NIKEN EKA PRIYANI, S.Pd

Kunjungi Profil

Kisahku di Batas Negeri Berlabuh di Pulau Borneo Senentang

Guru merupakan salah satu profesi yang berjasa dalam bidang pendidikan untuk mencerdaskan anak bangsa. Oktober tahun 2017 adalah langkah awal setelah penantian panjang dan berliku dari jalan hidup yang saya lalui, karena di tahun ini saya diterima sebagai CPNS oleh Kemendikbud untuk formasi Guru Garis Depan (GGD) di Kabupaten Sintang Kalimantan Barat. Perjalanan ini tidak terlepas dari peran UNNES (Universitas Negeri Semarang) yang merupakan tempat saya menimba ilmu saat menempuh studi S1 Jurusan Kimia Prodi Pendidikan Kimia. UNNES merupakan tempat saya belajar menempa diri dari berbagai tantangan yang saya hadapi karena di sinilah saya melanjutkan kembali studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) SM-3T. Di kampus ini saya mendapat banyak sekali ilmu serta pelajaran hidup baik suka maupun duka. Saat pengumuman lolos seleksi penempatan CPNS oleh Kemendikbud untuk formasi Guru Garis Depan (GGD) membuat saya terharu karena sebelum pengumuman kelulusan tersebut, saya telah 1 tahun mendedikasikan diri untuk mengajar di Nusa Tenggara Timur tepatnya di daerah Manggarai untuk mendidik siswa-siswi di daerah tersebut yaitu di SMP Negeri 7 Satarmese Barat melalui program SM-3T oleh Kemendikbud pada tahun 2011. Sebelum ikut dalam program SM-3T saya juga sudah mengabdikan diri dalam bidang pendidikan yaitu mengabdi sebagai guru tidak tetap di salah satu sekolah negeri di Jawa yaitu di SMA Negeri 1 Karanganom sambil menempuh kuliah S2 dan akhirnya lulus dengan predikat cumlaude. Kemudian setelah mengikuti program SM-3T yaitu bertugas selama 1 tahun, saya dipanggil oleh Kemendikbud untuk mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang dilaksanakan di Universitas Negeri Semarang pada tahun 2013. Pendidikan PPG dilaksanakan selama satu tahun, dimana semua peserta wajib tinggal di asrama dan mengikuti seluruh kegiatan perkuliahan dan pelatihan. Setelah menyelesaikan program PPG, saya wajib mengikuti Ujian Tulis Nasional untuk mendapatkan sertifikat profesi guru. Lolos passing grade pada Ujian Tulis Nasional merupakan syarat wajib yang harus saya penuhi agar mendapatkan sertifikat tersebut. Setelah mendapatkan sertifikat pendidik tersebut, saya gunakan untuk mendaftar CPNS. Setelah berusaha dalam tes CPNS akhirnya saya mendapatkan secercah harapan dan terwujudnya impian saya. Harapan dan Impian untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS) terwujud berkat program GGD melalui tes CPNS Kemendikbud.

Kabupaten Sintang yang akrab dengan istilah Bumi Senentang merupakan tempat dinas yang telah ditentukan oleh Kemendikbud karena seorang PNS harus bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia dan akhirnya Kabupaten Sintang lah tempat berlabuh pengabdian saya. Lokasi sekolah berada di dekat perbatasan Malaysia dengan Indonesia yaitu di SD Negeri 29 Idai yaitu berada di Desa Idai Kecamatan Ketungau Hulu. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah yang baru dinegerikan. Perjalanan dari Kota Pontianak ditempuh selama 8 jam dan masih dilanjutkan menggunakan mobil sejauh 9 jam perjalanan darat dari pusat kota Kabupaten Sintang melewati hutan dan jalan perkebunan sawit sehingga kurang lebih perjalanan ditempuh selama 17 jam dari ibukota Provinsi Kalimantan Barat. Sesampainya di tempat tugas warga masyarakat sangat gembira dan antusias, hal ini ditunjukkan dengan hadirnya tokoh masyarakat adat dayak di desa Idai, kepala desa, warga masyarakat sekaligus wali murid, guru honorer dan kepala sekolah. 

