Gemerlap Bintang Hadir di Malam Gelap
Oleh: Seni Handiyani, S.Pd.
“Kemenangan adalah validasi bagi sang juara, tetapi perjuangan adalah mahkota untuk yang terus berusaha”
Itulah keyakinan yang menjadi pemantik di setiap tindakan dari gagasan untuk terus mencipta, berkarya aja itu sederhananya. Dua puluh enam tahun memilih profesi guru, pengampu bahasa Indonesia waktu yang cukup panjang untuk menyusun puzzle beragam peristiwa dari mulai pertama kali mengajar di bimbingan belajar, masih penuh keraguan, tapi di tempat inilah saya banyak mengeksplor kognitif dan praktik joy full learning. Di beberapa sekolah saya menempa diri dengan tekad ingin lebih baik sampai fase berikutnya pada tahun 2010 saya berlabuh di sebuah boarding school SMA terpadu Krida Nusantara, sekolah berasrama di kaki Gunung Manglayang, Kota Bandung.
Profil sekolah berasrama membuat saya terpana, kebiasaan sederhana, tetapi bermakna, siswa selalu memperlihatkan sikap hormat kepada siapa pun saat bertemu. Dari siswa saya banyak belajar tentang kemandirian, kedisiplinan, dan kebersamaan atau jiwa korsa, kamando satu rasa. Mereka memilih jauh dari keluarga, khususnya orang tua untuk satu tujuan, membangun karakter untuk gemilang masa depan. Rasanya tidak ada alasan keraguan dari panggilan hati untuk sedikit memberikan sentuhan untuk anak-anak yang sudah berkomitmen jauh dari orang tua ini. Meskipun tidak mudah dan perlu energi ekstra untuk meyakinkan teman dan manajemen sekolah dengan gagasan-gagasan yang tidak tertahan untuk dijelmakan. Pengembangan potensi keterampilan berbahasa Indonesia, menyimak, membaca, berbicara, dan menulis siswa menjadi fokus utama. Fondasi utama adalah kesepakatan kelas, aturan sederhana yang akan menciptakan suasana kelas kondusif dan fokus pada keterampilan berbahasa Indonesia dengan tetap menguatakan karakter, contoh bila ada yang berkata kasar maka mendapatkan konsekuensi membuat puisi atau pantun yang harus dibacakan di hadapan teman-temannya. Kesepakatan ini bertujuan meminimalisasi diksi-diksi tidak pantas diucapkan, tetapi konsekuensinya melatih keterampilan berbahasa. Berlandaskan tiga ranah utama Taksonomi Bloom yaitu afektif, kognitif, dan psikomotor terpetakanlah minat dan bakat siswa. Digitalisasi informasi ditandai dengan penggunaan ruang media sosial untuk berbagai topik, termasuk penyelenggaraan kompetisi memberikan kemudahan dan fleksibilitas apalagi untuk sekolah berasrama seperti SMA Terpadu Krida Nusantara. Siswa diizinkan ke luar kampus hanya pada waktu tertentu dan harus dilengkapi administrasi yang sudah diafirmasi. Kompetisi daring menjadi alternatif untuk siapa pun yang ingin berkembang. Akan tetapi, gurulah yang harus aktif mencari informasi kompetisi di media sosial karena siswa dilarang membawa telepon selular, gawai, atau komputer jinjing. Akses digital untuk siswa hanya melalui Smart Class saat kegiatan belajar mengajar. Jadi, keaktifan gurulah yang akan membuka ruang-ruang digital yang sarat informasi yang dapat memfasilitasi beragam potensi.
