Ekopedagogi Berbasis Pembiasaan Hijau: Transformasi Budaya Sekolah melalui Praktik Adiwiyata di SDIT Miftahul Ulum Cinere Depok - Guruinovatif.id

Diterbitkan 07 Mei 2026

Ekopedagogi Berbasis Pembiasaan Hijau: Transformasi Budaya Sekolah melalui Praktik Adiwiyata di SDIT Miftahul Ulum Cinere Depok

Pengalaman SDIT Miftahul Ulum Cinere Depok membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Budaya hijau sekolah tidak lahir dari program yang rumit, melainkan dari pembiasaan sederhana yang terus dihidupkan melalui keteladanan guru, keterli

Dunia Pendidikan

Mundakir,M.Pd.

Kunjungi Profile
9x
Bagikan

Ekopedagogi Berbasis Pembiasaan Hijau: Transformasi Budaya Sekolah melalui Praktik Adiwiyata di SDIT Miftahul Ulum Cinere Depok

Mudzakkir Harun Alrasyid

Pendidikan abad ke-21 tidak lagi cukup hanya menekankan kemampuan akademik, tetapi juga dituntut mampu membangun kesadaran ekologis dan karakter berkelanjutan pada peserta didik. Di tengah meningkatnya krisis lingkungan global, sekolah dasar menjadi ruang strategis untuk menanamkan nilai kepedulian lingkungan melalui pengalaman belajar yang nyata dan kontekstual. Konsep ekopedagogi hadir sebagai pendekatan pendidikan yang menempatkan lingkungan bukan sekadar materi pembelajaran, melainkan bagian dari budaya hidup sehari-hari peserta didik. Dalam perspektif ini, sekolah berperan sebagai ruang transformasi sosial yang membentuk kesadaran ekologis sejak usia dini (Saadah et al., 2023; Wibowo et al., 2023).

SDIT Miftahul Ulum Cinere Depok memperlihatkan bagaimana nilai-nilai ekopedagogi dapat diintegrasikan secara konkret melalui budaya sekolah berbasis pembiasaan. Berbagai kegiatan sederhana tetapi berkesinambungan diterapkan dalam aktivitas harian siswa, seperti gerakan membawa botol minum sendiri, konsumsi buah sehat, penyiraman tanaman menggunakan air bekas cucian beras, sedekah sampah, hingga pengumpulan minyak jelantah. Praktik tersebut menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan paling efektif ketika diwujudkan melalui tindakan nyata yang dilakukan secara rutin. Pendekatan berbasis kebiasaan terbukti mampu memperkuat pembentukan karakter peduli lingkungan karena peserta didik belajar melalui pengalaman langsung, bukan hanya teori di ruang kelas (Fazira & Ramadan, 2023).

Implementasi budaya hijau di sekolah tidak dapat dipisahkan dari peran guru sebagai agen perubahan. Guru tidak lagi hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi menjadi teladan ekologis yang menghadirkan praktik keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika guru membawa tumbler sendiri, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan aktif dalam kegiatan pengelolaan sampah sekolah, peserta didik memperoleh contoh nyata tentang perilaku ramah lingkungan. Keteladanan tersebut menjadi bentuk pendidikan karakter yang lebih efektif dibandingkan instruksi verbal semata karena siswa cenderung meniru perilaku yang mereka lihat secara langsung (Rushayati et al., 2023).

Dalam praktik pembelajaran, SDIT Miftahul Ulum Cinere juga menerapkan pendekatan kontekstual yang menghubungkan materi pelajaran dengan isu lingkungan sekitar. Misalnya, kegiatan menyiram tanaman menggunakan air cucian beras diintegrasikan dengan pembelajaran tentang konservasi air dan daur ulang sumber daya rumah tangga. Sementara itu, pengumpulan minyak jelantah dijadikan sarana edukasi mengenai limbah domestik dan ekonomi sirkular sederhana. Pembelajaran semacam ini memperlihatkan bahwa pendidikan lingkungan akan lebih bermakna ketika peserta didik dapat melihat hubungan langsung antara ilmu pengetahuan dan kehidupan nyata mereka sehari-hari (Adela & Suprapmanto, 2023).

Keberhasilan pendekatan tersebut selaras dengan temuan berbagai penelitian tentang Program Adiwiyata di Indonesia. Program Adiwiyata terbukti mampu meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku peduli lingkungan peserta didik ketika diterapkan secara partisipatif dan berkelanjutan. Sekolah yang berhasil mengembangkan budaya ekologis umumnya tidak hanya fokus pada aspek administratif penghargaan, tetapi juga membangun keterlibatan aktif seluruh warga sekolah dalam praktik ramah lingkungan sehari-hari (Rushayati et al., 2023).

Lebih jauh, penelitian Wibowo et al. (2023) menunjukkan bahwa sekolah Adiwiyata memiliki kontribusi signifikan dalam membangun environmental care attitude atau sikap peduli lingkungan peserta didik melalui integrasi kurikulum lingkungan dan aktivitas partisipatif berbasis sekolah. Hal ini memperkuat argumentasi bahwa keberhasilan pendidikan lingkungan sangat dipengaruhi oleh pengalaman kolektif yang dialami siswa dalam budaya sekolah sehari-hari, bukan sekadar penyampaian konsep teoretis di kelas.

