Abstrak
Pembelajaran fisika di era modern menghadapi tantangan dalam menjembatani relevansi sains dengan konteks budaya lokal serta menumbuhkan pembelajaran abad ke-21 siswa. Artikel ini mengusulkan model media pembelajaran interaktif berbasis video yang mengintegrasikan pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) dan etnosains dengan memanfaatkan aplikasi CapCut sebagai alat produksi. Pendekatan etnosains memungkinkan konsep-konsep fisika dikaitkan dengan kearifan lokal dan fenomena budaya yang akrab bagi siswa, sementara STEM mendorong keterhubungan antardisiplin ilmu secara kontekstual. Media yang dikembangkan bersifat interaktif dan dua arah: siswa tidak hanya menonton video, tetapi juga dilibatkan dalam proses kreatif produksi konten, sehingga secara langsung melatih kemampuan berpikir kreatif. Kajian literatur menunjukkan bahwa penelitian terdahulu masih jarang mengintegrasikan etnosains secara eksplisit dalam media berbasis teknologi mutakhir yang mudah diakses siswa. Artikel ini mengisi celah tersebut dengan menawarkan konsep media video STEM-etnosains berbantu CapCut yang praktis, estetis, dan berpusat pada siswa.
Kata Kunci: STEM, Etnosains, CapCut, Media Pembelajaran, Berpikir Kreatif, Fisika
Pendahuluan
Latar Belakang
Fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang kerap dipersepsikan sebagai bidang ilmu yang abstrak, penuh rumus, dan jauh dari kehidupan sehari-hari siswa. Persepsi ini berdampak pada rendahnya minat dan motivasi belajar, khususnya di tingkat sekolah menengah (Kurniawati & Nita, 2018). Di sisi lain, era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 menuntut lulusan yang tidak hanya menguasai konten akademis, tetapi juga memiliki kecakapan abad ke-21 seperti kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan kemampuan berpikir kritis. Kemampuan berpikir kreatif, sebagai salah satu kecakapan paling fundamental, belum mendapat perhatian yang memadai dalam praktik pembelajaran fisika konvensional yang didominasi metode ceramah dan latihan soal terstruktur (Ratnawulan, 2020).
Perkembangan teknologi digital membuka peluang besar untuk mentransformasi cara belajar fisika. Generasi baru yang tumbuh dalam ekosistem digital sangat akrab dengan konten video, media sosial, dan aplikasi kreatif di gawai mereka. Kondisi ini sesungguhnya merupakan modal besar yang dapat dioptimalkan dalam desain pembelajaran yang inovatif dan relevan.
Permasalahan
Beberapa permasalahan mendasar dalam pembelajaran fisika yang teridentifikasi dari berbagai penelitian antara lain:
rendahnya keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran(Fadiey & Makfirah, 2026);
minimnya koneksi antara materi fisika dengan konteks budaya dan kehidupan nyata siswa(Amelia et al., 2021; Safarati et al., 2024);
lemahnya kemampuan berpikir kreatif sebagai dampak dari pendekatan pembelajaran yang bersifat satu arah; serta(Azmi & Rahmi, 2024)
belum optimalnya pemanfaatan teknologi digital yang dekat dengan keseharian siswa sebagai media pembelajaran yang bermakna.
Solusi Terdahulu
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Penggunaan aplikasi untuk membuat video pembelajaran terbukti meningkatkan motivasi belajar siswa, namun media yang dihasilkan cenderung satu arah karena hanya guru yang memproduksi konten. Penelitian lain mengintegrasikan pendekatan STEM dalam pembelajaran fisika melalui proyek rekayasa dan menunjukkan peningkatan kemampuan berpikir kreatif(Asrizal et al., 2022). Selain itu, beberapa penelitian mengeksplorasi etnosains sebagai pendekatan untuk mengaitkan sains dengan kearifan lokal, dan hasilnya menunjukkan peningkatan motivasi serta pemahaman konseptual siswa di daerah dengan kekayaan budaya tinggi.
