suerwan

Kunjungi Profil

Menyambut Generasi Emas

MENYAMBUT GENERASI EMAS 2045 MELALUI NGAJENI WONG LIYO

oleh: Suerwan

SMPN 20 Surakarta suerwan03@gmail.com

Abstrak 

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang penerapan program Ngajeni Wong Liyo atau Menghargai Orang Lain untuk menyambut generasi emas 2045 pada siswa kelas VII C SMP Negeri 20 Surakarta Kecamatan Jebres, Kota Surakarta Semester I Tahun Pelajaran 2022. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan model penelitian tindakan kelas.  Jumlah siswa yang dijadikan subyek penelitian 32 siswa. Tulisan ini bertumpu dari introspeksi secara komprehensif yang peneliti lakukan setelah melakukan analisis hasil penilaian sikap dan spritual  yang  diperoleh siswa VII C. Dari hasil analisis penilaian formatif  diketahui bahwa tingkat kelemahan siswa dalam penialaian sikap dan spritual  menjadi penyumbang terbesar terhadap tidak tercapainya kriteria ketuntasan  minimal. Dari hasil pengamatan sikap bahwa indikator kerjasama dan toleran siswa kelas VIIC sangat rendah. Peneliti menyimpulkan bahwa rendahnya indikator kerjasama dan toleran  pada siswa berdampak pada rendahnya tingkat penilaian sikap dan spritual siswa. Sehingga hal tersebut berdampak pada proses perkembangan siswa yang tidak memiliki karakter. Dari introspeksi diatas, maka penulis berkeinginan untuk  mencoba meningkatkan karakter siswa  melalui tindakan  dengan menerapkan program Ngajeni Wong Liyo atau Menghargai Orang Lain. Adapun langkah – langkah  Ngajeni Wong Liyo atau Menghargai Orang Lain tersebut adalah ; 1) Pentingnya Menghargai Orang Lain. 2) Merayakan Keberagaman setiap siswa.  3) Mengakui perbedaan dan persamaan setiap siswa. 4) Menyambut generasi emas. Melalui penelitian  tindakan kelas dapat diketahui bahwa penerapan program  Ngajeni Wong Liyo atau Menghargai Orang Lain   memiliki dampak positif dalam meningkatkan penilaian sikap dan spritual pada siswa kelas VIIC SMP Negeri 20 Surakarta Semester Gasal Tahun 2022-2023.  Hal ini dapat dilihat dari semakin meningkatnya penilaian sikap dan spritual siswa dan karakter siswa. Hasil observasi pada kegiatan diskusi yang dilakukan oleh peneliti terhadap indikator kerjasama dan toleran juga menunjukkan peningkatan yang signifikan.  Secara klasikal penialaian sikap dan spritual terjadi peningkatan dari kondisi awal, Siklus I dan Siklus II masing – masing  33 %, 65,37% dan 75,07%. Pada siklus II secara klasikal tercapai.

Keywords :

“Penerapan Program Ngajeni Wong Liyo atau Menghargai Orang Lain, generasi, karakter siswa kelas kelas VII C SMP Negeri 20 Surakarta”

