BAKAL DIGI: Ekosistem Pembelajaran Berbasis Poin untuk Menakar Literasi, Menguatkan Karakter, dan Membangun Jiwa Ecopreneurship Murid
Atika Rohmawati
SD Negeri 01 Wiradesa, Kabupaten Pekalongan
Surel: atikarohmawati15@guru.sd.belajar.id
PENDAHULUAN
Pendidikan dasar merupakan fondasi penting dalam membentuk generasi masa depan bangsa. Sekolah dasar tidak hanya menjadi tempat anak memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai karakter, membangun kebiasaan literasi, serta menumbuhkan kesadaran terhadap lingkungan dan kehidupan sosial. Dalam konteks pendidikan abad ke-21, guru tidak lagi hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga fasilitator pembelajaran yang mampu menghubungkan ilmu dengan kehidupan sehari-hari murid.1
Sebagai guru di SD Negeri 01 Wiradesa Kabupaten Pekalongan, saya menyadari bahwa tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks. Menjadi guru bagi saya bukan sekadar profesi, tetapi panggilan hidup yang menuntut ketulusan, kesabaran, serta komitmen untuk terus berinovasi dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna.
Dalam mengembangkan inovasi pembelajaran ini, saya menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan sarana, keterbatasan waktu antara tugas administrasi dan mengajar, hingga upaya meyakinkan berbagai pihak bahwa pemanfaatan minyak jelantah dapat menjadi media pembelajaran kontekstual yang bermakna bagi murid.
Sering kali proses merancang kegiatan dilakukan di luar jam mengajar. Banyak malam saya gunakan untuk menyusun konsep pembelajaran, merancang aktivitas literasi, serta mencoba berbagai metode pengolahan minyak jelantah yang aman bagi anak-anak.
Saya juga meluangkan waktu untuk berkoordinasi dengan orang tua murid dan mencari referensi dari berbagai literatur pendidikan. Bagi saya, pengorbanan waktu, tenaga, bahkan kenyamanan pribadi merupakan bagian dari tanggung jawab moral sebagai seorang pendidik. Setiap usaha kecil tersebut menjadi bentuk komitmen bahwa pendidikan harus terus bergerak maju, meskipun dimulai dari langkah sederhana di ruang kelas.
Di dalam kelas, murid tidak hanya dituntut mampu membaca dan menulis, tetapi juga perlu memiliki karakter kuat, kecakapan hidup, serta kepedulian terhadap lingkungan. Namun dalam praktiknya, berbagai indikator pendidikan di sekolah kami menunjukkan masih adanya tantangan yang perlu mendapat perhatian.
Berdasarkan hasil Rapor Pendidikan SD Negeri 01 Wiradesa dari tahun 2024, capaian kemampuan literasi murid berada pada di skor 64, tidak mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, indikator karakter murid justru mengalami penurunan dari tahun 2024 berada di angka 60, dan aspek kualitas pembelajaran menjadi salah satu indikator yang perlu ditingkatkan. Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun kemampuan dasar murid telah berada pada kategori baik, penguatan pembelajaran yang lebih bermakna serta pengembangan karakter masih perlu terus diupayakan secara sistematis.
Temuan tersebut diperkuat oleh hasil observasi awal dan pretest literasi terhadap 58 murid. Hasilnya menunjukkan hanya sekitar 42% murid yang mampu menjawab pertanyaan pemahaman bacaan dengan tepat, sementara sebagian besar masih membaca secara mekanis tanpa memahami isi bacaan secara mendalam maupun mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari.
Selain itu, pada aspek karakter, khususnya indikator kemandirian dan tanggung jawab, hasil observasi guru menunjukkan nilai rata-rata 62, yang mengindikasikan bahwa sebagian murid masih perlu dibimbing dalam membangun kebiasaan disiplin, menyelesaikan tugas secara mandiri, serta memiliki kesadaran terhadap tanggung jawab pribadi.