Celah Penelitian
Meskipun demikian, masih terdapat celah yang belum terjembatani. Pertama, integrasi tiga unsur sekaligus STEM, etnosains, dan media berbasis teknologi popular masih sangat jarang dieksplorasi dalam satu kerangka pembelajaran yang kohesif. Kedua, sebagian besar media pembelajaran berbasis video yang dikembangkan masih menempatkan siswa sebagai konsumen pasif, bukan produsen aktif konten. Ketiga, aplikasi kreatif yang familiar di kalangan Gen Z seperti CapCut belum banyak dimanfaatkan secara pedagogis dalam konteks pembelajaran fisika formal.
Ide Pengembangan
Berangkat dari celah tersebut, artikel ini mengusulkan konsep media pembelajaran video berbasis CapCut yang mengintegrasikan pendekatan STEM dan etnosains. Ide utamanya adalah menjadikan siswa sebagai creator konten video pembelajaran fisika yang kontekstual dengan budaya lokal mereka, sehingga proses belajar menjadi aktif, kreatif, dan bermakna secara kultural.
Kajian Teori
Berpikir Kreatif dalam Pembelajaran Fisika
Berpikir kreatif merupakan kemampuan menghasilkan gagasan baru, orisinal, dan berguna melalui proses berpikir yang fleksibel, elaboratif, dan divergen(Hardiyanti, 2024; Zan et al., 2023). Dalam konteks fisika, berpikir kreatif mencakup kemampuan siswa untuk melihat konsep fisika dari sudut pandang baru, menghubungkan fenomena fisika dengan konteks kehidupan nyata, serta mengekspresikan pemahaman mereka dalam bentuk-bentuk inovatif. Indikator berpikir kreatif yang umum digunakan meliputi kelancaran (fluency), kelenturan (flexibility), keaslian (originality), dan elaborasi (elaboration) (Munandar, 2012)(Munandar et al., 2022).
Pendekatan STEM
STEM adalah pendekatan interdisipliner yang mengintegrasikan sains, teknologi, teknik, dan matematika dalam konteks pembelajaran yang terintegrasi dan kontekstual(Siper Kabadayi & Sönmez, 2024). Dalam pembelajaran fisika, pendekatan STEM mendorong siswa untuk tidak sekadar memahami konsep sains secara teoritis, melainkan juga mampu menerapkannya dalam desain rekayasa (engineering design) yang memanfaatkan teknologi dan kalkulasi matematis. Pendekatan ini terbukti efektif meningkatkan motivasi intrinsik dan kemampuan pemecahan masalah siswa.
Etnosains dalam Pembelajaran Sains
Etnosains adalah kajian yang mengeksplorasi pengetahuan ilmiah yang terkandung dalam praktik budaya, kearifan lokal, dan tradisi masyarakat tertentu(Lidi et al., 2022). Dalam pembelajaran sains, pendekatan etnosains digunakan sebagai jembatan antara pengetahuan asli (indigenous knowledge) siswa dengan sains ilmiah (western science), sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan relevan. Contoh konkretnya adalah mengkaji konsep fisika seperti getaran dan gelombang melalui fenomena bunyi pada alat musik tradisional, atau konsep termodinamika melalui proses memasak dengan tungku tradisional.
Media Pembelajaran Video
Media video merupakan medium audiovisual yang mampu menyajikan informasi secara dinamis melalui kombinasi gambar bergerak, suara, teks, dan animasi. Dibandingkan teks statis, video terbukti lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep karena dapat memvisualisasikan fenomena abstrak secara konkret. Keunggulan media video dalam pembelajaran di antaranya adalah kemampuannya untuk mengakomodasi berbagai gaya belajar, memberikan umpan balik segera, serta dapat diakses ulang kapan saja oleh siswa.
