Ketika Siswa Sulit Memulai
“Bu, mulai dari mana ya?” Pertanyaan sederhana ini sering muncul ketika siswa diminta menulis teks drama. Di balik pertanyaan tersebut, tersimpan rasa bingung sekaligus keraguan yang dialami banyak siswa. Mereka bukan tidak mampu, tetapi belum tahu cara memulai. Pembelajaran teks drama pun kerap dihadapkan pada kondisi siswa yang pasif dan kurang percaya diri dalam mengembangkan ide serta menyusun dialog.
Tidak sedikit siswa yang merasa bingung ketika harus menentukan konflik cerita, mengembangkan alur, maupun merangkai dialog yang hidup dan ekspresif. Tahap awal menulis menjadi tantangan terbesar karena siswa belum memiliki cukup stimulus maupun pengalaman dalam mengolah gagasan secara kreatif. Akibatnya, proses pembelajaran berjalan kurang optimal dan tidak semua siswa terlibat secara aktif.
Dalam praktik di kelas, kondisi ini terlihat dari rendahnya partisipasi siswa. Sebagian siswa cenderung menunggu contoh dari guru, bahkan hanya meniru tanpa mengalami proses berpikir. Hal ini berdampak pada kurang berkembangnya kreativitas serta keterampilan menulis siswa, khususnya dalam menyusun teks drama yang menuntut imajinasi, penghayatan, dan kemampuan berbahasa yang baik.
Lebih jauh lagi, situasi tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran belum sepenuhnya mampu memfasilitasi proses berpikir kreatif siswa. Pembelajaran masih berfokus pada hasil akhir, belum pada proses membangun ide secara bertahap. Padahal dalam keterampilan menulis teks drama, siswa membutuhkan bimbingan yang terstruktur agar mampu menemukan, mengembangkan, dan menuangkan gagasan secara mandiri.
Oleh karena itu diperlukan suatu inovasi pembelajaran yang tidak hanya memberikan pemahaman, tetapi juga mampu mengarahkan, menuntun, dan menumbuhkan keberanian siswa secara bertahap dalam berkarya. Inovasi tersebut diharapkan dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih aktif, partisipatif, menyenangkan, dan bermakna.
Inovasi AI-Scaffold 5A Berbasis ChatGPT sebagai Solusi
Untuk menjawab permasalahan tersebut, diperlukan pendekatan pembelajaran yang tidak hanya membantu siswa memulai, tetapi juga menuntun mereka hingga mampu menghasilkan karya secara mandiri. Salah satu inovasi yang diterapkan adalah Model AI-Scaffold 5A berbasis ChatGPT, yaitu model pembelajaran yang mengintegrasikan pendekatan scaffolding dengan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan secara terarah.
Model ini dirancang melalui lima tahapan sistematis, yaitu Arahkan, Akses AI, Analisis, Adaptasi, dan Aksi. Pada tahap awal, guru memberikan arahan serta stimulus berupa pertanyaan pemantik untuk membangun kesiapan berpikir siswa. Selanjutnya siswa memanfaatkan ChatGPT sebagai sumber ide awal. Namun proses tidak berhenti pada penggunaan teknologi. Siswa justru diarahkan untuk masuk ke tahap Analisis yaitu menelaah, mengevaluasi, dan memahami ide yang diperoleh secara kritis.
Tahap berikutnya yaitu Adaptasi yang menjadi kunci dalam mendorong kreativitas siswa. Pada tahap ini siswa tidak sekadar menyalin, tetapi mengembangkan ide menjadi karya yang lebih orisinal sesuai dengan pemahaman dan imajinasi mereka. Proses ini kemudian diakhiri dengan tahap Aksi, yaitu penyajian hasil karya dalam bentuk naskah drama yang dipresentasikan atau dibacakan di depan kelas.
Melalui alur tersebut, teknologi tidak lagi diposisikan sebagai jalan pintas melainkan sebagai alat bantu berpikir yang mendukung proses belajar. Siswa tetap menjadi subjek utama yang aktif dalam membangun pengetahuan dan keterampilan. Mereka tidak hanya belajar “apa yang harus ditulis”, tetapi juga “bagaimana cara menulis”.
Dengan demikian Model AI-Scaffold 5A tidak hanya menjawab permasalahan rendahnya partisipasi dan kreativitas siswa, tetapi juga menghadirkan pembelajaran yang lebih terarah, bermakna, dan relevan dengan perkembangan zaman. Inovasi ini mampu menjembatani kebutuhan siswa dalam memperoleh ide sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis dan kreatif secara berkelanjutan.
