BERKAH, BAKTI, DAN BENIH MANFAAT: Jejak Sunyi Guru dalam Menumbuhkan Keberanian dan Budaya Literasi melalui Inovasi Jurnal Literasi Digital - Guruinovatif.id

Diterbitkan 05 Mei 2026

BERKAH, BAKTI, DAN BENIH MANFAAT: Jejak Sunyi Guru dalam Menumbuhkan Keberanian dan Budaya Literasi melalui Inovasi Jurnal Literasi Digital

Kisah guru madrasah yang menumbuhkan keberanian dan budaya literasi melalui keteladanan, perjuangan, serta inovasi Jurnal Literasi Digital. Dari kelas sederhana, siswa bertransformasi menjadi lebih percaya diri, mandiri, gemar membaca, serta tumbuh dalam karakter positif hingga di rumah.

Cerita Guru

Alvi Faiqotun Nafsah, M.Pd., Gr

Kunjungi Profile
11x
Bagikan

       Pagi itu, air setinggi lutut menutup jalan menuju madrasah. Dingin dan keruh, seakan menguji langkah siapa pun yang melintas. Bagian bawah rok saya basah, sementara tangan saya menggenggam tas berisi buku dan media pembelajaran yang tak boleh ikut tenggelam. Saya menyeberang dengan perahu kecil, lalu melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor, menembus genangan yang belum surut. Dalam benak saya hanya satu tujuan: anak-anak telah menunggu di kelas. Ketika pintu saya buka, mereka sudah duduk rapi. Beberapa berdiri dan menyapa dengan mata berbinar. Mereka mungkin tak mengetahui perjalanan pagi itu, tetapi mereka memahami satu hal yang sederhana sekaligus penting: gurunya hadir. Dan bagi mereka, itu sudah cukup.

      Namun kehadiran semata tidak pernah cukup bagi saya. Di balik wajah-wajah kecil itu, saya melihat kegamangan yang tak selalu terucap; rasa takut, keraguan, dan keengganan untuk mencoba. Ada anak yang selalu menunduk saat dipanggil; ada yang menggenggam buku terlalu erat, seolah kesalahan adalah sesuatu yang harus dihindari. Salah satunya, seorang siswa yang setiap kali diminta maju, tubuhnya kaku dan suaranya nyaris tak terdengar. Ia kerap bersembunyi di balik temannya.

      Suatu hari, saya memintanya membaca di depan kelas. Ia diam. Ruang belajar menjadi hening. Saya tidak memaksanya. Saya mendekat, berjongkok di sampingnya, dan berbisik, “Tidak apa-apa jika salah. Ustadzah di sini.” Hari itu ia hanya mampu membaca satu kalimat, terbata-bata. Namun dari satu kalimat itu, benih keberanian mulai tumbuh. Sepekan kemudian ia berani membaca dua kalimat; dua pekan berikutnya ia mengangkat tangan; hingga suatu pagi, tanpa diminta, ia berdiri memimpin doa. Suaranya masih pelan, tetapi kini terdengar jelas. Teman-temannya bertepuk tangan, dan ia tersenyum. Dari momen sederhana itu saya memahami: perubahan besar kerap berawal dari keberanian kecil yang dirawat dengan kesabaran.

6xSdujQUHtQBqIkkjFVPMJpU8tfKAa6vZWPzkCk3.jpg

Janji, Doa, dan Amanah Kehidupan    

    Perjalanan saya menjadi guru berakar dari janji masa kecil; janji untuk hidup bermanfaat. Saya dibesarkan dalam keluarga yang menanamkan nilai keberkahan dan arti keteladanan. Sosok ayah yang biasa saya panggil dengan sebutan “Abah” menjadi cahaya yang menuntun langkah saya, bahwa ilmu bukan sekadar diketahui, melainkan dihidupkan. Ujian sakit yang saya alami sejak kecil justru menguatkan tekad itu. Dalam diam, saya berjanji: jika diberi kesempatan, hidup saya harus menghadirkan manfaat bagi orang lain.

     Janji itu saya rawat dengan belajar tanpa henti. Saya menempuh pendidikan hingga jenjang magister, sambil mengajar dan berjuang mandiri. Pada tahun 2023, saya lulus pretest PPG Dalam Jabatan Kementerian Agama. Namun di tengah penantian panjang untuk benar-benar terpanggil, Allah menghadirkan ujian yang tak pernah saya duga: Abah berpulang. Sosok yang selama ini menjadi alasan saya bertahan tidak lagi hadir untuk menyaksikan perjalanan ini. Tidak ada lagi tempat untuk pulang dan berbagi kabar, tidak ada lagi suara yang menenangkan saat lelah datang. Pada titik itu saya memahami bahwa perjuangan tidak boleh berhenti. Saya melanjutkan langkah ini sebagai bentuk bakti yang tak pernah selesai, sebuah ikhtiar untuk menjaga nilai-nilai yang beliau titipkan.