PENDAHULUAN

Menghargai adalah sikap peduli dan beradap terhadap diri sendiri ataupun orang lain dan lingkungan, memperlakukan orang lain seperti keinginan untuk dipedulikan, beradap, sopan, tidak melecehkan dan menghina orang lain, tidak menilai orang lain buruk sebelum mengenal dengan baik. Pada anak-anak generasi Z atau gen Z manusia ada kecenderungan yang mana mereka tidak lagi dapat menghargai orang lain. Hal ini tidakhanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di luar negeri. Ada banyak kejadian yang menyedihkan, memilukan, dan mengerikan yang terjadi akibat manusia tidak dapat menghargai orang lain. Ketidakmampuan menghargai orang lain dapat terlihat dari bentuk dan cara yang paling sederhana seperti pelecehan seksual, sodomi, dan lain-lain sampai ke hal yang paling kasar yaitu melakukan penyiksaan, pembunuhan bahkan pembunuhan massal/sadis. Stott (1994:194-195) mengatakan: “Masih banyak bentuk penyiksaan/penindasan lain. Komisi hak asasi PBB menerima kira-kira 20 ribu pengaduan setiap tahun. Perlakuan tidak adil terhadap golongan minoritas masih saja terjadi dimana-mana.” Dari hasil study dokumentasi analisis penilaian kualitatif pada sikap dan spritual, lebih dari 50 % siswa kelas VIIC mendapatkan nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Dari hasil pengamatan observasi kegiatan diskusi, diperoleh perbadingan sebagai berikut ; 1) kerjasama,  67%, 30% dan 20% ; 2) Disiplin, 70%, 40%  dan 40% ; 3) Tanggung Jawab, 62%, 40% dan 20% ; 4) Kreatif, 80%, 50%, dan 40% ; 5) Peduli Lingkungan Sosial, 72%, 50% dan 40%.

METODE

Artikel menggunakan metode kualitatif dengan model studi tindakan kelas. Artikel diawali dengan mengidentifikasi dan merumuskan masalah pada penilaian sikap dan spritual padas siswa, selanjutnya alasan penting menghargai orang lain, merayakan keberagaman setiap siswa, mengakui perbedaan dan persamaan orang lain. Kemudian, menyambut generasi emas 2045. Lalu yang terakhir adalah simpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Setiap siswa hendaknya sadar bahwa setiap siswa harus bisa dan mau menerima orang lain apa adanya, dalam arti tidak ada diskriminasi. Siswayang mampu mampu menerima temanya dengan tidak membedakan suku, agama, bahasa, jenis kelamin, dan bangsanya. Setiap siswa patut dan layak untuk dihargai dan dihormati. Penerimaan ini harus dilakukan dengan tulus dan penuh kesadaran. Jika siswa mampu menerima temanya apa adanya, orang itu pun akan diterima apa adanya. Layaknya hukum tabur tuai, apa yang ditabur seseorang, itu juga yang dituai orang tersebut. 

Hal lain yang penting dalam memahami sikap menghargai orang lain adalah harus mampu memosisikan atau mendudukkan orang lain sama pentingnya dengan diri sendiri. Artinya, jika seorang merasa diri penting/berharga, dia pun harus sadar juga atau memahami juga bahwa orang lain juga penting dalam arti sama pentingnya atau berharganya dengan diri sendiri. Jika hal ini dapat disadari dan dijalankan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari, siswa tersebut akan dapat mengimplementaskan dalam betuk perkataaan dan tindakan atau perbuatan yang baik terhadap temanya atau orang lain. Perlakuan seperti ini sesungguhnya adalah meningkatkan harkat dan martabat manusia itu sendiri sebagai makhluk yang mulia, berbudi luhur dan agamais, yang sekaligus menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM).

Pentingnya menghargai orang lain.

Demi mewujudkan suatu pencapaian diri dan terhadap orang lain, seseorang harus memahami juga alasan pentingnya menghargai orang lain. Makin seseorang memahami alasan harus menghargai orang lain, makin baik dan besar pula penghargaan terhadap orang lain. Berikut ini adalah alasan pentingnya menghargai orang lain. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Tidak termasuk golongan umatku orang yang tidak menghormati mereka yang lebih tua dan tidak mengasihi mereka yang lebih muda darinya, serta tidak mengetahui hak-hak orang berilmu." (HR Ahmad). Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan dan menggugah kembali hati semua orang akan pentingnya menghargai orang lain. 