CapCut sebagai Alat Produksi Media Kreatif
CapCut adalah aplikasi pengedit video berbasis kecerdasan buatan yang dikembangkan oleh ByteDance, tersedia secara gratis di platform Android dan iOS. Aplikasi ini menawarkan fitur-fitur canggih seperti pengeditan klip video, penambahan teks animasi, transisi otomatis, filter visual, musik latar, green screen, pengenalan suara otomatis (auto-caption), serta berbagai efek kreatif berbasis AI. Kemudahan antarmuka (user interface) CapCut membuatnya sangat aksesibel bagi pengguna non-profesional termasuk siswa sekolah menengah, sehingga berpotensi besar dimanfaatkan sebagai alat produksi media pembelajaran yang inovatif dan berpusat pada siswa.
Pembahasan
Konsep Dasar Media yang Dikembangkan
Media yang diusulkan dalam artikel ini adalah video pembelajaran fisika interaktif berbasis STEM dan Etnosains yang diproduksi menggunakan aplikasi CapCut. Konsep dasarnya adalah membalik paradigma: bukan guru yang memproduksi video untuk ditonton siswa (teacher-centered), melainkan siswa yang ditugaskan merancang dan memproduksi video tentang fenomena fisika yang terintegrasi dengan kearifan lokal budaya mereka (student-centered).
Mekanisme Kerja Media
Proses pembelajaran dengan media ini dapat dirancang dalam beberapa tahapan:
Tahap 1 Eksplorasi Etnosains: Siswa dibagi dalam kelompok dan ditugaskan mengidentifikasi satu fenomena fisika yang terkandung dalam praktik budaya lokal. Misalnya, konsep getaran dan resonansi pada alat musik talempong (Minangkabau), prinsip tekanan hidrostatik dalam sistem irigasi sawah tradisional (subak di Bali), atau hukum Newton dalam permainan tradisional gasing.
Tahap 2 Koneksi STEM: Dari fenomena etnosains yang dipilih, siswa diminta mengonstruksi koneksi interdisipliner: (S) konsep sains fisika yang terlibat, (T) teknologi atau alat yang digunakan masyarakat, (E) prinsip rekayasa yang mendasari, dan (M) kalkulasi matematis yang relevan.
Tahap 3 Produksi Video dengan CapCut: Siswa merekam video eksperimen atau demonstrasi fenomena tersebut, kemudian mengeditnya menggunakan CapCut dengan menambahkan narasi suara, teks penjelasan konsep fisika, grafik animasi, dan infografis STEM. Fitur auto-caption CapCut membantu siswa menambahkan teks secara otomatis, sementara green screen memungkinkan mereka menambahkan latar edukatif yang menarik.
Tahap 4 Berbagi dan Diskusi Interaktif: Video yang telah diproduksi dibagikan kepada seluruh kelas melalui platform daring (Google Classroom, YouTube, atau grup WhatsApp) dan menjadi bahan diskusi kelas. Guru memberikan umpan balik dan memperkuat konsep fisika yang disajikan siswa.
3. Keunggulan Media
a. Interaktif dan Dua Arah Berbeda dari video pembelajaran konvensional yang satu arah, media ini menempatkan siswa sebagai produsen aktif konten. Proses produksi video itu sendiri adalah proses belajar yang kaya: siswa harus memahami konsep dengan benar sebelum mampu menjelaskannya dalam video, yang secara tidak langsung melatih kemampuan kognitif tingkat tinggi (higher-order thinking).
b. Mengaktifkan Berpikir Kreatif Proses menghubungkan fenomena budaya dengan konsep fisika, lalu mengekspresikannya dalam format video yang menarik, secara langsung merangsang semua dimensi berpikir kreatif: kelancaran ide dalam eksplorasi konten, kelenturan dalam memilih sudut pandang, keaslian dalam desain visual, dan elaborasi dalam penambahan detail penjelasan.
c. Kontekstual dan Bermakna Secara Kultural Dengan mengangkat kearifan lokal sebagai konteks pembelajaran, siswa dapat melihat relevansi fisika dalam kehidupan dan budaya mereka sendiri. Hal ini tidak hanya meningkatkan motivasi belajar, tetapi juga menumbuhkan kebanggaan dan apresiasi terhadap warisan budaya lokal.
