkali berbagi kisah pribadi tentang perjalanan hidup yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi kurang mampu. Saya bercerita tentang keterbatasan, perjuangan, dan proses panjang dalam mengupayakan pendidikan hingga akhirnya bisa berada pada posisi saat ini.
Cerita ini bukan untuk membandingkan, tetapi untuk menunjukkan bahwa latar belakang bukanlah batas akhir, melainkan titik awal perjuangan.
Dalam beberapa kesempatan, suasana menjadi sangat emosional. Warga belajar mulai terbuka, menceritakan pengalaman mereka, bahkan ada yang untuk pertama kalinya berani menyampaikan mimpi yang selama ini dipendam.
Di situlah KAMIS BERMUTU menemukan maknanya, yakni sebagai ruang yang memanusiakan proses belajar.
Dampak terhadap Peserta Didik
Perubahan yang terjadi pada warga belajar menjadi bukti nyata keberhasilan pendekatan ini.
Perubahan Karakter
Warga belajar yang awalnya pasif dan tertutup mulai menunjukkan sikap lebih terbuka. Mereka belajar menghargai diri sendiri dan orang lain, serta lebih aktif dalam proses pembelajaran.
Meningkatnya Kepercayaan Diri
Banyak warga belajar yang sebelumnya enggan berbicara kini berani tampil, membaca, dan menyampaikan pendapat. Mereka mulai percaya bahwa suara mereka layak didengar.
Perubahan Pola Pikir
Dari yang semula merasa “tidak mampu” atau “tertinggal”, kini muncul keyakinan bahwa mereka masih memiliki masa depan yang bisa diperjuangkan. Mereka mulai memiliki tujuan dan motivasi belajar yang lebih kuat.
Tumbuhnya Harapan Baru
Cerita-cerita inspiratif yang dibagikan menjadi pemantik semangat. Warga belajar mulai melihat pendidikan sebagai jalan untuk mengubah taraf hidup mereka.
Dampak terhadap Pendidik
KAMIS BERMUTU juga membawa perubahan bagi para pendidik:
Pendidik menjadi lebih reflektif dan empatik dalam memahami latar belakang warga belajar.
Terbangun hubungan yang lebih dekat dan humanis antara pendidik dan peserta didik.
Pendidik tidak lagi hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pertumbuhan karakter.
Peran pendidik bergeser menjadi figur teladan yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi dan mendampingi perjalanan hidup warga belajar.
Dampak terhadap Komunitas Pendidikan
Dampak KAMIS BERMUTU meluas hingga ke lingkungan SKB dan masyarakat sekitar:
Terbentuk budaya literasi yang lebih kuat melalui integrasi dengan program GEMAR CERIA.
Warga belajar mulai membawa kebiasaan membaca ke rumah dan lingkungan keluarga.
Muncul semangat kolektif untuk saling mendukung dalam proses belajar.
Secara perlahan, SKB tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang tumbuh masyarakat.
Kekuatan KAMIS BERMUTU
Kekuatan utama dari KAMIS BERMUTU terletak pada konsistensi dan pendekatan yang humanis. Program ini tidak membutuhkan fasilitas yang kompleks, tetapi mengandalkan:
- Komitmen
- Kedekatan emosional
- Keteladanan
Integrasi antara GEMAR CERIA (pembiasaan literasi-numerasi) dan KAMIS BERMUTU (penguatan karakter dan refleksi) menjadi inovasi yang saling melengkapi.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa literasi tidak hanya tentang kemampuan membaca teks, tetapi juga kemampuan memahami diri, membangun makna, dan menata masa depan.
Dari Cerita Menjadi Perubahan
KAMIS BERMUTU adalah perjalanan, bukan hanya program. Ia lahir dari pengalaman, dijalankan dengan ketulusan, dan tumbuh melalui kebersamaan.
Dari kisah sederhana tentang perjuangan hidup, lahir inspirasi yang mampu menggerakkan hati. Dari ruang kecil di hari Kamis, tumbuh keberanian besar untuk bermimpi.
Dan pada akhirnya, dampak terbesar dari pendidikan bukan hanya pada apa yang dipelajari, tetapi pada siapa yang berhasil bangkit, percaya diri, dan berani melangkah menuju masa depan yang lebih baik.
KAMIS BERMUTU telah menyalakan itu.
Memuat komentar...