Hal terpenting yang mendasar adalah manusia makhluk sosial, yang artinya setiap orang tidak bisa hidup sendiri. Manusia saling membutuhkan, saling mencukupkan, dan saling melengkapi. Tanpa kehadiranorang lain hidup tidak lengkap atau tidak sempurna dan tidak bahagia. Aristoteles (384-322 SM) seorang ahli filsafat Yunani kuno menyatakan dalam ajarannya, bahwa manusia adalah zoon politicon artinya bahwa manusia itu sebagai makhluk, pada dasarnya selalu ingin bergaul dalam masyarakat. Karena sifatnya ingin bergaul satu sama lain, maka manusia disebut sebagai makhluk sosial. Setiap orang harus sadar bahwa dirinya akan menjadi makin bermakna atau berharga karena penghargaan dari orang lain.

Guru berharga karena ada muridnya; dosen berharga karena ada mahasiswanya; penyanyi berharga karena ada penontonnya/pendengarnya; pemimpin berharga karena ada yang dipimpinnya. Seorang menjadi besar juga karena dibesarkan orang lain (orangtua). Suatu produk berharga karena ada pembelinya/pemakainya. Orang kota membutuhkan orang desa dan sebaliknya. Ustaz/pendeta berharga karena ada umatnya. Siapapun dia, apapun status atau jabatannya, pasti membutuhkan orang lain. Sesungguhnya hidup ini menjadi berhaga atau berarti karena kehadiran orang lain. Jadi setiap orang harus berkata bahwa manusia saling membutuhkan, maka penting untuk saling menghargai.

Berdasarkan teori di atas benang merah yang kemudian dapat ditransfer ke siswa kelas VII C SMP Negri 20 Surakarta adalah mulailah dari sendiri untuk menghargai orang lain. Hal tersebut tidak lain untuk menumbuhkan kepekaan sosial yang dapat bertransformasi menuju pada peningkatan belajar yang kemudian dapat terwujud dalam bentuk penilaian sikap dan spiritual yang lebih baik dan menumbuhkan karakter diri yang unggul.

Merayakan keberagaman setiap siswa

Apabila mengikuti konteks masyarakat, keberagaman adalah menunjuk pada suatu kondisi dalam kehidupan bermasyarakat dimana setiap individunya memiliki perbedaan di berbagai bidang, mulai dari gender, suku bangsa, ras, agama, ideologi, budaya, bahasa, hingga pemikiran. Hal itu juga yang kerap disebut sebagai masyarakat majemuk. Suatu keberagaman yang “hidup” pada kehidupan bermasyarakat ini harus diimbangi dengan adanya kesederajatan. Hal tersebut karena kesederajatan ini memiliki arti sebagai suatu kondisi terutama di dalam kehidupan keberagaman ini, setiap manusia tetap memiliki suatu kedudukan yang sama pada satu tingkatan hierarki sosial hingga membentuk sebuah budaya dalam masyarakat.

Koentjaraningrat (2007:10) mengemukakan pendapatnya mengenai budaya, menurutnya budaya yaitu suatu gagasan dan rasa, suatu tindakan dan juga karya yang merupakan sebuah hasil yang dihasilkan oleh manusia didalam kehidupan masyarakat yang akan dijadikan kepunyaannya dengan belajar. Konteks permasalahan   mengenai keberagaman yang muncul juga memperlihatkan   bahwa   konsep  dan   bangunan   teori  toleransi adalah produk sejarah yang meniscayakan perlunya pemaknaan secara kontinyu sesuai  dengan  konteks yang  dihadapi.  Konteks masyarakat  juga  akan memunculkan  varian  konsep, terutama  dalam  hal pendefinisian, batasan-batasan  toleransi,  dan alasan  argumentatifnya.  Dalam sejarah  perkembangannya,  toleransi bisa  jadi  melahirkan sikap  skeptis  seseorang dan  bisa  juga melahirkan  sikap  hanya sekadar  menghargai  orang lain. 