Fenomena lain yang saya temukan berasal dari lingkungan masyarakat sekitar sekolah. Sebagian besar keluarga murid tinggal di lingkungan permukiman padat dengan aktivitas rumah tangga yang cukup tinggi. Salah satu permasalahan yang sering ditemui adalah limbah minyak jelantah rumah tangga yang umumnya dibuang langsung ke saluran air atau tanah.
Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa minyak jelantah yang dibuang secara sembarangan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, merusak kualitas air, serta berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat.2 Ironisnya, di sisi lain minyak jelantah sebenarnya memiliki potensi untuk diolah kembali menjadi produk bernilai guna seperti sabun, lilin aromaterapi, maupun bahan baku biodiesel.
Melihat berbagai kondisi tersebut, saya menyadari bahwa permasalahan lingkungan yang dekat dengan kehidupan murid dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran kontekstual.
Murid tidak hanya belajar literasi dan karakter, tetapi juga memahami masalah nyata di sekitar mereka serta menemukan solusi kreatif yang bermanfaat bagi masyarakat.
Pemikiran ini sejalan dengan arah pembangunan pendidikan nasional. Melalui Asta Cita Presiden Republik Indonesia, pembangunan sumber daya manusia menjadi prioritas utama, termasuk penguatan karakter, literasi, dan kepedulian lingkungan menuju Indonesia Emas 2045. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga mendorong penguatan literasi dasar, pembelajaran berbasis proyek, serta pendidikan karakter melalui kebiasaan positif di sekolah.
Berdasarkan berbagai kondisi tersebut, saya kemudian mengembangkan sebuah inovasi pembelajaran yang mengintegrasikan literasi, karakter, kepedulian lingkungan, serta literasi finansial melalui sebuah sistem pembelajaran terpadu yang saya beri nama BAKAL DIGI (Bank Karakter, Lingkungan, Literasi Digital).
Inovasi ini dirancang sebagai Platform pencatatan dan penguatan perilaku positif murid melalui kegiatan literasi Numerasi dan pembiasaan karakter. Setiap kegiatan baik yang dilakukan murid akan dicatat dan dihargai dengan poin yang dapat dikumpulkan. Dengan demikian program program yang ada akhirnya tidak berdiri sendiri, namun di kemas dalam sebuah Bank yang saya beri nama BAKAL DIGI.
ISI
1. Situasi Awal dan Tantangan Lapangan
Dalam praktik pembelajaran sehari-hari, saya menemukan bahwa kegiatan literasi di sekolah sering kali masih bersifat formalitas program. Murid membaca karena kewajiban, bukan karena kebutuhan. Kegiatan membaca sering kali dilakukan tanpa proses refleksi atau diskusi yang mendalam. Kegiatan Numerasi juga hanya seputar angka, dan belum dikaitkan dengan kehidupan nyata murid-murid.
Menurut UNESCO, literasi dan numerasi yang efektif tidak hanya mencakup kemampuan membaca teks atau mengerjakan angka, tetapi juga kemampuan memahami, merefleksikan, dan menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah kehidupan.
Selain tantangan literasi dan numerasi, aspek karakter juga menjadi perhatian. Berdasarkan pengamatan selama pembelajaran, sebagian murid masih kurang disiplin dalam menyelesaikan tugas, kurang memiliki inisiatif belajar mandiri, serta belum memiliki kesadaran menjaga lingkungan.
Permasalahan lingkungan juga terlihat di masyarakat sekitar sekolah, khususnya kebiasaan mengelola limbah rumah tangga yang belum baik, termasuk minyak jelantah.
Situasi ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual, karena murid akan lebih mudah memahami konsep ketika dikaitkan dengan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari.
2. Aksi dan Strategi Pembelajaran
Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, saya merancang inovasi BAKAL DIGI sebagai wadah sistem pembelajaran berbasis poin terintegrasi yang menghubungkan empat aspek utama:
- Literasi & Numerasi
- Pendidikan karakter
- Kepedulian lingkungan & Literasi Finansial
Langkah pertama adalah mengembangkan program literasi yang lebih variatif dan reflektif melalui kegiatan SPIL BEB (Sarapan Pagi Literasi Berkembang). Dan Integrasi dengan Pembelajaran Matematika Materi Pengukuran Berat sebagai langkah Numerasi denggan program SPIL BEB di hari Selasa ketika kegiatan JULIK.