Proses Implementasi di Kelas
Penerapan Model AI-Scaffold 5A berbasis ChatGPT dilaksanakan secara bertahap dan terarah dalam pembelajaran teks drama. Pada tahap awal, guru memberikan arahan melalui pertanyaan pemantik dan contoh sederhana untuk membangun pemahaman awal siswa tentang struktur dan unsur teks drama. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kesiapan berpikir sekaligus mengurangi rasa bingung siswa dalam memulai.
Selanjutnya pada tahap Akses AI, siswa memanfaatkan ChatGPT untuk memperoleh ide dasar cerita dan contoh dialog sebagai stimulus awal. Pada tahap ini, siswa terlihat lebih antusias karena mereka mendapatkan gambaran konkret yang membantu mereka memulai penulisan. Namun penggunaan teknologi tidak berhenti pada tahap ini.
Memasuki tahap Analisis, siswa diajak untuk menelaah hasil yang diperoleh dari ChatGPT. Mereka mendiskusikan kesesuaian alur, konflik, serta kekuatan dan kelemahan dialog yang dihasilkan. Proses ini mendorong siswa untuk berpikir kritis serta memahami bahwa tidak semua hasil dari teknologi dapat digunakan secara langsung.
Tahap Adaptasi menjadi bagian yang paling menantang sekaligus menarik bagi siswa. Pada tahap ini, siswa mengembangkan ide yang diperoleh menjadi naskah drama yang lebih orisinal sesuai dengan kreativitas mereka. Mereka mulai berani mengubah alur, menambahkan konflik, serta menyusun dialog yang lebih hidup dan ekspresif.
Kegiatan pembelajaran diakhiri dengan tahap Aksi, yaitu penyajian hasil karya melalui pembacaan atau presentasi naskah drama. Pada tahap ini, suasana kelas menjadi lebih hidup dan interaktif. Siswa terlihat lebih percaya diri, aktif berdiskusi, serta menunjukkan kebanggaan terhadap karya yang telah mereka hasilkan.
Melalui proses implementasi ini, pembelajaran tidak lagi bersifat satu arah, tetapi berubah menjadi pengalaman belajar yang aktif, kolaboratif, dan bermakna. Siswa tidak hanya belajar menulis teks drama, tetapi juga mengalami proses berpikir, berdiskusi, dan berkarya secara nyata.
Dampak Penerapan Inovasi
Penggunaan Model AI-Scaffold 5A berbasis ChatGPT memberikan dampak yang komprehensif terhadap proses dan hasil pembelajaran. Dampak tersebut tidak hanya terlihat pada peningkatan nilai, tetapi juga pada perubahan sikap, keterlibatan, serta cara berpikir siswa dan pendidik dalam memanfaatkan teknologi secara lebih bermakna.
1. Dampak terhadap Pembelajaran Siswa
Penerapan model AI-Scaffold 5A berbasis ChatGPT menunjukkan peningkatan yang signifikan pada hasil dan aktivitas belajar siswa. Ketuntasan belajar meningkat dari 42,42% menjadi 83,82%, sedangkan aktivitas siswa dalam kategori aktif dan sangat aktif meningkat dari 24,24% menjadi 78,76%. Data ini menunjukkan bahwa pembelajaran tidak hanya lebih efektif, tetapi juga mampu melibatkan siswa secara luas.
Lebih dari sekadar peningkatan angka, perubahan juga tampak pada sikap dan kepercayaan diri siswa. Siswa menjadi lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran, berani menyampaikan ide, serta tidak lagi mengalami kebingungan ketika memulai penulisan. Mereka memperoleh stimulus yang membantu mengembangkan gagasan secara bertahap sehingga proses menulis menjadi lebih terarah.
Selain itu, siswa mulai mampu memanfaatkan ChatGPT sebagai alat bantu berpikir, bukan sekadar untuk memperoleh jawaban instan. Melalui tahapan Analisis dan Adaptasi, siswa terlatih untuk menilai, mengembangkan, dan memodifikasi ide secara kritis dan kreatif. Hal ini menjadikan pembelajaran lebih bermakna karena siswa tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga terlibat aktif dalam proses mengembangkan ide secara bertahap dan mandiri.
2. Dampak terhadap Pendidik
Bagi pendidik, inovasi AI-Scaffold 5A berbasis ChatGPT memberikan kemudahan sekaligus arah yang jelas dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran. Sintaks 5A membantu guru mengelola kelas secara lebih sistematis, sehingga setiap tahap pembelajaran memiliki tujuan yang terukur dan terstruktur.