Toleransi yang  dilandasi  sikap skeptis  memungkinkan  seseorang bisa  meningkatkan  kualitas dalam  memahami  perbedaan dan  perbaikan  diri atau  bahkan  menemukan kebenaran  baru.  Sedangkan sikap  yang  hanya sekadar  menghargai  orang lain  hanya  sebatas menjalin relasi harmonis tanpa mempersoalkan perbedaan. Hal inilah yang kemudian dapat dinarasikan sebagai sebuah bentuk merayakan keberagaman sebagai bentuk anugerah Tuhan YME. 

Realita dan konsep sejarah yang menjadi warisan nenek moyang bangsan dan negera inilah yang kemudian harus dituangkan kembali dalam pot-pot bunga di setiap sekolah. Agar konsep merayakan keberagaman bagi siswa dapat diwujudkan dalam bentuk toleransi antar teman sebaya serta antar anggota masyarakat sekolah bahkan lebih umum dapat dibawa ke ruang interaksi yang lebih luas. Ngajeni wong liyo atau menghargai orang lain tidak hanya sebagai upaya meningkatkan nilai toleransi akan tetapi dapat membetuk karakter siswa sebagai pemegang tongkat estafet bangsa ini. Upaya inilah yang kemudian dikembangkan sebagai sebuah program bagi siswa kelas VIIC SMP Negeri 20 Surakarta guna meningkatkan nilai sikap dan spritual serta membentuk karakter siswa yang memegang teguh warisan leluhur.

Mengakui perbedaan dan persamaan orang lain

          Pendidikan multikultural adalah pendidikan yang berlandaskan pada asas dan prinsip konsep multikulturalisme yakni konsep keberagaman yang mengakui,menerima dan menegaskan perbedaan dan persamaan manusia yang dikaitkan dengan gender, ras, dan kelas,agama berdasarkan nilai dan paham demokratis yang membangun pluralisme budaya dalam usaha memerangi prasangka dan diskriminasi. Adapun pentingnya pendidikan multikultural di Indonesia yaitu sebagai sarana alternatif pemecahan konflik, peserta didik diharapkan tidak meninggalkan akar budayanya, dan pendidikan multikultural sangat relevan digunakan untuk demokrasi yang ada seperti sekarang.

          Pendidikan demokrasi penting untuk menguatkan pondasi keberagaman bangsa ini menuju era kemajuan zaman. Bidang pendidikan adalah cerminan yang paling jelas bayanganya dalam mengiringi wajah demokrasi bangsa dan negeri ini. Maka sewajarnya jika hal tersebut harus mulai digalakan lagi ditengah pergaulan global yang menerpa para generasi bangsa ini. Tuntutan bagi dunia pendidikan tidak hanya mencetak generasi bangsa yang cerdas akan tetapi juga berkarakter. Benang merah dari pelajar yang berkarakter ini adalah ranah yang justru akan menentukan arah dan tujan bangsa ini akan berlabuh kemana. Inilah tujuan penulis dalam mengupayakan meningkatkan nilai sikap dan spritual siswa kelas VII C SMP Negeri 20 Surakarta melalui sebuah program ngajeni wong liyo. Hal ini tidak mencegangkan jika melihat realita pelajar saat ini yang sedang terbuai janji manis dari era digitalisasi yang mempunahkan nilai-nila luhur dari keberagaman. 

Menyambut generasi emas 2045 

Usia produktif merupakan usia seseorang yang masih bisa bekerja dan menghasilkan sesuatu. Besarnya penduduk usia produktif tersebut merupakan modal penting untuk mempercepat pembangunan di suatu wilayah. Dalam laporan Proyeksi Penduduk Indonesia 2015-2045, Kementerian PPN dan BPS memprediksi jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 318,96 juta jiwa pada 2045. Dari jumlah tersebut, penduduk usia produktifnya (15-64 tahun) diperkirakan mencapai 207,99 juta jiwa. Sedangkan penduduk usia tidak produktifnya diperkirakan mencapai 110,97 juta jiwa. Terdiri dari 44,99 juta penduduk usia sudah tidak produktif (di atas 65 tahun) dan 65,98 juta penduduk usia belum produktif (0-14 tahun). Berdasarkan data tersebut, angka ketergantungan (dependency ratio) penduduk Indonesia pada 2045 diperkirakan sebesar 53,35%, artinya 100 penduduk usia produktif menanggung beban 54 penduduk usia tidak produktif.