 Gambar 1. SD Negeri 29 Idai

Sebagian besar penduduk di desa Idai bermata pencaharian sebagai petani di ladang, sebagian sebagai buruh perkebunan sawit dan sebagian lagi sebagai pedagang. Desa Idai terdiri atas berbagai suku seperti suku Dayak, suku Bugis, suku Melayu maupun suku Jawa serta mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama kristen dan katholik serta muslim namun dengan jumlah yang sangat sedikit. Di desa ini memang masih memiliki keterbatasan diantaranya adalah akses jalan yang sulit dan harus ditempuh dalam waktu lama, belum adanya listrik di daerah ini sehingga diharapkan ke depan listrik akan segera masuk agar dapat mendukung dalam proses pembelajaran dan tidak menjadi hambatan bagi guru dalam proses pembelajaran terutama dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0.

Gambar 2. Akses jalan menuju ke daerah tempat tugas dari Kabupaten Sintang

Siswa-siswi di SD Negeri 29 Idai memiliki semangat yang tinggi dalam belajar walaupun dalam kondisi terbatas. Kondisi seperti tidak adanya listrik di sekolah, satu ruang kelas digunakan untuk dua kelas, dengan dibatasi oleh papan triplek, hampir semua siswa menggunakan baju seragam bekas kakak atau saudaranya yang pernah bersekolah, sehingga jarang sekali siswa menggunakan baju seragam yang baru. Bahkan masih banyak siswa yang tidak menggunakan baju seragam, serta hampir seluruh siswa datang ke sekolah tanpa alas kaki (tidak menggunakan sepatu). Keterbatasan yang dialami siswa tidak meruntuhkan semangatnya untuk datang ke sekolah. Kondisi yang serba kurang, mulai dari kurang rapinya administrasi sekolah, sarana prasarana, administrasi guru dan berbagai aspek lainnya, mendorong saya untuk mengubah kondisi yang kurang layak tersebut menjadi kondisi yang layak. Berbagai upaya telah saya lakukan untuk mengubah sekolah di batas Negara Indonesia-Malaysia menjadi sekolah layak dengan standar minimal sesuai tugas saya yaitu membangun pendidikan Indonesia di daerah 3T (Terdepan Terluar dan Tertinggal).

  Gambar 3. Aktivitas pembelajaran di SD Negeri 29 Idai

 Beberapa kegiatan yang telah saya lakukan dan saya tingkatkan di tempat pengabdian adalah mengenai gerakan literasi sekolah berbasis karakter. Literasi sangat penting sekali untuk digencarkan terutama bagi sekolah yang berada di daerah 3T. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) memang sejatinya sangat diperlukan apalagi berguna untuk menumbuhkan minat baca anak sejak dini. Gerakan ini bertujuan agar siswa memiliki budaya membaca dan menulis sehingga tercipta pembelajaran sepanjang hayat. walaupun dalam keterbatasan yang awalnya buku hanya dari dana BOS dan jumlahnya terbatas, kami berusaha untuk mendatangkan buku dengan biaya sendiri membeli buku bagi siswa maupun mencari bantuan atau donasi buku bacaan bagi siswa yang dimulai dengan banyak buku-buku cerita bergambar yang menarik sehingga siswa tertarik untuk membaca. Sebelum lonceng berbunyi masuk siswa yang awal datang ke sekolah langsung mencari buku bacaan untuk dibaca atau dipinjam. Saat istirahat pun anak-anak meminjam buku bacaan dan tertarik sedikit demi sedikit untuk membaca buku. Mulai dari kelas 1 walaupun belum bisa membaca tapi ketertarikan untuk meminjam buku sangat antusias. Dengan ini diharapkan anak-anak sudah mulai tertanam untuk suka membaca buku. Tujuan lain dari GLS (Gerakan Literasi Sekolah) adalah memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti yaitu dengan kegiatan membaca buku non pelajaran selama 15 menit sebelum waktu belajar dimulai. Materi baca bisa berisi nilai-nilai budi pekerti sesuai dengan perkembangan anak. Di SD Negeri 29 Idai juga mulai diterapkan sehingga dapat menumbuhkan minat baca peserta didik. Akan tetapi kendala yang dihadapi untuk memperkuat Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini di SD Negeri 29 Idai khususnya adalah keterbatasan jenis buku yang ada serta belum adanya jaringan internet maupun listrik sehingga ini bisa menjadi sedikit hambatan bagi guru. Akan tetapi guru berusaha secara maksimal dengan mendatangkan buku sendiri melalui bantuan-bantuan dari masyarakat. Sehingga akan sedikit mengurangi kendala yang ada. Untuk daerah perbatasan memang sangat dibutuhkan peran penting Pemerintah dalam membantu mencerdaskan anak bangsa. Dalam hal ini Pemerintah bisa membantu pengadaan listrik maupun jaringan internet sehingga guru akan lebih mudah mengakses informasi dan tidak akan tertinggal dari daerah perkotaan. Saya akan tetap terus berjuang dan berusaha mencerdaskan anak bangsa walaupun dalam keterbatasan, akan tetapi tak membuat saya menjadi terbatas terutama dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan di era millenial saat ini. 