Pada Mata Pelajaran Matematika Pengukuran Berat, murid diajak untuk mewawancarai pedagang sayur dan mengamati kegiatan pengukuran dengan menggunakan timbangan. Program SPIL BEB Harapannya mampu meningkatkan Literasi dan Numerasi murid.
Program ini dilaksanakan setiap hari yang memiliki aktivitas berbeda, yaitu Reading Group pada hari Senin, KUPAT (Kupas Tayangan Edukatif) pada hari Selasa, Jurnalis Cilik pada hari Rabu, KABAR SASTRA pada hari Kamis, dan PENAKU (Pensil Karyaku) berupa gambar bercerita pada hari Jumat. Pendekatan ini membuat kegiatan literasi lebih variatif, menyenangkan, serta memberi ruang bagi murid mengekspresikan pemikirannya. Point SPIL BEB murid yag terkumpul pada akhirnya di laporkan anak anak di Bank Literasi BAKAL DIGI.
Langkah berikutnya adalah mengintegrasikan pendidikan lingkungan melalui program Bank Lingkungan, di mana murid mengumpulkan minyak jelantah dari rumah untuk ditabung di sekolah. Minyak tersebut kemudian diolah menjadi produk ramah lingkungan seperti lilin aromaterapi dan sabun cair. Kegiatan ini tidak hanya melatih keterampilan praktis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa limbah dapat menjadi peluang ekonomi.
Selanjutnya, kegiatan ini diintegrasikan dengan sistem tabungan sederhana bagi murid. Hasil penjualan produk dicatat sebagai tabungan yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan kelas atau kebutuhan pendidikan.
3. Implementasi Praktik Baik
Program BAKAL DIGI dilaksanakan secara bertahap selama satu semester. Pada tahap awal, tidak semua murid maupun orang tua langsung memahami tujuan program ini, bahkan sebagian masih ragu terhadap kegiatan pengumpulan minyak jelantah di sekolah. Namun melalui pendekatan persuasif, dialog terbuka, dan pendampingan yang berkelanjutan, perlahan kepercayaan mulai tumbuh.
Pelaksanaan program diawali dengan sosialisasi kepada murid, guru, dan orang tua mengenai tujuan serta mekanisme kegiatan. Selanjutnya dilakukan kegiatan literasi & Numerasi rutin melalui program SPIL BEB, kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan dan pengolahan minyak jelantah bersama murid.
Dalam setiap tahap kegiatan, murid dilibatkan secara aktif mulai dari pengumpulan bahan, proses produksi sederhana, hingga desain kemasan produk. Melalui kegiatan ini, murid belajar nilai kerja sama, tanggung jawab, kreativitas, serta kepedulian terhadap lingkungan.5
4. Dampak dan Refleksi
Implementasi program BAKAL DIGI memberikan berbagai dampak positif. Pada aspek literasi, hasil evaluasi menunjukkan peningkatan kemampuan memahami bacaan murid. Skor rata-rata literasi meningkat dari 64 menjadi 82 setelah program berjalan. Aspek Numerasi pada Pembelajaran Pengkuran Berat juga murid mendapatkan rata-rata nilai 80. Pada aspek karakter, indikator kemandirian dan tanggung jawab juga mengalami peningkatan dari 62 menjadi 87. Murid menjadi lebih disiplin dalam menyelesaikan tugas serta lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Dari sisi lingkungan, kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan minyak jelantah juga meningkat. Banyak orang tua murid yang mulai mengumpulkan minyak jelantah untuk disalurkan ke sekolah. Program ini juga membantu murid memahami konsep kewirausahaan sederhana melalui proses produksi dan penjualan produk ramah lingkungan.6
Bagi saya sebagai guru, pengalaman ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga. Saya belajar bahwa inovasi tidak selalu membutuhkan teknologi canggih atau fasilitas besar. Sering kali inovasi lahir dari kepekaan terhadap masalah di sekitar serta keberanian untuk mencoba hal baru.
