Ika Damayanti

GURU IPA

Kunjungi Profil

Pembelajaran KBM IPA Tentang Gelombang Bunyi Yang Menyenangkan Dengan Gamelan

 

 

Ika Damayanti, M.Pd

SMP Negeri 8 Salatiga

Semenjak saya menjadi guru IPA di SMP Negeri 8 Salatiga selama 19 tahun, berbagai macam tantangan dalam kegiatan belajar mengajar datang silih berganti. Mulai dari kurangnya minat siswa terhadap pembelajaran IPA, keterbatasan alat untuk praktikum, dan lain-lain. Padahal KBM IPA adalah mata pelajaran yang membutuhkan pemahaman. Sudah banyak siswa yang beranggapan bahwa mata pelajaran IPA itu susah. Terutama untuk materi yang kurang dapat terdefinisikan dalam kehidupan sehari-hari siswa. Salah satu materi yang sulit adalah pemahaman terhadap materi gelombang bunyi. Hal ini diperkuat oleh pernyataan dari Wittmann (2003) dari hasil penelitiannya yang menyebutkan bahwa gelombang bunyi adalah materi yang sulit dimengerti karena banyak kesalahan konsep dalam memahaminya persamaannya. Hasil penelitian Sadgolu (2013) juga menyebutkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memahami dan menyampaikan perambatan melalui medium hingga sampai ke telinga pendengar. Bagaimana selanjutnya agar siswa tetap tertarik dan memahami pembelajaran tentang gelombang bunyi?

Fenomena fisika mengenai perambatan gelombang bunyi dapat ditemui pada peralatan musik, salah satunya adalah gamelan. Bunyi gamelan di dalam repertoar karawitan dapat dipandang sebagai gelombang akustik, atau dikenal juga sebagai gelombang bunyi. Gelombang bunyi dapat menjalar di media padat, cair, dan gas. Partikel-partikel bahan pada media yang mentransmisikan gelombang seperti itu berosilasi di dalam arah penjalaran gelombang itu sendiri (Resnick dan Haliday, 1995: 657). Gelombang seperti ini dikenal dengan istilah gelombang longitudinal, yaitu gelombang yang arah rambatnya sejajar dengan arah getarnya. Dengan demikian, salah satu cara yang saya terapkan untuk menarik siswa mempelajari gelombang bunyi adalah dengan bermain gamelan.

Gamelan adalah sebuah pernyataan musikal berupa kumpulan alat-alat musik (bunyi-bunyian) tradisional dalam jumlah besar yang terdapat (terutama) di Pulau Jawa (Yudhoyono, 1983). Menurut Sumarsam (2003 : 333-342) gamelan yang lengkap mempunyai kira-kira 75 alat dan dapat dimainkan oleh 30 niyaga (penabuh) dengan disertai 10 sampai 15 pesinden dan atau gerong. Susunannya terutama terdiri dari alat-alat pukul atau tetabuhan yang terbuat dari logam, sedangkan bentuknya berupa bilah-bilah ataupun canang-canang dalam berbagai ukuran dengan atau tanpa dilengkapi sebuah wadah gema. Alat-alat lainnya terdapat kendang, sebuah alat gesek yang disebut rebab, kemudian gambang atau sejenis xylophone dengan bilah-bilahnya dari kayu, dan alat berdawai kawat yang dipetik bernama siter atau calempung. Ketersediaan alat gamelan pada SMP Negeri 8 Salatiga tergolong cukup lengkap untuk pembelajaran KBM IPA tentang gelombang bunyi, hanya saja alat gamelan rebab dan siter yang tidak tersedia. Namun hal tersebut tidak mengurangi minat siswa untuk mengikuti KBM IPA ini dengan bermain gamelan.