Hari berganti hari bulan berganti bulan tahun berganti tahun saya menapaki pengabdian di Pulau Borneo ini. Selama menjalani pengabdian di sini saya telah banyak mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri yaitu pelatihan baik Nasional maupun Internasional. Di antaranya adalah Lolos mengikuti Pelatihan Alat Peraga Matematika Sederhana (APMS) oleh PPPPTK Matematika Yogyakarta mewakili Kabupaten Sintang, Lolos mengikuti Seminar Nasional Guru Dikdas Berprestasi Angkatan II di Jakarta mewakili Kabupaten Sintang, mengikuti Lokakarya Nasional dalam Rangka Hari Guru Sedunia 2018 oleh UNESCO mewakili Provinsi Kalimantan Barat, mengikuti Pembinaan Karir Guru Daerah Khusus Mewakili Kabupaten Sintang di Bali oleh Kemendikbud, Mengikuti Bimtek Literasi di Palembang, Simposium Nasional oleh PPPPTK IPA di Jakarta, Pelatihan Pembuatan Soal Berbasis UN dan PISA di PPPPTK Matematika Yogyakarta. Mengikuti Pembekalan Gerakan AjarMat (Ayo Belajar Matematika) Tahap II yang diselenggarakan oleh PPPPTK Matematika Yogyakarta di Jakarta, mengikuti kegiatan Seameo Qitep In Mathematics (SEAQIM) secara daring, mengikuti Workshop Penulisan Jurnal Didaktika Pendidikan Dasar yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Dasar di Jakarta serta mengikuti Diklat Wawasan Kebangsaan yang diselenggarakan oleh PPPPTK PKn dan IPS di Kota Batu Malang Jawa Timur. Saya sangat bersyukur bisa diberikan kesempatan untuk mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri walaupun bertugas di daerah terdepan terluar maupun tertinggal karena dapat memacu semangat saya untuk terus maju dan tidak tertinggal. Dan yang membuat saya terharu lagi pada saat peringatan Hari Guru Sedunia pada tanggal 8 Oktober 2020 yang lalu menjadi salah satu dari 18 Guru di Indonesia yang mendapat Apresiasi Guru Berbagi dan Guru Belajar dari Dirjen GTK dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan mendapatkan sebuah laptop. Serta di tahun 2021 ini pada Dies Natalis UNNES yang ke-56 saya menjadi salah satu yang mendapatkan penghargaan sebagai Guru Pelopor di Daerah 3T. Sungguh menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya karena dapat memacu saya untuk lebih semangat lagi dalam memberikan kontribusi serta inovasi dalam pendidikan.