EVALUASI DAN TINDAK LANJUT
Untuk memastikan keberlanjutan program, saya melakukan evaluasi secara berkala melalui refleksi guru, serta umpan balik dari orang tua. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa program ini perlu terus dikembangkan, bahkan kami mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Desa, harapannya inovasi ini bisa berdampak bukan hanya disektor pendidikan. Inovasi ini juga terintegrasi dengan aplikasi Jejak Hebat sebuah platform pemantauan Karakter 7 kebiasaan anak Indonesia Hebat yang telah memperoleh Hak Cipta kekayaan Intelektual (HAKI) dan rekomendasi dari Kepala Dinas untuk dapat di replikasi di seluruh satuan pendidikan.
Dalam perkembangannya, poin aspek aspek literasi numerasi, karakter dan kepedulian lingkungan semakin bertambah dalam platform BAKAL DIGI, semua lebih terorganisir dan mudah untuk memonitoring
Produk LINTIK dan Sabun juga telah memiliki izin usaha sehingga membuka peluang pengembangan sebagai bagian dari kegiatan ekonomi kreatif berbasis lingkungan. Langkah ini diharapkan tidak hanya memperkuat pembelajaran kontekstual bagi murid, tetapi juga memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya dalam mendorong tumbuhnya kesadaran pengelolaan limbah rumah tangga sekaligus membuka peluang usaha berbasis UMKM di lingkungan sekitar sekolah.
Saya juga aktif berbagi praktik baik melalui forum Kelompok Kerja Guru (KKG) serta komunitas belajar guru di Kabupaten Pekalongan hingga skala Nasional. Selain itu, pengalaman ini saya tuangkan dalam berbagai tulisan ilmiah yang dipublikasikan melalui jurnal pendidikan, media cetak, serta platform Guru Belajar Nasional.
Harapannya, inovasi ini tidak hanya berhenti di sekolah kami, tetapi dapat menginspirasi guru lain untuk mengembangkan pembelajaran kontekstual yang relevan dengan kehidupan murid sekaligus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
PENUTUP
Perjalanan menghadirkan inovasi BAKAL DIGI bukanlah perjalanan yang singkat. Inovasi ini lahir dari kegelisahan seorang guru yang melihat berbagai tantangan nyata di ruang kelas, sekaligus dari keyakinan bahwa setiap masalah di sekitar sekolah dapat menjadi peluang pembelajaran yang bermakna.
Melalui inovasi ini, saya belajar bahwa perubahan pendidikan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar atau fasilitas yang sempurna. Perubahan sering kali berawal dari langkah kecil seorang guru yang berani mencoba, berinovasi, dan bertahan dalam proses.
Setiap tetes minyak jelantah yang dikumpulkan murid bukan hanya menjadi bahan baku produk ramah lingkungan, tetapi juga menjadi simbol pembelajaran tentang kepedulian, tanggung jawab, dan kreativitas. Dari kegiatan sederhana tersebut, murid belajar bahwa mereka dapat menjadi bagian dari solusi bagi lingkungan dan masyarakat.
Bagi saya, perjalanan ini juga menjadi pengingat bahwa profesi guru adalah profesi pengabdian. Pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran terasa terbayar ketika melihat murid mulai gemar membaca, berani menyampaikan pendapat, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Saya percaya setiap guru memiliki potensi menjadi penggerak perubahan. Melalui inovasi yang lahir dari kepedulian dan keberanian mencoba, pendidikan akan terus berkembang dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat berubah, melainkan tentang siapa yang tetap bertahan memperjuangkan pembelajaran terbaik bagi generasi masa depan.
Bukti Dukung Inovasi : https://drive.google.com/drive/folders/1k_bZL7SaGIWC0UehzX45tXq-LiJVNOIE?usp=sharing