I Gede Eka Putra Adnyana

Kunjungi Profil

Sepotong Pesan Kepada Murid-Muridku

Seperti  kata-kata Bung Karno yang pernah dipidatokan “berilah saya seribu orang tua, saya bersama mereka kiranya dapat memindahkan gunung, tetapi apabila saya diberi sepuluh pemuda yang bersemangat dan berapi-api, kecintaannya kepada bangsa dan tanah air tumpah darahnya, saya akan menggemparkan dunia”

Yaa, pemuda namanya. Sosok  muda, agresif, progresif, dan memiliki suara, menyuarakan (voice) yang berapi-api, dilandasai oleh idealisme kebangsaan serta spirit cinta tanah air dan profil pelajar pancasila saat ini. Itulah yang akhirnya mencemeti Bung Karno berseru bahwa mereka mampu menggetarkan dunia. Padahal hanya sepuluh saja. Tentu saja ini bukan hanya sebuah apologi atau irasional logika. Sepertinya Bung Karno telah menyadari bahwa dalam pembentukan bangsa dan ketangguhan sebuah negara yang sebenarnya, dibutuhkan pemuda atau generasi  sebagai aktor utama dan garda terdepan. Fakta sejarah menceritakan kepada kita bahwa generasi yang mencintai bangsanya mempunyai keterikatan batin dengan kebangkitan sebuah peradabannya.

Sejarah pernah memberikan kesaksian bahwa semangat intelektualitas para pemuda semasa peradaban Yunani diwarnai kecemerlangan pemikiran para pemudanya. Sebut saja Socrates, Plato, Aristoteles, dan yang lainnya. Ketika revolusi-revolusi besar terjadi di berbagai belahan dunia, dukungan para pemudalah yang menggairahkannya. Demikian pula peran nyata pemuda Indonesia dalam kebangkitan negeri sejak dulu hingga kini.

Gambar: Kegiatan pembelajaran yang berpihak kepada murid

Akan tetapi, dalam konteks kekinian, kebangkitan seperti apakah yang harus diusung oleh murid-murid yang notabene sebagai generasi masa kini? Secara tersirat pidato Bung Karno tersebut, yang menjadi rohnya adalah tantangan terhadap kemajuan teknologi dan persaingan ekonomi global. Ini adalah “bom” waktu dan jika kondisi ini bisa ditaklukkan oleh generasi muda, niscara bisa mengguncanggkan dunia.

Kebangkitan dalam konteks kekinian ini, menyangkut sikap mental mereka, sikap kita juga dalam membangun kebangkitan nasional di tengah menara api yang dibagun oleh negara-negara adidaya. Sebuah kondisi keninian yang begitu menyuarakan (Voice) dan menantang yang tidak lagi menitikberatkan perlawanan kepada penjajahan fisik, tetapi sebuah idealisme yang perlu dihebuskan agar tidak “tertindas” oleh teknologi dan pesatnya ekonomi global. Pada saat yang bersamaan pula, kebangkitan yang benar-benar dihembuskan oleh generasi muda harus dilatarbelakangi oleh idealisme mencintai negeri di tengah kepungan revolusi industri 5.0 yang ditandai dengan teknologi informasi yang begitu dahsyat yang sering disebut melahirkan “generasi tanpa tapal batas”.

Atas dasar paradigm itu, tidak lantas dilarang mengidolakan Bill Gates, Justin Bieber, Selana Gomes, Jack Ma, atau sederetan pesohor dunia lainnya. Tetapi hal itu harus dibarengi dengan gerakan tetap menghargai pencapaian negeri sendiri dan yang paling urgen menjadikan murid-murid yang juga ikut “melukis” dunia, sehingga dunia pun akan ikut bergetar. Berkenaan dengan hal itu, inilah zaman milenial dimana setiap murid atau generasi tidak lagi dididik untuk menjadi seperti doktrin orang tua zaman dulu. Jika murid-murid masa kini masih saja merindukan atau hanya sekadar bermimpi agar dapat menjadi ASN, agar besok, lusa, hidup dirasakan terjamin sampai tua bahkan sampai mati, maka mimpi-mimpi itu adalah using. Hanya mimpi milik anak muda tahun 60, 70, mungkin juga era 80 an. 

Jika murid-murid Indonesia masa kini hanya mampu bermimpi dan memilih (Choice) menjadi pegawai BUMN, agar income bagus, pensiunan juga ada, maka mimpi seperti ini juga nampaknya milik generasi  lawas, mimpi milik kakek, nenek, ayah, ibu, paman- paman kita yang hidup pada era 90-an

Jika murid-murid Indonesia masa kini, baru mampu bermimpi sekadar menjadi buruh multi nasional company, perusahaan swasta besar, agar bisa tugas di luar negeri, tunjangan dollar, ini juga mimpi-mimpi generasi angkatan duaribuan. Persoalannya, hari ini adalah zaman milenial, jaman dimana revolusi industri 5.0 yang menjadikan iklim planet bumi tanpa sekat. Generasinya yang berbeda. Generasi yang tanpa mengenal ruang dan waktu. Seharusnya dan sebaiknya generasi zaman ini tidak sekadar punya mimpi yang kadaluarsa: basi, malu, usang, dan kampungan. Generasi zaman milenial tak lagi mengusung nama warga negara A, negara B, dan yang lainnya, tetapi menjadi bagian warga negara dunia, tersambung dengan seluruh sudut-sudut dunia, belahan bumi yang paling muskil sekalipun. 