Di tahun 2022 adalah memasuki tahun kelima saya di Pulau Borneo ini dan dari tahun 2020 lalu ada sesuatu yang berbeda dalam pendidikan dan pembelajaran. Pendidikan di Indonesia saat ini mengalami perubahan yang cukup besar. Hal ini dikarenakan adanya Pandemi Covid-19 yang belum bisa diprediksikan kapan berakhirnya sehingga kita tidak bisa menunggu situasi kembali normal untuk mulai beraktivitas kembali. Termasuk dalam hal pembelajaran, adanya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan segala dinamikanya masih merupakan pilihan agar para siswa tetap belajar dan menghindari penyebaran virus Corona. Meskipun wacana masuk sekolah di zona hijau pun tetap ada dan akan segera dilakukan di beberapa daerah zona hijau, namun hal yang lebih penting dari semua itu adalah upaya untuk mempersiapkan guru, siswa serta orang tua dalam menghadapi perubahan proses pembelajaran di tengah pandemi ini. Dengan situasi saat ini yang mengalami berbagai perubahan, tentunya perlu adanya beberapa upaya yang dilakukan agar dapat menyesuaikan diri dengan keadaan. Seorang guru dalam menghadapi situasi di masa pandemi ini harus tetap berupaya untuk melakukan inovasi dalam pembelajaran. Saya sebagai guru di daerah perbatasan tepatnya di SDN 29 Idai yang berada di desa Idai Kecamatan Ketungau Hulu Kabupaten Sintang Provinsi Kalimantan Barat, walaupun dalam keadaan terbatas dimana belum adanya listrik serta sinyal yang sulit tapi tidak membuat saya menjadi terbatas. Ini justru menjadi tantangan tersendiri bagi saya sebagai seorang guru agar tetap kreatif serta inovatif dalam melaksanakan proses pembelajaran di masa pandemi ini. Dalam menyikapi pandemi Covid-19 ini berdasarkan hasil pertemuan rapat komite sekolah yang dilaksanakan pada awal tahun akademik dengan stakeholder sekolah terdapat keinginan kuat dari orang tua siswa untuk meminta anaknya masuk ke sekolah selama masa pandemi dan tidak memberlakukan belajar dari rumah ataupun belajar jarak jauh. Keinginan tersebut bertolak belakang dengan Surat Edaran Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan Surat Edaran dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sintang. Kondisi geografis sekolah serta kendala sinyal, tidak adanya perangkat gawai yang dimiliki siswa, kesibukan orang tua di kebun menjadi sebuah pertimbangan tersendiri bagi pihak sekolah dalam merumuskan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) secara luring di SD Negeri 29 Idai dan tentunya sudah ada kesepakatan dengan komite sekolah, orang tua siswa serta tokoh masyarakat di desa Idai. 

Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di SDN 29 Idai dilaksanakan secara luring yaitu dengan tatap muka seminggu sekali secara bergiliran siswa-siswi ke sekolah dengan waktu yang terbatas dan dengan protokol kesehatan/protokol Covid-19. Hal ini dilaksanakan secara luring karena kondisi di desa Idai yang belum adanya listrik serta sinyal yang sulit sehingga tidak memungkinkan untuk dilaksanakan secara daring. Selain itu juga kondisi jarak yang jauh dari pusat kota yaitu kurang lebih 12 jam menjadi tantangan tersendiri bagi Guru yang bertugas di SDN 29 Idai ini. Solusi pelaksanaan kegiatan dengan pembelajaran luring menjadi sebuah pilihan yang diangap bijak dengan tetap mengacu pada protokol Covid-19 dan panduan kegiatan pembelajaran di Era New Normal yang dikeluarkan oleh Kemdikbud. Apalagi pada saat ini perkembangan teknologi informasi yang demikian cepat merupakan tantangan baru bagi guru. Para pakar pendidikan berpendapat bahwa penguasaan para guru terhadap teknologi informasi sangat berpengaruh terhadap keberhasilan dalam mengelola pembelajaran di sekolah. Termasuk salah satunya sekolah saya yang berada di perbatasan walaupun dengan keadaan yang terbatas namun saya sebagai seorang guru harus tetap berinovasi mengikuti perkembangan zaman di era digital saat ini. Sebelum adanya pandemi Covid-19 yang menghantam dunia termasuk Indonesia terlebih di bidang pendidikan dan sebelum adanya transformasi di era digital, pembelajaran tatap muka efektif dilakukan. 

