Era Yustika Sari, S.Pd.

Kunjungi Profil

Menggembalakan Siswa Melalui Tugas Menulis Puisi

Seorang guru mengajar bukan hanya dari sisi akademis, namun juga mendidik karakter siswa. Sadarilah bahwa kita guru-guru adalah seorang gembala. Seorang gembala berarti memiliki sikap memimpin dan menuntun, mengasihi dan mengasuh. Murid-murid, mereka adalah domba-domba kita. Mereka membutuhkan pimpinan dan tuntunan kita meskipun terkadang mungkin saja mereka tidak menuruti kita. Namun, sebagai gembala yang baik, kita akan terus berusaha memelihara murid-murid kita dengan segala upaya, segala kreativitas, inovasi, dan terlebih lagi dengan HATI. Gembala tak akan membiarkan dombanya tersesat apalagi terhilang. Satu saja domba yang tersesat tentu kita seharusnya mencari dan merangkulnya.

SMP Lentera Harapan Curug adalah sebuah sekolah di kota Tangerang, tempat saya bekerja. Di sekolah ini terdiri sekitar 200 siswa dari kelas 7-9. Ketika pandemi melanda, semua siswa harus belajar di rumah. Siswa tentu merasakan kesulitan seperti tidak memahami pembelajaran, tidak memiliki teman, dan merasakan kebosanan. Siswa SMP adalah remaja. Dalam pertumbuhannya, remaja sangat dipengaruhi sekali oleh teman dan komunitas dalam membantu mereka menemukan jati dirinya. Masa pandemi memaksa mereka untuk bisa mengatasi masa-masa sulit mereka menemukan jati diri dalam kesendiriannya di rumah. Namun, seringkali tak ada jalan keluar. Ditambah lagi, kesibukan orang tua bekerja, yang memaksa orang tua harus meninggalkan anak-anak di rumah. Di rumah, mereka harus berjuang sendiri dalam mengikuti pembelajaran. Bisa saja, siswa-siswa ini tersesat seperti domba. Tanpa gembala yang menuntun mereka keluar dari jalan tersesat itu, bisa saja mereka terhilang dalam kesendirian dan keterpurukannya. Di sinilah peran seorang guru yang sebagai gembala diperlukan.

Bahkan ketika PTM (Pertemuan Tatap Muka) saat ini dimulai, tugas kita sebagai gembala yang mengenali dan menggembalakan siswa justru menjadi semakin terbuka luas. Yang kita butuhkan adalah kepekaan hati kita. Selain melalui interaksi langsung, kita tetap dapat memanfaatkan penugasan menjadi sebuah media untuk makin mengenal dan menggembalakan siswa. Lewat sebuah penugasan, SETIAP siswa memiliki kesempatan untuk membuka dirinya dengan jujur dan tidak perlu merasakan malu dengan bebas menceritakan pengalaman dan kisah hidupnya. Di sinilah, guru dapat mengambil sebuah kesempatan untuk mengenali siswa satu per satu, tanpa ada yang tertinggal karena semua adalah jiwa yang berharga yang telah Tuhan ciptakan dan titipkan dalam kehidupan kita.

Saya seorang guru Bahasa Indonesia dan wali kelas juga merasakan kesulitan mengenal anak-anak karena pembelajaran jarak jauh. Siswa menjadi sulit didekati karena keterbatasan jarak dan juga sifat mereka yang malu-malu untuk berkomunikasi dan membuka kamera ketika kelas online berlangsung. Ketika PTM dimulai pun, banyak siswa yang malu untuk mengutarakan kesulitan yang dihadapi pada gurunya. Namun, melalui sebuah penugasan, kita bisa memanfaatkannya sebagai media untuk menjangkau hati domba-domba kita. 

Sebagai guru Bahasa Indonesia, saya mengajar puisi di kelas 8. Saya menyadari bahwa mapel Bahasa Indonesia tidak hanya melatih keterampilan berbahasa siswa, namun dapat juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan melalui sastra, salah satunya adalah materi puisi. Jadi, saya menggunakan tugas menulis puisi ini, untuk menggali perasaan, pengalaman, kesulitan, dan pemikiran mereka sebagai seorang siswa. Puisi, melalui keindahannya bisa menyatakan dan menggambarkan fenomena-fenomena gunung es yang ada dalam diri para remaja.

Dengan kepekaan dan hati yang murah hati, guru membaca dengan teliti setiap kata yang dilukiskan oleh siswa-siswa. Berbagai cerita mereka tuliskan, pahamilah mereka sebagai seorang remaja yang sedang bertumbuh yang membutuhkan bimbingan kita. Jangan sampai satu cerita pun terlewat dari mereka. Akupun tersentak membaca sebuah puisi yang kubaca tengah malam saat itu ketika sedang megoreksinya.

