"Kadang jalan hidup tidak selalu sesuai dengan rencana, tetapi justru di situlah Allah menyiapkan kejutan terbaik untuk kita.”

Bergelut dengan dunia pendidikan awalnya bukan pilihan hati, melainkan keterpaksaan yang harus saya terima ketika dinyatakan lulus di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Namun, waktu telah memberi pelajaran berharga. Perjalanan yang saya kira sekadar kewajiban ternyata menjelma menjadi panggilan jiwa.
Kini, setelah lebih dari delapan tahun berkecimpung dalam dunia pendidikan, saya menyadari bahwa tiada alasan lain kecuali rasa syukur. Syukur karena Allah telah menganugerahkan nikmat luar biasa berupa kesempatan untuk belajar, membimbing, dan tumbuh bersama jiwa-jiwa muda. Dari keterpaksaan lahir kecintaan, dari kewajiban tumbuh pengabdian.
Saya Herdiansah, seorang guru Bahasa Indonesia kelahiran Kepahiang, Bengkulu. Takdir membawa saya menginjakkan kaki di Bumi Serambi Mekah untuk mengabdikan diri pada negeri pada tahun 2019, dan sebelumnya mendapatkan beasiswa Pendidikan Profesi Guru dari Kemenristekdikti di Universitas Syiah Kuala tahun 2018. http://bit.ly/3IGtv9z. Saya percaya seorang guru sejati adalah mereka yang terus belajar sembari mengajar. Semangat itulah yang membuat saya berani melangkah lebih jauh menghadirkan kisah inspiratif, membangun ruang literasi, dan menyalakan mimpi-mimpi baru bagi ratusan siswa serta masyarakat sekitar.
Dari kecintaan itulah lahir beragam program literasi dan kegiatan inspiratif, secercah cahaya di tengah gelapnya dunia pendidikan dan literasi. Cahaya itu bernama Ahad School: sebuah program literasi yang tumbuh dari kepedulian seorang guru dan siswa untuk berbagi ilmu, menebar kebaikan, dan menyalakan harapan bagi anak-anak di lingkungan sekitar. Sebuah gerakan berbagi ilmu terhadap lingkungan sekitar yang berdampak luas, dan memperlihatkan bahwa usia pengabdian bukanlah ukuran, melainkan seberapa besar cinta dan dedikasi yang diberikan. http://bit.ly/48PM5qi.
Sebagai penggerak utama kegiatan ahad school ini. Saya dan tim percaya, bahwa ilmu tak seharusnya berhenti di ruang kelas, tetapi harus mengalir ke masyarakat, menjangkau mereka yang membutuhkan. Keyakinan itulah yang kemudian saya tanamkan kepada siswa melalui OSIM dan Duta Literasi. Dari sanalah Ahad School lahir, dengan misi sederhana namun bermakna, mengajar dengan hati, menebar kebaikan tanpa henti. http://bit.ly/4mVItqj.
Setiap hari Ahad, halaman madrasah, musala dan ruang kelas madrasah berubah menjadi ruang belajar yang hidup. Anak-anak kecil yang biasanya menghabiskan waktu bermain, kini duduk bersama, belajar membaca, berhitung, menulis, bahkan berdiskusi tentang mimpi mereka. Sementara itu, para siswa MAN IC yang masih belia telah menjelma menjadi guru kecil, membagikan pengetahuan dengan penuh kesabaran dan kehangatan.
Program ini tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga menghadirkan makna sosial yang dalam. Para siswa madrasah belajar tentang empati dan kepedulian, sesuatu yang jarang mereka temukan dalam Pelajaran formal. Bagi orang tua, kehadiran ahad school ibarat anugerah. Anak-anak mereka bukan hanya memperoleh tambahan pelajaran, tapi juga menemukan teladan dari kakak-kakak madrasah. “Anak saya dulu sering malas belajar, tapi sejak ikut kegiatan ini, ia jadi rajin membuka buku. Saya berterima kasih kepada guru dan siswa MAN IC yang telah peduli dengan anak-anak kampung kami,” kata Pak Ismail, seorang warga setempat.