Apa semestinya impian-impian yang patut dihembuskan oleh murid-murid masa kini sebagai generasi milenial  dengan mengusung spirit Bung Karno? Siapakah yang paling berperan menyadarkan dan menggerakkan mimpi-mimpi anak bangsa masa kini? Agar kelak terbebas atau “merdeka” dari belenggu cita-cita generasi masa lalu? Adalah guru. Guru sebagai motor, sebagai inspirator, dan sebagai “generator” penggerak mimpi-mimpi generasi milineal Indonesia.

Generasi zaman milenial sebagai agen perubahan harus bangkit dengan gerakan-gerakan kesadaran. Mampu berdiri sendiri dengan semboyannya “Berdikari”, menjadi pekerja kreatif, wiraswasta, enterpreneurship, profesi pekerja bebas, dan insan-insan yang bekerja dengan pekerjaan yang menakjubkan. Saya sebagi guru secara intens berseru kepada kalian “jika hari ini kalian sebagai generasi milenial Indonesia membeli aplikasi untuk kepentingan hidup, untuk menunjang kinerja belajar, maka suatu saat nanti temuan atau aplikasi buatan kalian yang wajib dibeli atau dipakai oleh masyarakat dunia. Bahwa inilah kepemilikan (owenership) kalian yang telah menjelajah dunia). 

Gambar : Kegiatan coaching menemukenali cita-cita bersama murid

 Jika kalian sebagai generasi milenial Indonesia hari ini baru mampu sekadar menjadi konsumen Burger King, Coca-Cola, KFC, maka besok, lusa, giliran masyarakat dunia yang lain harus bersedia menjadi konsumen dan buruh di top brand yang kalian ciptakan. Jika hari ini kalian baru sekadar mampu mengenakan Lea, Levis, atau Jeans, besok, lusa, masyarakat dunia harus mengenakan busana yang kalian rancang dan ciptakan sesuai selera masyarakat dan market dunia, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian dalam budaya sendiri.

Jika kalian sebagai generasi milenial Indonesia, hari ini mengeluh berobat dengan pelayanan di rumah sakit yang tidak ideal, suatu saat nanti, giliran masyarakat lain yang berobat di klinik dengan sistem dan cara berbeda milik kalian. Jika hari ini generasi kalian mengeluhkan sekolah, ruang baca, dan yang lainnya, tidak seideal yang diinginkan, kelak generasi jaman milenial mampu mengatasi itu dengan tindakan-tindakan kalian yang riil, yang ideal, dan mampu menggetarkan semangat.

Itulah dunia generasi milenial Indonesia semestinya sekarang dan masa depan.  Jangan hanya mampu dan mau sekadar meretas mimpi menjadi “buruh”, pengikut, follower. Akan tetapi, berdiri di depan, giliran orang lain yang mengikuti dan menyimak trend yang kalian buat. Maka, saat itu pula kita bisa benar-benar bersuara (voice): bangkit dan merdeka dengan lantang. Seperti yang pernah juga disampaikan pengusaha kondang, Bob Sadino, “Setinggi apapun pangkat anda di perusaaan hebat, kalian tetaplah sosok pegawai/buruh. Sekecil apapun kalian, perusahaan kalian, kiat-kiat kalian, jika itu  kepemilikan (ownership) kalian, kalian adalah bos nya”

Maka kelak ketika kalian memasuki kehidupan nyata, dunia kerja, dunia persaingan yang bebas, sebebas mimpi dan tujuan kalian, kalian tidak lagi akan bicara tentang besok pagi-pagi berangkat kerja, sore-sore baru pulang. Begitu terus mengikuti roda waktu yang telah ditetapkan dan dipatok. Akan tetapi, besok kalian akan menginspirasi siapa? Sekarang atau nanti kalian akan mengubah atau menciptakan apa? Besok Senin bertepatan dengan hari ulang tahun kemerdekaan, atau  bulan depan bersamaan dengan hari sumpah pemuda, kalian akan melakukan gerakan apa?meluncurkan karya apa lagi? Semoga hidup kalian, generasi milenial, generasi zaman now, generasi tanpa sekat, benar-benar “merdeka”. Kalian, kita semua benar-benar bangkit, di tengah kemerdekaan belajar dan merdeka belajar yang sesungghnya. 

 

Penulis, 

Staf Pengajar di SMAN 1 Kintamani, Bali

Owner “Komunitas Tanpa Laut”

CGP Angkatan ke-3 Bangli, Bali

SepotongPesanKepadaMurid-Muridku
Komentar (6)

Tuliskan Komentar Anda

Komentar Terbaru

I Gusti Ayu Srijati
1 bulan yang lalu

Artikel ini mengajak kita pembaca untuk menyadari bahwa sangat penting membangun kesadaran peserta didik kita untuk berproses dalam pembelajaran ,sehingga mampu menghasilkan" karya nyata "yang kedepannya dapat menjadi motivasi dalam menyadari potensi yang mereka miliki sekaligus sebagai pijakan untuk mereka melanjutkan perjalanan dalam hidup di masyarakat. Artikel ini menunjukkan bahwa penulisnya adalah guru penggerak yang sudah memiliki jam terbang yang tinggi dalam . Luar biasa


I Wayan Widiadnyana
1 bulan yang lalu

Sungguh motivator yang menggerakkan.....untuk masa depan Bangsa


Ni Made Sekarini
1 bulan yang lalu

Inspiratif... karakter kuat...pondasi menapak masa depan generasi penerus...👍👍

Rekomendasi Artikel