Mengubah Pemahaman Finansial Menjadi Pengalaman Belajar yang Kontekstual
Literasi keuangan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengelola uang, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menentukan prioritas, mempertimbangkan pilihan, dan mengambil keputusan secara bijak. Keterampilan ini dekat dengan kehidupan sehari-hari dan penting untuk diperkenalkan kepada peserta didik sejak dini.
Pemahaman tersebut menjadi salah satu landasan Program CSR Literasi Keuangan Guru OCBC 2026 yang dilaksanakan di SMPN 23 Kota Tangerang Selatan pada 27 Juli–18 Agustus 2026. Program yang diinisiasi oleh PT Bank OCBC NISP Tbk bersama GuruInovatif.id, dengan dukungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Selatan, membekali guru dengan pengetahuan literasi keuangan sekaligus mendorong penerapannya dalam pembelajaran.
Melalui rangkaian kegiatan ini, guru tidak hanya mempelajari cara mengelola keuangan pribadi, tetapi juga mengeksplorasi cara mengenalkan konsep finansial kepada siswa melalui metode yang lebih menarik dan mudah dipahami. Salah satunya melalui Financial Education Board Game, yang memberikan kesempatan kepada guru untuk mempelajari konsep keuangan melalui simulasi dan pengambilan keputusan.

Pengalaman tersebut menjadi titik awal bagi guru untuk melihat bahwa literasi keuangan tidak harus disampaikan melalui penjelasan teoritis semata. Konsep seperti kebutuhan dan keinginan, penganggaran, menabung, hingga pengenalan investasi dapat dipelajari melalui aktivitas yang dekat dengan situasi sehari-hari.
Belajar Mengambil Keputusan Finansial Melalui Permainan
Dalam Financial Education Board Game yang disediakan oleh OCBC, peserta mengikuti simulasi pengelolaan keuangan yang menyerupai situasi dalam kehidupan nyata. Melalui permainan ini, guru berhadapan dengan pilihan yang berkaitan dengan pengaturan anggaran, menabung, serta pengenalan instrumen investasi seperti reksa dana dan saham.

Pengalaman tersebut membantu peserta memahami bahwa keputusan keuangan bukan sekadar persoalan menghitung pemasukan dan pengeluaran. Setiap pilihan perlu mempertimbangkan kebutuhan, kemampuan finansial, prioritas, dan konsekuensi yang mungkin muncul.
Bagi guru, pendekatan ini memberikan gambaran bagaimana konsep yang terkadang terasa abstrak dapat diperkenalkan melalui pengalaman langsung. Misalnya, siswa dapat diajak membedakan kebutuhan dan keinginan, menentukan prioritas penggunaan uang, atau memahami pentingnya menyisihkan sebagian uang untuk ditabung.
Dengan metode pembelajaran yang interaktif, siswa memiliki kesempatan untuk terlibat aktif dalam proses belajar. Mereka tidak hanya menerima informasi, tetapi juga berlatih berpikir, berdiskusi, dan mempertimbangkan pilihan. Pengalaman semacam ini dapat membantu literasi keuangan menjadi lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Mengubah Pengalaman Belajar Menjadi Praktik di Ruang Kelas
Setelah memperoleh pemahaman mengenai literasi keuangan dan pendekatan pembelajarannya, guru melanjutkan proses dengan mengembangkan media ajar yang disesuaikan dengan mata pelajaran dan kebutuhan peserta didik.
Dalam tahap ini, guru menganalisis materi pembelajaran, menyusun rancangan kegiatan, serta mengembangkan media ajar digital interaktif untuk mendukung pengenalan literasi keuangan di kelas. Media yang dihasilkan kemudian digunakan dalam praktik pembelajaran kepada peserta didik.
Tahapan ini menjadi bagian penting dari program karena memberikan ruang bagi guru untuk menerapkan pengetahuan yang telah dipelajari. Literasi keuangan tidak berhenti sebagai materi yang dipahami selama pelatihan, tetapi mulai diterjemahkan menjadi aktivitas pembelajaran yang dapat digunakan secara langsung bersama siswa.
Pendekatan tersebut juga membuka peluang bagi guru untuk menyesuaikan konsep finansial dengan konteks mata pelajaran yang diampu. Dengan demikian, literasi keuangan dapat dikenalkan melalui berbagai pengalaman belajar yang relevan, tanpa harus selalu berdiri sebagai materi yang terpisah dari pembelajaran utama.