Lebih dari sekadar kegiatan mengajar, ahad school adalah ruang pembentukan karakter, baik bagi siswa madrasah maupun anak-anak lingkungan sekitar. Mereka sama-sama belajar tentang arti berbagi, kebersamaan, dan semangat dalam menimba ilmu.
Kini, nyala api dari ahad school terus membara, kami dengan semangat menjalankannya sebagai jembatan antara madrasah dan lingkungan sekitar. Dari sebuah madrasah, lair sebuah gerakan yang membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah sederhana, berbekal kepedulian, sebaris doa, dan niat untuk menebar kebaikan.
Dalam kegiatan ini, saya mengajak seluruh GTK MAN Insan Cendekia untuk menyisihkan sedikit rezekinya, bisa berupa uang, sarung, ataupun mukena bagi anak- anak yatim piatu dan yang membutuhkan. Kegiatan ini didukung penuh oleh pimpinan madrasah. Tak luput anak-anak juga menyisihkan uang jajan mereka untuk berbagi kepada lingkungan sekitar. http://bit.ly/4mSHB5P. Program ahad school sudah berjalan selama dua tahun terakhir dan ratusan siswa sekitar madrasah merasakan dampak yang luar biasa. Dan program ini akan terus berulang sampai kapan pun. Harapan itu tak akan pernah padam.
Tak berhenti sampai di situ. Selama tiga tahun terakhir, saya juga aktif menyalakan api literasi di madrasah dengan cara yang lebih luas. Melalui program Gerakan Sekolah Menulis Buku, saya mengadakan workshop, kelas menulis, hingga proyek kolaborasi, saya berhasil mengajak lebih dari 500 siswa dan puluhan guru untuk menulis bersama. Dari proses panjang itu, lahirlah antologi-antologi karya yang bukan hanya mengabadikan gagasan, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri bahwa setiap orang bisa berkarya melalui tulisan. http://bit.ly/4mTUTyV

Dari kegigihan itu pula, lahirlah deretan prestasi yang membanggakan di tingkat nasional. Saya berhasil membawa MAN Insan Cendekia Aceh Timur meraih Juara 2 Sekolah Aktif Literasi Nasional dalam ajang Festival Literasi tahun 2024 https://www.youtube.com/watch?v=vJ9qjx4IGjg (06:25:25). Tak hanya itu, saya juga membimbing karya siswa atas nama Nindya Aufa hingga meraih Juara 1 Cerpen Nasional dalam festival yang sama, serta menghantarkannya menjadi Duta Literasi Nasional 2024. https://www.youtube.com/watch?v=vJ9qjx4IGjg (6:50:54).
Pada tahun berikutnya, konsistensinya dalam mengelola website literasi berbuah manis ketika saya dinobatkan sebagai Juara 1 Pengelola Website Literasi Nasional https://maninsancendekiaacehtimur.id/ dan https:// www.youtube.com/watch?v=xPD6CQuyMa8 (08:51:41)
Kini, gema literasi dari ahad school dan gerakan menulis buku bersama itu terus mengalir, menumbuhkan harapan baru di hati banyak anak- anak, siswa, guru, dan masyarakat. Dari sebuah madrasah, lahir sebuah gerakan yang membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah sederhana, berbekal kepedulian, sebaris doa, dan niat untuk menebar kebaikan. Keberhasilan saya dalam program ini tidak terlepas dari bantuan segala pihak, pimpinan, tim literasi, tentor ahad school, dan OSIM.
Dalam tiap langkah perjalanan, saya menanamkan keyakinan bahwa mengajar sejatinya adalah melayani kemanusiaan menyalakan cahaya pengetahuan agar mampu menerangi kehidupan orang lain. Dari ruang kelas hingga lingkungan masyarakat, semangat itu terus saya jaga dan wujudkan dalam berbagai inisiatif nyata.