      Perjalanan itu saya teruskan dengan kesungguhan hingga pada tahun 2025, melalui LPTK IAIN Curup Bengkulu, saya menyelesaikan program PPG dengan predikat cumlaude dan IPK sempurna 4,00. Bagi saya, capaian akademik bukanlah tujuan akhir, melainkan bekal untuk lebih memahami, lebih sabar, dan lebih mampu mendampingi setiap anak yang membutuhkan.

t3PayslLZGAW9MsRbaPJ16P5Sdojdo2jJKfkYHYK.jpg

Pedagogi Berbasis Cinta: Mengajar dengan Hati, Bukan Sekadar Metode       

     Menjadi guru bukanlah jalan yang selalu mudah. Saya menempuh perjalanan panjang setiap hari, bahkan saat banjir datang. Dalam situasi itu, saya juga harus mengambil peran sebagai tulang punggung keluarga. Saya memulai usaha kecil: setiap pagi menyiapkan jajanan untuk dititipkan di kantin madrasah. Siswa-siswa saya mengetahui bahwa gurunya juga berjualan, dan saya tidak pernah merasa malu. Justru di sanalah saya ingin menghadirkan pelajaran yang paling nyata, bahwa kerja jujur adalah kemuliaan, dan perjuangan tidak pernah merendahkan siapa pun yang menjalaninya dengan ikhlas. Tanpa disadari, mereka tidak hanya mendengar nasihat, tetapi menyaksikan teladan.

     Di dalam kelas, saya memilih mengajar dengan hati. Saya berusaha memasuki dunia anak-anak, memahami cara mereka berpikir, merasakan kegamangan yang kerap tersembunyi, serta mendampingi tanpa menghakimi. Saya ingin madrasah menjadi ruang aman, tempat mereka boleh salah, boleh mencoba, dan boleh bertumbuh. Perubahan pun tampak nyata. Siswa yang dulu ragu mulai berani berbicara, yang pasif menjadi aktif bertanya, sebagian bahkan tampil di depan kelas tanpa diminta. Mereka tidak hanya belajar membaca dan berhitung, tetapi juga belajar mempercayai diri sendiri.

Inovasi Jurnal Literasi Digital

       Saya menyadari bahwa perubahan tidak boleh berhenti di ruang kelas. Karena itu, saya mengembangkan inovasi berbasis digital bernama “Jurnal Literasi Digital” sebagai jembatan antara madrasah dan rumah. Meskipun dinamai Jurnal Literasi Digital, inovasi ini tidak terbatas pada aktivitas membaca. Di dalamnya terintegrasi pula jurnal kebiasaan baik yang mendorong siswa merefleksikan perilaku positif atau kebiasaan baik yang mereka lakukan di rumah, seperti membantu orang tua, disiplin waktu, beribadah, dan bersikap jujur. Dengan demikian, jurnal ini menjadi ruang sederhana bagi siswa untuk belajar bertanggung jawab, jujur terhadap diri sendiri, serta membiasakan perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari. 

       Pendampingan orang tua dalam proses pengisian jurnal turut memperkuat kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Dengan pendekatan ini, literasi dimaknai lebih luas, tidak hanya sebagai kemampuan memahami bacaan, tetapi juga sebagai proses membangun kesadaran diri, karakter, dan kebiasaan hidup yang bernilai.

      Jurnal ini diisi oleh siswa di rumah setiap akhir pekan, pada hari Sabtu dan Minggu, sebagai upaya mengisi waktu libur dengan kegiatan yang bermakna. Mereka menuliskan aktivitas membaca, merangkum isi bacaan, serta mencatat kebiasaan baik yang mereka lakukan di rumah. Proses ini tidak berjalan sendiri—orang tua turut mendampingi, sehingga tercipta kolaborasi nyata antara sekolah dan keluarga.