d. Aksesibel dan Berbiaya Rendah CapCut tersedia secara gratis dan dapat dioperasikan di gawai yang dimiliki sebagian besar siswa. Ini menjadikan media ini inklusif dan dapat diimplementasikan bahkan di sekolah dengan keterbatasan infrastruktur teknologi canggih.
e. Relevan dengan Kebiasaan Digital Generasi Z Siswa generasi Z sudah sangat familiar dengan format video pendek dan aplikasi pengeditan konten. Memanfaatkan CapCut sebagai media pembelajaran berarti bertemu siswa di habitat digitalnya, yang secara psikologis menurunkan hambatan belajar (cognitive load) dan meningkatkan engagement.
f. Mendukung Kecakapan Abad ke-21 Selain berpikir kreatif, proses produksi video berbasis CapCut juga melatih kolaborasi (kerja kelompok), komunikasi (penyampaian konsep dalam video), dan literasi digital (penggunaan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab).
4. Contoh Implementasi
Sebagai ilustrasi, pada topik "Getaran dan Gelombang" di kelas XI SMA, sekelompok siswa dari Sumatera Barat dapat mengangkat alat musik talempong sebagai objek etnosains. Mereka merekam proses pembuatan dan cara memainkan talempong, kemudian mengidentifikasi konsep frekuensi, amplitudo, dan resonansi yang terjadi. Menggunakan CapCut, mereka menyusun video berdurasi 5–7 menit yang memadukan footage wawancara dengan pengrajin talempong, visualisasi gelombang bunyi dengan animasi, dan penjelasan matematis tentang hubungan panjang kolom udara dengan nada yang dihasilkan. Video tersebut kemudian ditayangkan di kelas dan menjadi pintu masuk diskusi mendalam tentang konsep gelombang bunyi.
Rekomendasi
Berdasarkan pembahasan di atas, diajukan beberapa rekomendasi berikut:
Bagi guru fisika, penting untuk mulai menggeser peran dari penyampai informasi menjadi fasilitator kreatif yang memberdayakan siswa untuk memproduksi pengetahuan mereka sendiri melalui media digital.
Bagi peneliti pendidikan fisika, diperlukan penelitian empiris yang menguji efektivitas model media STEM-etnosains berbantu CapCut ini terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa melalui desain penelitian quasi-eksperimen atau Research and Development (R&D).
Bagi pengembang kurikulum, integrasi etnosains dalam pembelajaran fisika perlu mendapat legitimasi yang lebih kuat dalam dokumen kurikulum, sehingga guru memiliki landasan resmi untuk menerapkannya.
Bagi pemerintah dan dinas pendidikan, perlu ada program pelatihan guru yang membekali pendidik dengan kecakapan penggunaan aplikasi kreatif seperti CapCut sebagai alat pedagogi, bukan sekadar hiburan.
Bagi siswa, paradigma belajar perlu bergeser dari consumer of knowledge menjadi producer of knowledge, dan media berbasis CapCut ini adalah wahana yang menarik untuk memulai transformasi tersebut.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Prof. Dr. Desnita, M.Si dan Bapak Prof. Dr. Akmam, M.Si selaku dosen pengampu mata kuliah Pengembangan Media Pembelajaran atas bimbingan, arahan, dan inspirasi yang diberikan selama proses penulisan artikel ini. Dedikasi dan semangat beliau dalam membelajarkan pengembangan media pembelajaran yang inovatif menjadi fondasi utama dari gagasan yang tertuang dalam tulisan ini.