Melalui program ahad school dan Gerakan menulis buku bersama yang saya rintis, telah berhasil menciptakan perubahan yang berkelanjutan, baik bagi madrasah maupun masyarakat sekitar. Menularkan semangat mengajar dan kepedulian kepada para siswa, hingga mereka turut menjadi agen perubahan yang berjiwa sosial dan peduli pada sesama. Bagi saya, keberhasilan seorang guru tidak hanya diukur dari seberapa tinggi nilai yang diraih peserta didiknya, melainkan dari seberapa besar pengaruh baik yang mampu mereka sebarkan.
Dalam tiga tahun terakhir, saya mampu menggerakkan ratusan siswa dan puluhan guru untuk aktif menulis, membaca, dan berbagi ilmu melalui kegiatan literasi yang konsisten. Upaya itu tidak berhenti pada kegiatan semata, melainkan tumbuh menjadi budaya yang hidup di lingkungan madrasah.
Selain itu, kecintaan saya pada literasi telah membawa saya dalam proses kreatif tertinggi yaitu menghasilkan buku solo pertama berjudul “Serpihan Mosaik” tahun 2024 dan buku solo kedua berjudul” Tidur dalam Dekapan Senyummu” tahun 2025. http://bit.ly/4mTUTyV. Selain buku solo, saya juga telah menulis puluhan buku antologi baik berupa opini, artikel, cerpen, puisi, dan cerita mini. Tahun 2019, saya mendapatkan penghargaan dari Bupati Aceh Timur sebagai penulis buku, selanjutnya tahun 2020, 2021, 2022, 2023, dan 2024 saya mendapatkan anugerah literasi dari Kementerian Agama Kabupaten Aceh Timur sebagai bentuk wujud konsistensi saya dalam menulis. http://bit.ly/4q3GgvI.
Selain itu saya juga pernah mendapatkan kesempatan sebagai Fasilitator Daerah dan Instruktur Visitasi AKMI dari Kementerian Agama RI. Saya juga aktif sebagai pembimbing siswa dalam beberapa ajang bergensi seperti OPSI, MYRES, FLS3N, Pramuka, dan Teater. Ratusan siswa telah saya hantarkan dalam memenangkan lomba di tingkat kabupaten, provinsi, bahkan nasional. http://bit.ly/3ILGirm.

Selain itu, saya juga menjadi tenaga pengajar UTBK untuk persiapan siswa masuk perguruan tinggi. Dari kegiatan ini, saya dan guru-guru lain mampu menghantarkan siswa- siswi MAN IC Aceh Timur diterima di kampus ternama di Indonesia, seperti UI, UGM, Brawijaya, USK, dan masih banyak lagi. Selain itu, beberapa siswa juga diterima di kampus luar negeri, seperti Turki, Malaysia, dan Mesir. Bukan hanya kampus impian, kami berhasil mengantarkan beberapa siswa diterima di IPDN, Kepolisian, STAN, STTD, STMKG, dan Unhan. https://bit.ly/4iehAwW.
Selain menghantarkan siswa, saya juga tidak mau kalah dalam ajang lomba, baru-baru ini saya ditetapkan sebagai Juara 1 Pengelola Website Literasi Tingkat Nasional tahun 2025, Juara 1 Cipta Puisi Semarak Literasi Tingkat Nasional tahun 2025 http://bit.ly/3VUlXmH, Juara 1 Lomba Berbagi Cerita Dampak Literasi Tingkat Nasional 2025 http://bit.ly/3IRI36o, Juara 1 Baca Puisi Virtual Tingkat Nasional tahun 2021, Juara 2 Baca Puisi Festival Literasi Aceh Tingkat Provinsi tahun 2025, selain itu saya juga pernah menjadi Semifinalis Indonesia Teacher Prize by Ruangguru tahun 2020, dan masih banyak lagi prestasi yang telah saya torehkan.
Dengan apresiasi ini, saya berharap dapat menjadikannya sebagai pintu pembuka untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada seluruh GTK di seluruh Indonesia. Melalui kesempatan ini, saya ingin memperkenalkan program Ahad School serta jejak literasi gerakan menulis buku bersama secara nasional. Harapan saya, program ini dapat berkembang menjadi salah satu program literasi madrasah/sekolah tingkat nasional, sehingga memberikan dampak yang lebih luas bagi dunia pendidikan dan literasi di Indonesia