Inovasi ini juga mendorong guru untuk lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi, khususnya dalam memanfaatkan kecerdasan buatan secara pedagogis. Guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber informasi, melainkan sebagai fasilitator yang membimbing proses berpikir siswa. Perubahan peran ini menjadikan pembelajaran lebih interaktif dan berpusat pada siswa.
Pengalaman ini juga membuka ruang bagi guru untuk mengembangkan kreativitas dalam merancang strategi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman. Lebih jauh lagi, inovasi ini berpotensi menjadi praktik baik (best practice) yang dapat didokumentasikan dan dibagikan kepada rekan sejawat.
3. Dampak terhadap Komunitas Pendidikan
Secara lebih luas, Model AI-Scaffold 5A berbasis ChatGPT memberikan kontribusi terhadap pengembangan komunitas pendidikan. Model ini memiliki langkah yang jelas, sistematis, dan mudah direplikasi, sehingga berpotensi diterapkan oleh guru lain dalam berbagai konteks pembelajaran.
Inovasi ini juga dapat menjadi inspirasi dalam pemanfaatan teknologi secara bijak dan terarah di lingkungan sekolah. Kecerdasan buatan tidak lagi dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran apabila digunakan dengan pendekatan yang tepat.
Melalui diseminasi praktik baik dalam forum MGMP, pelatihan, maupun publikasi, inovasi ini berpotensi mendorong terbentuknya budaya pembelajaran yang lebih inovatif, kolaboratif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Dengan demikian dampak yang dihasilkan tidak hanya dirasakan di dalam kelas, tetapi juga meluas pada ekosistem pendidikan secara keseluruhan.
Penutup
Penerapan model AI-Scaffold 5A berbasis ChatGPT membuktikan bahwa teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar yang lebih bermakna. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan hasil belajar, tetapi juga mengubah cara siswa belajar dari yang semula pasif menjadi aktif, kreatif, dan percaya diri dalam berkarya.
Selaian itu model tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran yang efektif tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi pada proses yang mampu menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta kemandirian siswa. Dengan sintaks yang jelas dan mudah diterapkan, Model AI-Scaffold 5A berpotensi untuk direplikasi dan dikembangkan lebih luas dalam berbagai konteks pembelajaran.
Dengan demikian, inovasi ini diharapkan tidak hanya memberikan dampak di dalam kelas, tetapi juga menjadi inspirasi bagi pendidik dalam menciptakan pembelajaran yang adaptif, inovatif, dan relevan dengan tuntutan era digital.
FOTO PENDUKUNG

Gambar 1. Siswa diskusi kelompok menentukan ide drama berdasarkan tema menggunakan ChatGPT
Sumber : Dokumentasi SMK Negeri 9 Samarinda

Gambar 2. Guru memberikan arahan serta pertanyaan pemantik kepada setiap kelompok
Sumber : Dokumentasi SMK Negeri 9 Samarinda

Gambar 3. Siswa melakukan tahap Aksi yaitu presentasi hasil karya naskah drama
Sumber : Dokumentasi SMK Negeri 9 Samarinda
Referensi
Fatkhurrozy, Y. (2024). Penerapan scaffolding pada zone of proximal development (ZPD) kelas XI. Jurnal Pembelajaran, Bimbingan, dan Pengelolaan Pendidikan, 4(3). https://doi.org/10.17977/um065.v4.i3.2024.14
Nari, N., & Mardhiyah, A. (2024). Pengembangan LKPD berbasis scaffolding untuk meningkatkan kemampuan literasi numerasi peserta didik. Journal of Education Research, 5(4), 6893–6904. https://doi.org/10.37985/jer.v5i4.1767
Roniati, R., Trianton, T., & Sembiring, Y. (2024). Pengaruh teknik pembelajaran scaffolding terhadap kemampuan menulis artikel ilmiah populer siswa. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(2). https://doi.org/10.23969/jp.v10i02.23913
Suwirtana Putra, I. G. J., Agustini, K., & Suartama, I. K. (2025). Peran scaffolding untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa dalam pembelajaran. Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia, 5(9), 2753–2768. https://doi.org
Yusra, R., Ishaq, G. M., Septiva, S. D., & Gusmaneli. (2023). Strategi pembelajaran scaffolding dalam membentuk kemandirian mahasiswa. Khazanah Pendidikan, 17(2). https://doi.org/10.30595/jkp.v17i2.17874