Model pembelajaran yang dilakukan saat sebelum adanya transformasi digital di sekolah saya di perbatasan adalah menggunakan beberapa model pembelajaran yang menarik bagi siswa. Salah satunya adalah menggunakan Pembelajaran Joyfull Learning Berorientasi Project Based Learning (PjBL) di kelas 4. Pembelajaran Joyfull Learning itu sendiri merupakan suatu proses pembelajaran yang membuat suasana belajar siswa menjadi menyenangkan sehingga anak-anak merasa senang untuk belajar tidak merasa sebagai beban serta Guru memposisikan diri sebagai fasilitator dan mitra belajar bagi siswa. Sedangkan Project Based Learning (PjBL) merupakan model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Karakteristik utama dalam PjBL adalah adanya permasalahan di dunia nyata (benar-benar terjadi) yang diangkat menjadi skenario dan kegiatan pembelajaran, serta peran para siswa adalah sebagai ahli, yang merancang/mengembangkan solusi dan produk untuk mengatasi/menyelesaikan permasalahan riil tersebut. Sehingga saya sebagai seorang guru mencoba menggabungkan antara Pembelajaran Joyfull Learning serta Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) dengan tujuan agar tercipta suasana pembelajaran yang menyenangkan serta siswa dapat berinovasi dan kreatif dalam membuat proyek atau kegiatan sebagai media. Sebagai contohnya saat pembelajaran matematika siswa kelas 4 diminta untuk membuat dua buah kubus setiap kelompok dimana setiap kubus tersebut dibuat dari 6 lembar kertas lipat saja tanpa menggunakan lem, gunting, pensil dan lain-lain. Jadi, di dalam proses pembuatan kubusnya hanya bermodalkan kertas lipat 6 (enam) buah dengan warna yang berbeda dimana kertas lipat tersebut sudah disediakan oleh guru dan dengan hanya menggunakan tangan saja. Selanjutnya dari kubus yang telah dibuat nantinya akan untuk bermain game yaitu setiap sisi kubus diberi angka dan nantinya dua buah kubus tersebut sebagai dadunya dilempar, maka akan terlihat dua angka yang berbeda dan guru menginstruksikan untuk menjumlahkan, mengurangkan atau mengalikannya sesuai dengan soal yang ada di dalam permainannya. Siswa-siswi dalam setiap kelompok diminta untuk membuat dua buah kubus dengan cara yang telah diinstruksikan oleh guru dan kubus tersebut digunakan untuk belajar operasi bilangan yaitu penjumlahan, pengurangan, pembagian serta perkalian dalam permainan/games dimana setiap kelompok melempar dua buah kubus tersebut yang setiap sisinya sudah diberi angka lalu setelah dilemparkan akan mucul dua buah angka yang nantinya digunakan untuk operasi bilangan. 

Setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran matematika dengan model Pembelajaran Joyfull Learning Berorientasi Project Based Learning (PjBL) ternyata siswa-siswi kelas 4 merasa antusias dan senang dalam membuat tugas proyek yaitu kubus tersebut dengan sebelumnya diberikan instruksi oleh guru. Tugas proyek tersebut merupakan PjBL nya dan Joyfull Learning atau pembelajaran yang menyenangkannya ada saat permainan di dalam melemparkan dadu dari kubus tersebut dengan menjumlahkan, mengurangkan mengalikan angka-angka yang ada setelah dua buah dadu dari kubus tersebut dilempar. Sehingga terciptalah suasana pembelajaran yang menyenangkan serta tujuan pembelajaran pun tercapai. Kelebihan dari model pembelajaran Joyfull Learning Berorientasi Project Based Learning (PjBL) adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan serta siswa dapat lebih kreatif serta inovatif dalam pembelajaran. Saya sebagai seorang guru yang berada di lintas batas pelosok negeri tentunya akan terus berusaha untuk berinovasi serta kreatif dalam melaksanakan proses pembelajaran. Terlebih lagi setelah pandemi Covid-19 menghantam negeri ini, maka sebagai seorang guru harus mengikuti perkembangan teknologi digitalisasi. Hal ini sesuai dengan tuntutan revolusi industri 4.0 dan revolusi industri 5.0. Beberapa negara telah mengembangkan berbagai platform, aplikasi yang dapat dimanfaatkan guru dan murid dalam pembelajaran di sekolah. Salah satu yang telah saya terapkan di SDN 29 Idai pada saat pandemi Covid-19 sesuai dengan perkembangan teknologi yang ada walaupun di daerah perbatasan adalah dengan menggunakan komik pembelajaran sebagai media belajar yang dibuat guru menggunakan PowerPointOnline pada Microsoft Office 365. Dimana guru membuat komik pembelajaran tersebut kemudian dicetak dan diberikan kepada siswa sebagai media belajar selama PJJ. Selain itu saya juga membuat video pembelajaran yang sudah diupload di facebook dan youtube kemudian siswa pada saat mencari sinyal siswa bisa mengunduh dan bisa untuk bahan belajar di rumah secara offline. Pada saat pandemi Covid-19 ini karena berada di perbatasan dan sinyal yang lemah, maka PJJ yang dilakukan adalah secara luring. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara bergilir dimana siswa setiap kelas datang ke sekolah selama 1 (satu) hari secara bergilir, sehingga tidak akan terjadi kerumunan siswa dalam jumlah banyak di sekolah. Sebelum pembelajaran dimulai guru telah meminta siswa untuk memakai masker yang telah dibagikan secara gratis kepada siswa, namun terkadang siswa lupa membawa maskernya sehingga siswa diminta untuk mengambil maskernya terlebih dahulu karena rumahnya tidak begitu jauh. Sekolah juga telah membuat tempat cuci tangan menggunakan dana bantuan operasional sekolah, membeli handsanitizer, sabun cuci tangan untuk dapat digunakan oleh guru dan siswa. Siswa yang sedang batuk maupun sakit juga dilarang datang ke sekolah. Selama 1 hari datang ke sekolah bertemu dengan bapak dan ibu guru dirasakan cukup menjadi penghibur dan penyemangat mereka untuk terus belajar selama masa pandemi. Selama proses pembelajaran yang begitu singkat namun terasa bermakna karena anak-anak tetap semangat mengikuti pembelajaran. Sebagai seorang guru juga harus memiliki kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran sehingga anak di sekolah dengan waktu yang sangat singkat namun terkesan dan materi yang disampaikan oleh guru akan melekat dan teringat oleh siswa.