     Setiap jurnal yang dikirim akan langsung terintegrasi ke dalam akun guru, sehingga saya dapat memantau perkembangan siswa secara berkala. Sistem ini dilengkapi dengan mekanisme poin otomatis sebagai bentuk apresiasi terhadap konsistensi siswa. Semakin aktif mereka mengisi jurnal, semakin tinggi poin yang diperoleh.

luXbpDhUoDFuvCwXx60ikaZleHHin55gGNfraHsI.jpgZHPbe71YOBgo2lK9E6xqIgQazFnH42z6VZKDarLY.jpg0OA0WZIXIkTiw18wWYontsS8X5N9v5ITdykpzX0W.jpgDkhxzOu96PjCl8fVwxubpHMxOrO4Peo1jLh0B4JK.jpg

‘Tangkapan Layar Jurnal Literasi Online Akun Siswa’

 

jmfdX0OcJAuIB2GadSR67DLqbm4nxGH4W5v0G5Rv.jpg

‘Tangkapan Layar Jurnal Literasi Online Akun Guru’      

       Puncak dari proses ini terjadi setiap hari Senin, saat saya mengumumkan “Literacy Star of the Week”. Nama siswa dengan perolehan poin tertinggi dituliskan di papan kecil di dalam kelas dan mendapatkan sebuah reward kecil. Momen ini menjadi saat yang paling dinanti oleh siswa. Sejak pagi, mereka saling bertanya dan penuh harap. Ketika satu nama disebut, seluruh kelas menoleh. Siswa yang terpilih tersenyum bangga, sementara yang lain bertepuk tangan dengan penuh semangat.

SS44PL6d0SGbqqtkcssl0tBytH2FKtu06Gm020an.jpg

     Dari inovasi sederhana ini, perubahan nyata mulai terlihat. Siswa menjadi lebih konsisten dalam membaca, tidak hanya di madrasah tetapi juga di rumah. Orang tua pun mulai terlibat aktif dalam mendampingi anak. Literasi tidak lagi menjadi kewajiban, melainkan tumbuh menjadi budaya. Lebih dari itu, siswa belajar bahwa usaha kecil yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan perubahan yang besar. Dari momen sederhana itu, motivasi tumbuh secara alami. Anak-anak menjadi lebih konsisten membaca, tidak hanya di madrasah, tetapi juga di rumah dan orang tua turut terlibat. Literasi tidak lagi sekadar tugas, melainkan kebiasaan yang hidup.

Dari Rasa Takut Menuju Keberanian    

     Perjalanan ini mengantarkan saya pada sebuah penghargaan. Pada awal tahun 2026, dalam rangka Hari Amal Bhakti Kementerian Agama ke-80, saya dianugerahi Juara 2 Guru Inspiratif jenjang MI. Namun, di antara semua capaian itu, ada satu momen yang tak tergantikan. Suatu hari, siswa yang dulu selalu menunduk menghampiri saya dan berkata pelan, “Ustadzah, sekarang saya sudah tidak takut lagi.” Saya terdiam. Saat itulah saya menyadari: seluruh perjalanan—menembus banjir, bangun sebelum fajar, mengajar sambil berjualan, dan bertahan dalam kehilangan, bermuara pada satu hal sederhana: mengubah rasa takut menjadi keberanian.

7uro3lXk4G2mG9f4Ine98nlt7KYMyO3Qvg8gB6OK.jpg

      Pada akhirnya, keberhasilan seorang guru tidak diukur dari seberapa banyak materi yang disampaikan, melainkan dari seberapa banyak anak yang berani percaya pada dirinya sendiri. Filosofi hidup saya sederhana: keberkahan adalah modal utama di atas segalanya. Selama saya masih diberi kesempatan untuk mengajar, saya akan terus menabur benih; benih keberanian, akhlak, dan harapan.

     Sejalan dengan itu, Ki Hajar Dewantara pernah menegaskan bahwa pendidikan adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Bagi saya, menuntun berarti hadir, membersamai, dan memberi keberanian bagi anak untuk mengenal dirinya sendiri.

    Hal ini juga sejalan dengan pandangan Paulo Freire yang menyatakan bahwa pendidikan sejatinya adalah proses pembebasan—membebaskan manusia dari rasa takut, ketidakberdayaan, dan ketidakpercayaan diri. Dalam setiap langkah kecil di kelas, saya percaya bahwa saya sedang menjadi bagian dari proses itu.

    Sebab pada akhirnya, satu anak yang tidak lagi takut hari ini, dia bukan hanya sedang belajar. Ia sedang menyelamatkan masa depannya sendiri.

--------------------

Link video kegiatan pembelajaran di kelas:

https://vt.tiktok.com/ZS9Xu6To3/

https://vt.tiktok.com/ZS9Xu8u3c/

https://vt.tiktok.com/ZS9X5Sdyp/

--------------------

Link testimoni dari Kepala Madrasah, rekan guru, dan wali murid:

--------------------------------

📚 DAFTAR PUSTAKA 

  • Dewantara, Ki Hajar. (2004). Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. 

  • Freire, Paulo. (2008). Pendidikan Kaum Tertindas (Pedagogy of the Oppressed). Jakarta: LP3ES. 

     

 

0

0

Loading comments...

Memuat komentar...

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis
Klaim Sertifikat & Promo 🎁
Komunitas