Capaian 80,3% dalam Pengembangan Media Ajar
Salah satu hasil dari rangkaian program ini terlihat melalui pengembangan media ajar oleh para guru. Berdasarkan hasil penilaian terhadap empat aspek, peserta memperoleh rata-rata capaian sebesar 80,3% dan masuk dalam kategori MAHIR dalam pembuatan media ajar untuk mendukung literasi keuangan di kelas.
Salah satu karya yang mendapatkan apresiasi sebagai media ajar terbaik adalah karya Ibu Nia Nirawati berjudul “Pengimbasan Literasi Keuangan Melalui Roleplay Activity ‘Needs VS Wants’.”
Melalui pendekatan roleplay, konsep kebutuhan dan keinginan diterjemahkan menjadi aktivitas yang lebih dekat dengan pengalaman peserta didik. Metode ini membuka kesempatan bagi siswa untuk mengeksplorasi pilihan, memahami perbedaan antara hal yang dibutuhkan dan diinginkan, serta belajar mempertimbangkan keputusan secara lebih bijak.
Karya tersebut memperlihatkan bagaimana guru dapat mengadaptasi konsep literasi keuangan menjadi pengalaman belajar yang lebih konkret. Apresiasi terhadap karya ini sekaligus menunjukkan bahwa penguatan kompetensi guru dapat menghasilkan pendekatan pembelajaran yang beragam dan sesuai dengan kebutuhan siswa.
Peningkatan Pemahaman menjadi Pondasi Penerapan
Perkembangan pemahaman peserta juga terlihat dari hasil pengukuran pre-test dan post-test selama program berlangsung.
Pada IHT Sesi 1, skor rata-rata peserta meningkat dari 39,2 menjadi 70,0, atau naik 30,8 poin. Sementara itu, pada IHT Sesi 2, skor rata-rata meningkat dari 23,1 menjadi 68,1, atau naik 45 poin.
Peningkatan tersebut menunjukkan perkembangan pemahaman peserta, baik dalam pengelolaan keuangan pribadi maupun dalam penerapan literasi keuangan melalui pembelajaran. Hasil ini menjadi salah satu indikator bahwa materi yang diberikan membantu guru memperkuat pengetahuan sebelum menerapkannya dalam praktik.
Jika dilihat bersama hasil pengembangan media ajar, rangkaian kegiatan ini memperlihatkan proses pembelajaran yang berkesinambungan: guru mempelajari konsep, mencoba pendekatan yang sesuai, mengembangkan media, lalu menerapkannya dalam kegiatan belajar mengajar.
Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya dilihat dari peningkatan pemahaman, tetapi juga dari kesempatan bagi guru untuk menerjemahkan pengetahuan tersebut menjadi praktik yang bermanfaat bagi peserta didik.
Guru sebagai Penggerak Literasi Keuangan di Sekolah
Guru memiliki peran penting dalam memperkenalkan keterampilan yang dibutuhkan siswa untuk menghadapi kehidupan sehari-hari. Ketika literasi keuangan diintegrasikan ke dalam pembelajaran, siswa berkesempatan mengenal konsep finansial melalui situasi yang lebih konkret dan sesuai dengan tahap perkembangannya.
Melalui program ini, penguatan kompetensi guru menjadi langkah awal untuk memperluas pemahaman literasi keuangan di lingkungan sekolah. Guru yang telah mempelajari konsep pengelolaan keuangan dan mengembangkan media ajar dapat membawa pengetahuan tersebut ke dalam proses pembelajaran, sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan peserta didik.
Rangkaian kegiatan di SMPN 23 Kota Tangerang Selatan menunjukkan bahwa literasi keuangan dapat dikembangkan melalui pendekatan yang menggabungkan pemahaman konsep, pengalaman interaktif, dan praktik pembelajaran. Penggunaan Financial Education Board Game serta pengembangan media ajar menjadi bagian dari upaya menjadikan literasi keuangan lebih mudah dipahami dan diterapkan.
Pada akhirnya, manfaat program ini tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan guru. Melalui pembelajaran yang kontekstual, guru memiliki kesempatan untuk membantu siswa membangun kebiasaan finansial yang lebih bijak, mulai dari membedakan kebutuhan dan keinginan hingga mempertimbangkan konsekuensi dari setiap pilihan. Inilah langkah penting untuk menumbuhkan kesadaran keuangan sejak dini, agar generasi muda semakin siap mengambil keputusan finansial secara bertanggung jawab di masa depan.
Penulis: Shafira | Penyunting: Cahya
Ruang Diskusi
Memuat diskusi menarik...