Pelaksanaan evaluasi sendiri dalam PJJ luring ini dimana siswa secara bergilir datang ke sekolah seminggu sekali untuk tatap muka walaupun dengan waktu yang sangat terbatas, sebagai seorang guru saya memanfaatkannya untuk melaksanakan evaluasi berbasis komputer yaitu menggunakan aplikasi Easy Quizizz yang telah diinstal di laptop pribadi guru. Siswa secara bergilir mengerjakan soal pilihan ganda pada laptop guru sehingga tetap sesuai dengan protokol Covid-19 yaitu tetap jaga jarak dan tidak menimbulkan kerumunan. Ternyata menimbulkan antusias para siswa dalam mengerjakan soal tersebut karena merupakan hal baru bagi mereka yang biasanya hanya menggunakan selembar kertas, namun sekarang evaluasinya berbasis komputer yang hasil nilainya langsung keluar. 

 Pandemi Covid-19 walaupun belum usai namun memberikan perubahan yang sangat besar bagi dunia pendidikan kita terutama di sekolah saya di perbatasan yaitu di SDN 29 Idai. Siswa-siswi merasa lebih semangat dan antusias saat guru mengenalkan aplikasi evaluasi baru melalui laptop pribadi guru. Transformasi pelaksanaan pembelajaran sebagai seorang guru di era digital telah memberikan saya pengalaman yang begitu berharga untuk selalu berinovasi serta kreatif dalam pembelajaran. Hal ini menuntut saya sebagai seorang guru untuk terus belajar mengembangkan diri melalui pelatihan-pelatihan daring yang mendukung dalam proses pembelajaran. Kreativitas saya jauh lebih meningkat dibanding sebelum pandemi Covid-19 karena guru harus melek digital mengikuti perkembangan zaman. Saya akan terus berkarya dan mengembangkan diri demi kemajuan pendidikan khususnya di tempat saya bertugas di perbatasan yaitu di SD Negeri 29 Idai. Tantangan-tantangan di era digital akan terus saya hadapi dengan semangat demi mencerdaskan anak bangsa terutama di daerah perbatasan.

KisahkudiBatasNegeriBerlabuhdiPulauBorneoSenentang
Komentar (37)

Tuliskan Komentar Anda

Komentar Terbaru

Amrina, S.Pd.
3 minggu yang lalu

semangat selalu bu guru


Sutrisno, S.Pd.
1 bulan yang lalu

keren bu guru sehat selalu


Eca, S.Pd.
1 bulan yang lalu

tetap semangat selalu bu guru..

Rekomendasi Artikel