Referensi
Amelia, T., Jumini, S., & Khoiri, A. (2021). Analysis Of Creativity And Attitudes Caring The Environment Of Junior High School Students : Study Of Environmental Physics Learning Using Learning Modules. 17(June), 40–48. Https://Doi.Org/10.15294/Jpfi.V17i1.26301
Asrizal, A., Mardian, V., Novitra, F., & Festiyed, F. (2022). Physics Electronic Teaching Material-Integrated STEM Education To Promote 21st-Century Skills. Cypriot Journal Of Educational Sciences, 17(8), 2899–2914. Https://Doi.Org/10.18844/Cjes.V17i8.7357
Azmi, U., & Rahmi, M. (2024). Analysis Of 4C Skills ( Critical Thinking , Creativity And Innovation , Collaboration , And Communication ) Of Physics Education Students In Facing The Industrial Revolution 4 . 0. 10(2), 695–703. Https://Doi.Org/10.29303/Jppipa.V10i2.5584
Fadiey, N., & Makfirah, H. (2026). Pendekatan Pembelajaran Efektif Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Dalam Pembelajaran Fisika SMA : Systematic Literature Review Universitas Malikussaleh , Indonesia Effective Learning Approaches To Enhance Higher-Order Thinking Skills In High School Physics Learning : A Systematic Literature Review. 6(2), 432–437.
Hardiyanti. (2024). Teacher Creativity In Developing Primary School Students’ Creative Thinking Skills. In International Journal Of Teaching (Vol. 1, Issue 2). Yayasan Cendekia Citra Gemilang. Https://Doi.Org/10.61798/Ijt.V1i2.163
Kurniawati, I. D., & Nita, S.-. (2018). Media Pembelajaran Berbasis Multimedia Interaktif Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Mahasiswa. Doubleclick: Journal Of Computer And Information Technology, 1(2), 68. Https://Doi.Org/10.25273/Doubleclick.V1i2.1540
Lidi, M. W., Mbia Wae, V. P. S., & Umbu Kaleka, M. B. (2022). Implementasi Etnosains Dalam Pembelajaran Ipa Untuk Mewujudkan Merdeka Belajar Di Kabupaten Ende. OPTIKA: Jurnal Pendidikan Fisika, 6(2), 206–216.
Matsun, M., Sari, I. N., & Boisandi, B. (2020). Pengembangan Bahan Ajar Fisika Pada Materi Pengukuran Berbasis Kearifan Lokal Kalimantan Barat. In Jurnal Riset Dan Kajian Pendidikan Fisika (Vol. 7, Issue 2, P. 59). Universitas Ahmad Dahlan. Https://Doi.Org/10.12928/Jrkpf.V7i2.17822
Munandar, R., Ristanti, C. I., Nurhidayati, N., & ... (2022). Analisis Potensi Pembelajaran Fisika Berbasis Etnosains Untuk Meningkatkan Kecintaan Budaya Lokal Masyarakat Bima: Pendidikan. Jurnal Penelitian Dan …. Https://Jpfis.Unram.Ac.Id/Index.Php/Jppfi/Article/View/169
Ratnawulan, J. M. (2020). Analysis Of Students Worksheet ( LKPD ) Integrated Science With The Theme Of The Motion In Life Using Integrated Connected Type 21 St Century Learning Analysis Of Students Worksheet ( LKPD ) Integrated Science With The Theme Of The Motion In Life Using In. Https://Doi.Org/10.1088/1742-6596/1481/1/012046
Safarati, N., Rahma, R., Zuhra, F., & ... (2024). Peningkatan Pemahaman Konsep Siswa Pada Materi Pesawat Sederhana Melalui Pembelajaran Berbasis Etnosains. Innovative: Journal Of …. Http://J-Innovative.Org/Index.Php/Innovative/Article/View/13030
Siper Kabadayi, G., & Sönmez, D. (2024). The Effects Of A Robotics Program On Preschool-Students’ Creative Thinking Skills. In Hacettepe Egitim Dergisi (Vol. 39, Issue 3, Pp. 260–270). Hacettepe University Journal Of Education. Https://Doi.Org/10.16986/HUJE.2024.522
Zan, A. M., Nilyani, K., Azriyanti, R., Asrizal, A., & Festiyed, F. (2023). Effect Of STEM-Based Mathematics And Natural Science Teaching Materials On Students’ Critical And Creative Thinking Skills: A Meta-Analysis. In Jurnal Penelitian Pendidikan IPA (Vol. 9, Issue 6, Pp. 54–64). Universitas Mataram. Https://Doi.Org/10.29303/Jppipa.V9i6.2678