Indonesia Emas 2045 adalah suatu upaya dalam membangun generasi emas yang dimana adalah sebuah konsep penerapan untuk menyiapkan suatu generasi penerus bangsa Indonesia pada 100 tahun emas Indonesia merdeka antara tahun 1945 sampai tahun 2045.

Namun masih sangatlah di sayangkan visi yang sangat baik ini masih berbentuk opini yang dimana belum terdapat kerja atau karya nyata untuk membuktikan akan adanya Indonesia emas pada tahun 2045 nanti. Pada hakekanya yang menjadi PR besar dalam mewujudkan impian ini adalah pemuda, sebagai generasi dan penerus bangsa.

Kondisi masa kinipun sangatlah mengkhawatirkan, dimana pemuda sebagian besar hanya sibuk dengan urusan smartphonenya masing-masing dan terjebak dalam sifat individualisnya yang telah tertanam kuat pada pikiran mereka. Hal inilah yang menjadi concern penulis coba pecahkan melalui program ngajeni wong liyo atau menghargai orang lain dalam rangka menyambut generasi emas 2045 di kelas VIIC SMP Negeri 20 Surakarta. Hal yang harus mulai di kendalikan dalam problematika tersebut adalah pembentukan karakter siswa dimana menghargai orang lain adalah keharusan dan kewajiban. Fokus program ini adalah anak lebih peduli terhadap kebersamaan, toleransi, kreatif, mandiri serta berakhlak mulia. Bekal yang tidak hanya mampu membetengi diri dari serbuan budaya asing, namun juga sebagai pendamping yang sepadan bagi siswa dalam membekali dirinya dengan kecerdasan.

SIMPULAN 

Apabila program ngajeni wong liyo atau menghargai orang lain di terapkan di kelas VIIC SMP Negeri 20 Surakarta sebagai standar penilai sikap dan spiritual untuk menguatkan karakter siswa yang unggul dalam rangka menyambut generasi emas 2045 bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Olehnya, hal tersebut akan memiliki manfaat yang dapat diperoleh adalaha) Kreatifitas guru dalam mengembangkan pembelajaran meningkat dan berkualitas ; b) Pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan kegiatan diskusi akan mampu meningkatkan pembetukan karakter siswa yang mandiri, berintegritas dan kreatif,  c) dari perubahan lingkungan kelas adalah tersedianya sumber belajar yang bervariasi karena siswa akan cenderung lebih memiliki nalar kritis dan berani mengemukakan pendapat, d) Siswa akan menjadi siap secara intelektual dan mental sebagai generasi penerus bangsa ini.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Bandung: Reneksa Cipta.

Boediono. (n.d.) Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakarta: Bintang Indonesia. 

Harisiati, Titik. 1999. Penelitian Tindakan Sebagai Aplikasi Metode Ilmiah dan Pemecahan Masalah Pembelajaran bahasa Dalam Seminar FPBS IKIP Malang.

https://jurnal.univpgri-palembang.ac.id/index.php/Prosidingpps/article/view/1834

Sutardi, T. 2007. Antropologi: Mengukap Keragaman Budaya . Bandung: Setia Purna Inves

https://www.kompasiana.com/jordi7051/62c54a2d0d82307bc8201df2/pentingnya-menghargai-orang-lain-di-kehidupan

 


Komentar (0)

Tuliskan Komentar Anda

- Belum ada komentar, jadilah yang pertama berkomentar -