Berbekal sedikit pengalaman berkompetisi sejak usia sekolah dan tekad menggali beragam bakat keterampilan berbahasa Indonesia yang dimiliki siswa agar mereka terlihat di lintasan orbit dengan jutaan bintang lainnya, saya membidik beberapa siswa yang berminat untuk berkompetisi. Antusias mereka, siswa berasrama sungguh mengharukan, menambah spirit untuk kerahkan seluruh kemampuan terbaik. Karena padatnya dan teraturnya daily activity siswa berasrama dari bangun tidur sampai tidur lagi sehingga kendali waktu harus tepat jangan sampai mengganggu kegiatan lainnya. Menyusun dan menentukan jadwal latihan yang tentunya harus dilengkapi beragam konfirmasi administrasi adalah bagian krusial bila akan berkegiatan di sekolah ini. Dengan menggandeng beberapa teman yang satu frekuensi, pelatihan intensif pun menjadi kebiasaan yang menyenangkan untuk para siswa karena untuk mereka latihan tidak hanya ruang untuk mengasah kemampuan mereka agar menyiapkan mental kompetitif, tetapi juga ada warna dinamis di antara padatnya rutinitas sehingga mereka kerap merindukan jadwal latihan meskipun harus menghabiskan waktu hingga malam hari.
Setiap tahun lahir bakat-bakat baru, mereka selalu membuat terpana, bukan karena mereka menjadi juara, melainkan karena tekad yang menggelora yang selalu meluluhkan hati untuk merekatkan niat menuju orbit yang sama. Beberapa prestasi, baik individu maupun atas nama sekolah berhasil mengorbit.
No. | Prestasi | Individu | Sekolah |
1. | Juara 1, 2,3,4, & 5 Resensi Film Nasional Pusbang Film | | |
2. | Juara 3 Artikel Ilmiah Jawa Barat Paracita | | |
3. | Juara 2 Reporter Nasional BRIN | | |
4. | Juara 1,2, 3, 4, & 5 Esai Antikorupsi Hakordia Kota Bandung | | |
5. | Juara 5 Duta Bahasa Pelajar Jawa Barat | | |
6. | Juara 1 Podcast DPRD Jawa Barat | | |
7. | Juara 1 Lomba Debat Bahasa Indonesia Kota Bandung | | |
8. | Juara 3 Sekolah Literasi Nasional | | |
9. | Juara Penyelenggara UKBI Nasional Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia | | |
10. | Juara 3 Literasi Numerasi Nasional | | |
11. | Juara 1 Duta Baca Kota Bandung | | |
12. | Juara 2 Duta Baca Kota Bandung | | |
13. | Juara Penyelenggara UKBI Nasional Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia | | |
14. | Juara 2 Video Resensi Buku Nasional Perpustakaan Nasional | | |
15 | Juara 5 Pidato HAM Kemenham | | |
Segala upaya ini adalah bentuk pengejawantahan dari amanat Undang-undang Dasar 1945 dan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, pendidikan pada hakikatnya adalah proses mencerdaskan kehidupan, membangun watak dan peradaban bangsa. Pendidikan adalah proses menumbuhkembangkan potensi manusia sehingga menjadi insan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cerdas, terampil, mandiri, sehat jasmani dan rohani, jujur, bertanggung jawab, demokratis, dan kepribadian utama lainnya.
Saya yakin di luar sana banyak Bapak/Ibu guru yang memiliki semangat lebih membara dan melahirkan lebih banyak juara. Namun, saya pun yakin apa yang dilakukan oleh seluruh pendidik bukat target juara, melihat siswa bersemangat melalui semua proses, selalu bahagia saat berlatih, dan yang lebih membahagiakan lagi ketika sedikit polesan ini mampu membangun rasa percaya diri untuk mereka. Itulah salah satu alasan mengapa saya ingin terus mengorbit di lintasan ini. Beberapa siswa berbakat tidak luput dari pelanggaran sehingga mereka harus mendapatkan konsekuensi pembinaan. Itu adalah hal yang tidak mudah mereka terima di usia remaja. Saat persaan bersalah menghantui mereka sementara mereka memendam bakat yang luar biasa. Atas seizin dan dukungan manajemen sekolah, kepercayaan pun diberikan agar mereka yang telah terlanjur dianggap “pelanggar aturan sekolah” mampu mengorbit kembali. Atas berkah-Nya, Allah bukakan kesempatan dan membuktikan bila mereka mampu menjadi satu bintang yang mengorbit di antara jutaan bintang karena begitulah bintang akan terlihat bersinar indah dan benderang di gelapnya malam.