HIDUPKU
Aku hanya ingin mati, bagai bunga yang layu 
Sudah tak layak untuk hidup 
Aku masih menjalani kehidupan ini 
karena tidak tahu harus bagaimana 
Aku merasa hidupku seperti sebutir debu 
  
Menangis malam hari sedangkan 
siang hari menutupi kesedihan itu 
Aku tertidur panjang hanya menutupi kesedihan 
bukan berarti aku pemalas 
Awalnya ceria lalu menjadi pendiam 
Ya beginilah hidupku yang sekarang 
Lalu aku berdoa setiap saat

Semenjak itu.. 
Hidupku menjadi berwarna 
dan terkadang melupakan masalahku 
Dia membuatku bahagia 
Dia menyadariku 
bahwa hidup itu berharga lewat orang yang tak kukenal 
  
tetapi.. 
aku tak ingin hidup 
dan ingin pergi bersamaNya

Apa maksud dari kalimat puisi ini? Mengapa ia mengatakan tak ingin hidup dan ingin pergi bersamaNya? Sebentar aku berdoa untuknya agar masalah apapun itu, semoga ia mendapat kekuatan. Biasanya, aku memberikan kalimat feedback di bawah karya siswa. Namun, untuk karya ini, segera kusimpan puisinya dan segera kuhubungi siswa itu melalui chat. Aku merasa ini sangat penting dan perlu segera kutanyakan. 

“Halo, Nak, Ibu membaca puisimu ini. Isinya sangat menyentuh Ibu. Maukah kamu ke sekolah dan menceritakan apa yang sedang kamu rasaakan?” kataku dalam rasa khawatir.

Tak lama ia membalas.

“Ya, Bu, saya merasakan kesendirian dan tidak ada rasa motivasi untuk belajar. Saya akan menceritakannya besok” jawabnya singkat.

Keesokan hari di sekolah, kuajak siswa itu ke sebuah ruangan dan menanyainya, mengajaknya mengobrol. Diutarakannyalah isi hatinya, bahwa ia menghadapi masalah merasa teman-temannya tak mendukungnya, membicarakannya di belakang, dan menghinanya. Ia adalah domba yang begitu rapuh, tersakiti. Bahkan kejadian ini mengubah kehidupannya, dulu ia seorang siswa yang rajin, sekarang ia siswa yang sangat bermasalah dengan tugas-tugasnya. Ia dulu ceria, sekarang begitu murung dan tak ada motivasi untuk belajar.

Melalui kata-kata yang mendukung dan memotivasinya, timbul senyum dan secercah harapan di matanya bahwa ia adalah anak yang berharga, meskipun teman, dan sahabatnya sediri mengkhianatinya. Betapa kita seorang guru memiliki peran penting dalam kehidupan remaja ini. Tugas-tugas yang kita berikan bukan semata tugas yang harus dikerjakan dan dikoreksi lalu selesai. Kita bisa menggunakan penugasan puisi ini untuk menjalin relasi dan mengenal siswa. Bukankah yang siswa ingat hingga ia nanti dewasa bukanlah materi-materi yang kita ajar, melainkan pengalaman yang menyentuh hati mereka?

Singkat cerita, aku juga bekerja sama dengan konselor sekolah dan juga orang tuanya untuk melakukan pendekatan pada anak ini. Bersyukur, dari hari ke hari, domba yang hampir terhilang ini menjadi lebih baik, lebih semangat, dan bisa memperoleh semangatnya untuk belajar. Ia membuka diri untuk memaafkan teman-temannya dan mengubah pikiran-pikiran buruk tentang temannya menjadi hal yang lebih positif.

Itu baru satu cerita. Ada puluhan cerita lain yang juga membutuhkan perhatian, motivasi, arahan, penguatan, penghiburan, dan juga nasihat yang mengarahkan. Kita, sekali lagi, adalah gembala. Menuntun mereka dari jalan tersesat pada jalan kebenaran. Kita dapat menciptakan peluang untuk membimbing karakter mereka melalui penugasan-penugasan pembelajaran kita.

“Be a teacher is to touch a lives.”

 

MenggembalakanSiswaMelaluiTugasMenulisPuisi
Komentar (1)

Tuliskan Komentar Anda

Komentar Terbaru

erni widiastuti
1 bulan yang lalu

Kisahnya sangat menyentuh, tetap semangat menggembalakan Bu ❤.