Dalam bermain gamelan atau sering disebut dengan karawitan siswa dapat berpikir realistis mengenai konsep materi gelombang bunyi yang dapat menghasilkan peristiwa resonans dan perpaduan atau interferens. Interferens gelombang bisa saling memperkuat atau memperlemah, tergantung pada ketiga besaran terkait yaitu frekuensi, periode, dan amplitude. Interferensi antar dua buah sumber bunyi yang memiliki perbedaan frekuensi sangat kecil menghasilkan peristiwa pelayangan, yaitu berubah-ubahnya kenyaringan bunyi secara periodis (Sutrisno, 1984: 19). Pengrawit Jawa menyebut bunyi pelayangan ini dengan istilah ngombak. Berdasarkan hasil penelitian, telinga manusia dapat mendeteksi peristiwa pelayangan paling banyak 15 pelayangan perdetik. Pada frekuensi lebih dari itu, telinga manusia tidak dapat merasakannya. Dengan kata lain telinga manusia hanya bisa merasakan keindahan bunyi pelayangan gamelan atau ngombak bila frekuensinya kurang dari atau sama dengan 15 pelayangan per detik. Pada saat bermain gamelan siswa juga dapat memahami beberapa istilah pada materi gelombang bunyi dimana terdapat dua parameter atau besaran pokok, yaitu periode (T) dan amplitude (A) serta dua besaran turunan yaitu frekuensi (f) dan cepat rambat (v). Keempat besaran periode (T),amplitude (A),frekuensi (f) dan cepat rambat (v).

Sempat terpikirkan oleh saya apakah pembelajaran IPA dengan bermain gamelan atau karawitan ini akan berhasil? Dengan adanya aliran musik modern dan pengaruh musik dari mancanegara tentunya akan berdampak pada minat siswa terhadap gamelan. Ada beberapa siswa yang mungkin berpikiran musik gamelan ketinggalan zaman. Namun hal tersebut tidak menjadikan saya menyerah, siswa tetap saya ajak untuk bermain gamelan. Ternyata pembelajaran IPA dengan metode bermain gamelan atau karawitan ini menggabungkan beberapa fenomena, yaitu fenomena musikal, fenomena budaya, dan fenomena fisika IPA. Fenomena musikal menjadi pembangkit motivasi siswa. Mereka bergairah mengikuti kegiatan belajar dan melepas ketegangan dalam menyelesaikan kegiatan. Musik dari gamelan akan mengaktifkan siswa secara mental, fisik, dan emosional dan menciptakan pusat minat terhadap apa yang dipelajari sehingga dapat meningkatkan pemahaman tentang materi pembelajaran. Musik dari gamelan juga menstabilkan mental, fisik dan irama emosional untuk mencapai keadaan konsentrasi mendalam dan fokus di mana sejumlah besar konten informasi dapat diproses dan dipelajari. Fenomena budaya meningkatkan rasa kepedulian siswa dalam pelestarian warisan budaya Indonesia. Bunyi dan nada dari alat musik gamelan yang unik semoga mampu meningkatkan kreativitas siswa bermain musik secara modern tetapi tetap mengangkat instrument gamelan. Konsep pembelajaran KBM IPA tentang gelombang bunyi dengan bermain gamelan yang telah saya lakukan akan mengubah mindset siswa bahwa KBM IPA hanya sekedar teori, rumus atau persamaan perhitungan yang menjemukkan menjadi KBM IPA yang menyenangkan. Hal tersebut saya simpulkan saat melihat siswa-siswa saya yang tertawa riang dan tersenyum sepanjang KBM IPA dengan bermain gamelan bersama saya. 

 

Referensi:

Campbell, Don. 200. Efek Mozart, memanfaatkan Kekuatan Musik untuk Mempertajam Pikiran,Meningkatkan Kreativitas, dan Menyehatkan Tubuh. Jakarta : Gramedia

Jeannette (1999) Music and learning Eight ways to use music for teaching and learning http://www.thelearningweb.net/music-learning.html

Prasetya, Hanggar Budi. 2011. Fisika Bunyi Gamelan: Laras, Tuning dan Spektrum, Yogyakarta: Badan Penerbitan ISI Yogyakarta

Sadoglu, G. Palic. 2013. 9th Grade Students’ Mental Models About The Sound Concept. International Journal Of Educational Research And Technology, 4 [3], 21-26

Wittmann, C.M. 2003. Understanding and affecting student reasoning about sound waves. International Journal of Science Education, 25(8),991–1013.


Komentar (17)

Tuliskan Komentar Anda

Komentar Terbaru

Diane Noviyanti
1 bulan yang lalu

Fighting fighting fighting


Dapur Bu Tista
1 bulan yang lalu

Barokalloh...... Semoga menjadi amal jariyah , bermanfaat ilmunya


Erni Setiawati
1 bulan yang lalu

Maa Syaa Allah, Barakallahu fiik

Rekomendasi Artikel