Mengapa Siswa Bahasa Arab Sulit Menulis? Belajar dari Pengembangan TIKAR di Madrasah
Berangkat dari penelitian tesis magister Pendidikan Bahasa Arab di Universitas Negeri Malang, artikel ini mengulas kesenjangan antara kemampuan membaca dan menulis bahasa Arab di madrasah serta pengembangan TIKAR sebagai media pembelajaran yang dirancang untuk menjembataninya.
Ada persoalan yang sering luput dari perhatian dalam pembelajaran bahasa Arab di madrasah. Banyak siswa mampu membaca teks berbahasa Arab dengan lancar, memahami makna setiap kalimat, bahkan menguasai berbagai kaidah nahwu dan sharaf. Namun ketika diminta menuliskan kembali isi bacaan dengan kalimat mereka sendiri, tidak sedikit yang mengalami kesulitan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kemampuan membaca tidak selalu berkembang seiring dengan kemampuan menulis. Padahal keduanya merupakan keterampilan yang saling berkaitan. Membaca menyediakan contoh penggunaan bahasa, sedangkan menulis menjadi sarana untuk mengolah dan mengungkapkan kembali pemahaman tersebut.
Kondisi inilah yang mendorong penulis menelusuri lebih jauh persoalan keterampilan menulis bahasa Arab di MA Al-Manshur Al-Islamy Kediri sekaligus mengembangkan sebuah media pembelajaran berbasis website bernama TIKAR sebagai salah satu alternatif solusi.
Data yang Menguatkan Temuan
Penelitian diawali dengan analisis kebutuhan terhadap 35 siswi kelas X dan XI. Hasilnya menunjukkan bahwa 88,6% siswi mengalami kesulitan memilih kosakata yang tepat ketika menulis, sedangkan 82,9% mengaku kesulitan menerapkan kaidah tata bahasa dalam tulisan mereka.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan menulis tidak hanya berkaitan dengan hafalan kosakata atau penguasaan aturan bahasa. Banyak siswa memahami arti kata ketika membacanya, tetapi belum terbiasa menggunakan kosakata tersebut dalam konteks kalimat yang mereka susun sendiri.
Guru bahasa Arab yang diwawancarai dalam penelitian ini juga mengungkapkan bahwa pembelajaran menulis masih didominasi penggunaan buku tulis konvensional. Latihan yang diberikan belum memiliki tahapan yang jelas sehingga perkembangan kemampuan menulis siswa sulit dipantau secara sistematis.
Membaca dan Menulis yang Belum Terhubung
Dalam pembelajaran bahasa asing, membaca dan menulis sering kali diajarkan sebagai dua keterampilan yang terpisah. Siswa membaca untuk memahami isi teks, kemudian berhenti sampai di sana. Kesempatan untuk mengolah kembali informasi tersebut menjadi tulisan masih relatif terbatas.
Akibatnya, teks yang semestinya dapat menjadi contoh penggunaan kosakata, struktur kalimat, dan gaya bahasa justru hanya berfungsi sebagai bahan bacaan. Siswa mengetahui isi teks, tetapi belum memperoleh pengalaman yang cukup untuk menggunakan bahasa tersebut secara produktif.
Di sisi lain, media pembelajaran yang digunakan di banyak sekolah masih didominasi buku cetak dengan pola latihan yang bersifat satu arah. Siswa mengerjakan tugas, guru mengoreksi, lalu pembelajaran berakhir tanpa adanya umpan balik yang berkelanjutan.
Mengembangkan TIKAR sebagai Jembatan
Berangkat dari kondisi tersebut, penulis mengembangkan TIKAR sebagai media pembelajaran berbasis website. Media ini tidak menyusun materi baru, tetapi memanfaatkan buku yang telah digunakan sehari-hari di madrasah, yaitu Shuwar min at-Tarikh al-Islami yang berisi dua belas kisah sejarah Islam berbahasa Arab.
Pendekatan ini dipilih agar siswa belajar melalui materi yang sudah mereka kenal. Setiap bacaan dilengkapi harakat lengkap, daftar kosakata dalam konteks kalimat, serta latihan menulis yang disusun secara bertahap.
Latihan tersebut mengacu pada ACTFL Writing Proficiency Guidelines, salah satu standar internasional dalam penilaian kemampuan menulis bahasa asing. Oleh karena itu, siswa tidak langsung diminta menulis paragraf panjang, tetapi berlatih secara bertahap sesuai perkembangan kemampuannya.
Pada level pertama, siswa hanya menulis kata atau frasa sederhana. Level kedua menuntut satu kalimat utuh. Level ketiga meminta dua hingga tiga kalimat yang saling terhubung. Adapun level keempat mengajak siswa menyusun paragraf naratif sepanjang tiga sampai lima kalimat dengan sudut pandang yang berbeda dari teks asli sehingga mereka tidak sekadar menyalin isi bacaan.
Layak Digunakan, Masih Perlu Disempurnakan
Sebelum diujicobakan kepada siswa, TIKAR divalidasi oleh ahli materi dan ahli media. Hasil penilaian menunjukkan tingkat kelayakan sebesar 79,46% dari ahli materi dan 80,00% dari ahli media sehingga media ini dinilai layak digunakan dalam pembelajaran.
Menariknya, penelitian ini juga menunjukkan bahwa masih ada aspek yang perlu diperbaiki. Desain antarmuka memperoleh nilai paling rendah dibandingkan aspek lain seperti interaktivitas dan pengalaman pengguna. Temuan tersebut menjadi masukan penting untuk pengembangan berikutnya agar media tidak hanya berfungsi dengan baik, tetapi juga semakin nyaman digunakan.
Setelah melalui revisi, TIKAR diujicobakan kepada sepuluh siswi kelas XI. Hasil respons pengguna menunjukkan tingkat kepuasan sebesar 84,13% dengan kategori sangat positif. Fitur interaktif menjadi aspek yang paling diapresiasi karena membantu siswa berlatih menulis secara bertahap dan lebih mandiri.
Pelajaran dari Sebuah Madrasah
Penelitian ini memang memiliki keterbatasan. Jumlah peserta uji coba masih terbatas dan penelitian belum dirancang untuk menguji efektivitas media melalui analisis statistik. Karena itu, TIKAR belum dapat diklaim mampu meningkatkan kemampuan menulis secara signifikan.
Meski demikian, temuan ini memberikan pelajaran yang penting. Kesulitan menulis bahasa Arab bukan semata-mata disebabkan oleh kurangnya hafalan kosakata atau lemahnya penguasaan tata bahasa. Yang lebih dibutuhkan adalah pembelajaran yang mampu menghubungkan aktivitas membaca dengan latihan menulis secara bertahap, terarah, dan berkelanjutan.
Pengalaman dari MA Al-Manshur Al-Islamy Kediri menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran tidak selalu harus dimulai dari materi baru. Buku yang telah digunakan di kelas pun dapat menjadi sarana untuk mengembangkan keterampilan menulis apabila didukung oleh media dan strategi pembelajaran yang tepat. Bagi guru yang ingin melihat bagaimana pendekatan ini diterapkan, akses TIKAR secara gratis melalui https://tikar.vercel.app.
Penyunting: Cahya
Ruang Diskusi
Memuat diskusi menarik...