Ester Okta Alfina, S. Hum

Guru Kelas

Kunjungi Profil

Memakai Kacamata Anak Didik Untuk Menjadi Guru Inovatif

Menjadi guru sekolah dasar selama kurang lebih 5 tahun terakhir, menjadikan saya pribadi yang bukan sekadar mengajari anak didik akan hal baru, tetapi membuat saya juga dididik oleh anak didik saya sendiri untuk menjadi pribadi yang terus berproses. Untuk menjadi seorang guru yang inovatif tentu harus memiliki kemauan yang kuat pula untuk terus mau belajar dan berproses. Lalu, dari mana kita bisa belajar dan berproses? 

Di masa saat ini ketika informasi dapat dengan mudah kita akses hanya dengan sentuhan jari, untuk belajar dan berproses menjadi guru yang inovatif bukanlah sebuah hal yang sulit. Pertanyaan selanjutnya, ketika akses informasi menjadi sebuah hal yang sulit dan mahal bagi sebagian guru, bagaimana guru tersebut dapat belajar dan berproses? Jawabannya adalah melalui mereka yang kita temui setiap hari, anak didik kita sendiri. 

Meskipun belum menjadi seorang ibu, waktu yang saya habiskan bersama anak didik di sekolah membuat saya sedikit paham tentang berbagai karakter anak didik dan belajar dari apa yang mereka lakukan. Ada beberapa karakter dari anak didik yang dapat kita jadikan suri tauladan untuk menjadi seorang guru yang inovatif.

  • Rendah Hati 

Anak didik sekolah dasar yang saya temui  cenderung mengandalkan guru kelas atau teman mereka. Mereka tidak takut untuk meminta bantuan  ketika mereka tidak dapat melakukan sesuatu. Ketergantungan mereka pada orang-orang di sekitarnya menunjukkan bahwa mereka adalah pribadi yang rendah hati yang tidak segan untuk meminta bantuan  orang lain.

Kerendahan hati mengingatkan kita bahwa kita tidak dapat hidup atau bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu, sebagai pendidik, kita harus mampu membangun dan memelihara hubungan yang dinamis dengan orang lain. Hendaknya kita menjadi pribadi rendah hati yang tidak segan untuk meminta bantuan dan mau belajar dari orang lain. Pendidikan yang utuh dan menyeluruh tidak bisa kita laksanakan seorang diri, tanpa adanya kolaborasi dan kerja sama dengan orang-orang di sekitar kita.

  • Mudah Dibentuk (Flexible

Salah satu kelebihan siswa yang membuat saya terkesan adalah  sangat mudah mempelajari hal-hal baru. Hal ini bisa terjadi karena pemikiran mereka yang masih fleksibel seperti busa. Pola pikir yang fleksibel jauh lebih mudah dibentuk daripada pola pikir yang kaku. Alhasil, mereka dapat dengan cepat menyerap dan mempelajari hal dan pengetahuan baru. 

Kita sebagai pendidik bekerja di lingkungan yang dinamis. Hal ini mau tidak mau menuntut kita untuk dapat beradaptasi dengan perkembangan dan perubahan yang sedang dan akan terus terjadi. Tentu pengetahuan yang baru akan sulit kita pelajari jika kita masih menggunakan cara berpikir lama yang kaku dan sulit dibentuk. Marilah kita mengadopsi pola pikir yang lebih flexible sehingga kita bisa menjadi guru dinamis yang dapat bergerak mengikuti perkembangan zaman.

  • Memiliki Rasa Ingin Tahu yang Tinggi
(foto diambil sebelum masa pandemi)

“Mengapa?” ​​adalah pertanyaan sederhana yang sering diajukan oleh anak didik yang sekaligus menuntut kita untuk memberikan jawaban yang memuaskan pertanyaan mereka. Entah mengapa saya suka sekali mendengar kata tanya ini keluar dari mulut mereka. Ini menunjukkan bahwa mereka sedang melalui proses berpikir. 

Sebagai pendidik, sering kita merasa bahwa kita sudah berkompeten dan ahli di sebuah bidang, sehingga sering pula kita rehat dari proses berpikir tersebut dan kehilangan rasa ingin tahu. Padahal, sebagai pendidik, kita harus siap menjadi pembelajar yang mau belajar seumur hidup / long-life learner. Hendaknya kita sebagai pendidik dapat memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Karena sejatinya, rasa ingin tahu adalah bensin untuk membuat kita terus maju dan belajar.

  • Menjadi Penebar Kasih 

Sering saya melihat anak didik saya bertengkar, lalu berbaikan dan bermain kembali dalam kurun waktu yang tidak lama. Ketika harus meninggalkan teman-temannya seusai bermain, tak jarang mereka menangis seperti kehilangan teman lama. Kepolosan mereka adalah kunci yang membuat mereka menjadi penolong dan penebar kasih yang paling tulus dan murni. 

Sebagai seorang pendidik, ladang utama di mana kita bisa menebar kasih tentu saja adalah kepada anak didik kita. Ilmu sehebat apapun yang kita miliki tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada kasih  di dalamnya. Ladang kedua di mana kita bisa menebarkan kasih adalah kepada teman sejawat kita yaitu para pendidik. Kasih dapat disebar melalui berbagi ilmu yang kita punya atau pertolongan yang tulus di saat mereka membutuhkan.

Sering terlupakan bahwa salah satu guru terbaik yang dapat mendorong perkembangan kita sebagai seorang pendidik adalah pengalaman kita berproses bersama anak didik. Kita harus bisa memakai kacamata siswa, meneladani kepribadian mereka yang luar biasa, dan menjadi guru yang inovatif untuk kemajuan bangsa.


Komentar (0)

Tuliskan Komentar Anda

- Belum ada komentar, jadilah yang pertama berkomentar -