Budaya ekologis yang dibangun di SDIT Miftahul Ulum Cinere juga memperlihatkan adanya internalisasi nilai lingkungan ke dalam karakter siswa. Peserta didik tidak hanya memahami pentingnya menjaga lingkungan, tetapi mulai membentuk kebiasaan baru seperti membuang sampah secara bertanggung jawab, menghemat air, membawa perlengkapan makan sendiri, dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan sedekah sampah. Proses internalisasi nilai ini menjadi inti dari ekopedagogi karena pendidikan diarahkan untuk membentuk kesadaran moral dan tindakan nyata terhadap keberlanjutan lingkungan hidup (Saadah et al., 2023).

Di sisi lain, keberhasilan program lingkungan sekolah juga memerlukan penguatan kapasitas guru. Penelitian Eliyawati et al. (2023) menegaskan bahwa pelatihan pendidikan lingkungan bagi guru sangat penting untuk memastikan keberlanjutan program berbasis sekolah. Guru perlu memahami dimensi ekologis, sosial, dan ekonomi dari pendidikan lingkungan agar mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih integratif dan relevan dengan tantangan keberlanjutan masa depan. Dengan demikian, pengembangan budaya sekolah hijau tidak hanya membutuhkan kebijakan institusi, tetapi juga peningkatan kompetensi pedagogis guru secara berkelanjutan.

Selain itu, pendekatan ekopedagogi modern juga mulai berkembang ke arah eco-digital pedagogy, yaitu integrasi kesadaran ekologis dengan inovasi pembelajaran abad ke-21. Model ini menempatkan guru sebagai fasilitator yang mampu menghubungkan teknologi, pendidikan karakter, dan keberlanjutan lingkungan secara bersamaan. Pendekatan tersebut relevan dengan tantangan pendidikan masa kini yang menuntut peserta didik tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dan ekologis terhadap masa depan bumi (Kurniawan et al., 2023).

Pengalaman SDIT Miftahul Ulum Cinere Depok membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Budaya hijau sekolah tidak lahir dari program yang rumit, melainkan dari pembiasaan sederhana yang terus dihidupkan melalui keteladanan guru, keterlibatan siswa, dan dukungan komunitas sekolah. Praktik ini menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan yang efektif bukan hanya mengajarkan pengetahuan ekologis, tetapi membangun kesadaran kolektif yang tumbuh menjadi budaya hidup berkelanjutan. Dengan demikian, sekolah tidak sekadar menjadi tempat belajar, melainkan ruang tumbuhnya generasi yang memiliki kecerdasan ekologis, karakter sosial, dan tanggung jawab terhadap masa depan lingkungan hidup.

Daftar Pustaka

 

Albaburrahim, A., & Amin, M. B. (2024). Analisis pendekatan ekologi dalam pembelajaran bahasa Indonesia di era digital. GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 671-683.

Adela, D., & Suprapmanto, J. (2023). Embedding Ecological Awareness Through Ecopedagogy Approach in Social Learning Elementary School. Proceedings of the International Conference on Education, Humanities, Social Science (ICEHoS 2022), 297–304. https://doi.org/10.2991/978-2-38476-088-6_33

Eliyawati, E., Widodo, A., Kaniawati, I., & Fujii, H. (2023). Effectiveness of Teacher Training on Environmental Education: Challenges and Strategy for Future Training Program. Jurnal Penelitian Pendidikan IPA, 9(8), 6056–6066. https://doi.org/10.29303/jppipa.v9i8.3153

Fazira, N., & Ramadan, Z. H. (2023). Implementation of the Adiwiyata Program to Build Environmental Caring Character in Elementary School Students. Aulad: Journal on Early Childhood, 6(3), 386–391. https://doi.org/10.31004/aulad.v6i3.549

Kurniawan, E., Akhyar, M., Muryani, C., & Asrowi, A. (2023). Enhancing 21st Century Teachers Through Eco-Digital Pedagogy. Pegem Journal of Education and Instruction, 14(1), 319–330. https://doi.org/10.47750/pegegog.14.01.36

Rushayati, S. B., Hermawan, R., & Ginoga, L. N. (2023). The Role of Adiwiyata School in the Change of Students’ Knowledge, Attitude, and Behavior Towards the Environment. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, 13(1), 122–128. https://doi.org/10.29244/jpsl.13.1.122-128

Saadah, L., Rusnaini, & Muchtarom, M. (2023). The Internalization of School Environmental Care Through Adiwiyata Program. Jurnal Civics: Media Kajian Kewarganegaraan, 20(2), 205–213. https://doi.org/10.21831/jc.v20i2.56549

Wibowo, N. A., Sumarmi, Utaya, S., Bachri, S., & Kodama, Y. (2023). Students’ Environmental Care Attitude: A Study at Adiwiyata Public High School Based on the New Ecological Paradigm (NEP). Sustainability, 15(11), 8651. https://doi.org/10.3390/su15118651

 

0

0

Loading comments...

Memuat komentar...

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis