GERAKAN MENULIS MURID DAN GURU (GEMMURU) SEBAGAI PROGRAM NYATA PENINGKATAN GERAKAN LITERASI SEKOLAH
Faiqotur Rosidah, M.Pd.
Guru SMP Negeri 3 Peterongan
Keterpurukan pendidikan di Indonesia haruslah menjadi cambuk bagi para pengajar atau pendidik. Tidak bisa kita pungkiri bahwa nilai kemampuan literasi dan numerasi kita masing sangat rendah bahkan di Asia Tenggara sekalipun. Kemampuan literasi fungsional yang rendah ini menempatkan Indonesia di peringkat ke-5 atau ke-6 di Asia Tenggara. Berdasarkan PISA 2022, kemampuan membaca siswa usia 15 tahun berada di bawah Singapura, Vietnam, Brunei, dan Malaysia (Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa). Meskipun Gerakan Literasi Sekolah telah dicanangkan pemerintah sejak lama, hal ini belum berdampak signifikan bagi pengembangan kemampuan berliterasi murid kita.
Pemahaman kompleks mengenai kemampuan literasi perlu terus dikembangkan apalagi di era disrupsi ini. Literasi tidak sekadar memahami bacaan tetapi memiliki makna lebih luas lagi, yakni kecerdasan dalam memahami dan menyikapi fenomena alam, sosial, dan budaya. Selain itu, keterampilan ini juga dibutuhkan bagi generasi saat ini, yakni keterampilan untuk berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kritis, dan kreatif. Di sisi lain keterampilan menulis kreatif menjadi penunjang penting dalam mengelola berbagai keterampilan ini.
Kemampuan menulis kreatif bukan hanya kemampuan merangkai kata, melainkan instrumen fundamental untuk mengasah daya kritis dan kreativitas di era pendidikan abad ke-21. Literasi menulis kreatif berfungsi sebagai laboratorium mental bagi guru dan siswa untuk mentransformasi informasi menjadi inovasi, sekaligus memperkuat budaya sekolah yang berbasis pada critical thinking dan creativity guna menjawab tantangan disrupsi digital.
Urgensi Literasi Menulis Kreatif bagi Ekosistem Sekolah
Penerapan literasi di sekolah terbukti mendorong pemikiran kritis serta meningkatkan kreativitas dan keterampilan pemecahan masalah. Menulis kreatif memungkinkan individu untuk tidak hanya menyerap informasi, tetapi juga mengevaluasi dan mengonstruksi ulang ide secara mandiri. Adapun bagi guru yang telah menguasai literasi menulis kreatif dapat mengembangkan bahan ajar yang lebih komunikatif dan tidak kaku. Kemampuan ini mendukung guru untuk menjadi sosok yang reflektif, mampu memilih informasi secara kritis, dan menciptakan pembelajaran yang produktif. Di tahun 2026, tantangan seperti literasi AI menuntut guru untuk memiliki kesadaran kritis agar tetap bisa menavigasi risiko misinformasi dan etika dalam penulisan.
Bagi siswa, menulis kreatif (seperti menulis cerita pendek, puisi, atau esai) sangat efektif dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui model pembelajaran inkuiri. Proses ini melatih mereka untuk mempertanyakan, menganalisis, dan melihat berbagai sudut pandang sebelum menarik kesimpulan. Selain itu, literasi menulis membantu siswa mempertahankan "suara unik" mereka di tengah kemudahan alat bantu otomatis seperti AI.
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) bertujuan menumbuhkan budaya membaca dan menulis yang berujung pada pemahaman informasi secara mendalam. Sekolah yang memprioritaskan literasi kreatif menciptakan lingkungan yang mendukung motivasi belajar siswa dan memposisikan institusi tersebut untuk lebih siap terlibat dalam kompetisi global.
GEMMURU sebagai Program Pengembangan GLS yang Efektif dan Berdampak
Berdasarkan uraian tersebut, maka perlu ada program yang mampu mewadahi dan mengakomodasi segala kebutuhan tersebut. Gerakan Menulis Murid dan Guru (GEMMURU) hadir menjawab tantangan tersebut. GEMMURU adalah sebuah program pengembangan literasi sekolah, yang memfasilitasi seluruh siswa dan guru jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, dan sederajat untuk menerbitkan buku ber- ISBN/QRCBN dari Perpusnas RI.
Program GEMMURU yang merupakan inisiasi saya waktu itu sebagai ketua Forum MGMP Bahasa Indonesia SMP Jombang. Saya berkolaborasi dengan JF Legal Network Surabaya, SMP Negeri 3 Peterongan, Penerbit Boenga Ketjil, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang, dan pihak- pihak lain yang peduli terhadap peningkatan literasi. Program ini berdiri sejak 2023 dan di awal pendiriannya berhasil mengajak lebih dari sepuluh sekolah dengan hasil karya lebih dari duapuluh karya, di tahun 2024 dan tahun 2025 kemarin bahkan berhasil menerbitkan 29 buku.
Program ini dimulai dengan registrasi, pembimbingan, penulisan, sampai dengan pengiriman naskah, dan penerbitan. Jika ada sekolah yang membutuhkan pelatihan menulis puisi, cerpen, atau esai, tim GEMMURU siap hadir ke sekolah-sekolah. Tim GEMMURU yang merupakan pengurus inti MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Jombang mempersiapkan semua kebutuhan sekolah yang berpartisipasi dalamprogram ini. Mulai Gform, panduan, template, dan lainnya.
Dampak program GEMMURU ini nampak dalam peningkatan literasi sekolah. Bagi murid GEMMURU meningkatkan percaya diri mereka, selain tentunya meningkatkan kecakapan berkomunikasi tulis, berpikir kritis, dan kreatif. Demikian halnya bagi guru, daripada tulisannya hanya menjadi coretan atau cuitan yang kurang bermanfaat di media sosial misalnya; akan lebih baik jika dirapikan dan dibukukan bersama muridnya. Guru akhirnya bisa menjadi rolemodel bagi muridnya. Bagi sekolah, hasil karya siswa dan guru menjadi tambahan koleksi perpustakaan dan menjadi brand sekolah tersebut.
Dengan demikian, GEMMURU mampu menyiapkan keterampilan yang harus dikuasai peserta didik, khusunya dalam critical thinking dan creativity. Dalam konteks kebijakan pendidikan di Indonesia, pengembangan berpikir kritis telah ditekankan untuk memposisikan bangsa agar lebih kompetitif. Menulis kreatif sudah seharusnya menjadi materi wajib karena dianggap sebagai pondasi hasil belajar yang esensial, mencakup keterampilan intelektual dan praktis. Literasi yang kuat memastikan bahwa teknologi (seperti AI) digunakan secara etis tanpa menghilangkan kemampuan berpikir independen manusia.