Published 15 Des 2022

Pengalaman Mengajar di SMP Negeri 3 Salatiga

Keterangan pada cover artikel ini: Pak Bambang Subiyakto berada di foto bagian paling kanan.

Cerita Guru

Ahmad Dwi Bayu Saputro

Kunjungi Profile
Bagikan

Keterangan pada cover artikel ini: Pak Bambang Subiyakto berada di foto bagian paling kanan.

Dalam mengajar peserta didik, sifat tegas adalah diperbolehkan. Yang tidak diperbolehkan adalah ketika sampai main tangan.

Ini sangat berbeda dengan keadaan tatkala saya masih kecil.

Sewaktu masih kecil, saya sering melihat kekerasan fisik yang dilakukan oleh guru. Dan itu terjadi hampir di seluruh pelosok negeri. Yang namanya guru "menjewer" telinga atau bahkan sampai memukul peserta didik merupakan hal yang sangat wajar. 

Begitu juga dengan orang memukul orang atau berkelahi merupakan pemandangan yang biasa. Orang yang merasa "hebat" merasa leluasa untuk memukuli orang yang lemah. Sementara yang lemah hanya bisa pasrah dan berdiam diri. 

Sekarang, orang memukul orang bisa kena pasal. Siapa yang dipukul bisa saja melaporkan pada pihak yang berwajib. Pada intinya zaman sekarang sudah banyak orang yang sadar akan hukum. 

Bagaimana kalau dengan sifat tegas? Tegas ternyata dibutuhkan di banyak aspek. Di sekolah membutuhkan ketegasan. Dalam mendidik anak di rumah juga membutuhkan ketegasan. 

Terkait dengan masalah ketegasan, ternyata saya mempunyai pengalaman yang cukup menarik. Pengalaman ini saya dapatkan di SMP Negeri 3 Salatiga, Jawa Tengah. 

Namanya adalah Pak Bambang Subiyakto. Beliau dulu Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Salatiga. Orangnya tinggi dan besar. Perilakunya setiap hari tegas dan tertib, mirip seperti militer.

Beliau bercerita kepada saya mengenai zaman dahulunya yang berprofesi sebagai anggota TNI. Oleh karena jauh dengan keluarga, beliau akhirnya mengajukan mutasi agar dipindah menjadi seorang guru. Pengajuan beliau akhirnya disetujui oleh pimpinanannya. 

Zaman dahulu memang masih mudah. Selain jumlah guru masih belum terlalu banyak, juga tentang regulasi yang belum terlalu rumit. Kalau zaman sekarang tentunya tidak bisa. Masak seorang anggota TNI mengajar di sekolah? Mana Akta IV-nya dan mana sertifikat PPG-nya? 

Kecuali kalau itu guru diperbantukan. Misalnya, di pedalaman Papua yang itu masih sangat kekurangan tenaga guru, bisa saja anggota TNI diperbantukan mengajar. Dan program itu sampai sekarang masih berlanjut. 

Sifat militer itulah yang sampai sekarang masih melekat di dalam tubuh Pak Bambang Subiyakto. Tatkala belajar beliau sangat disiplin. Beliau tidak segan memberikan contoh kepada guru lainnya. Beliau lebih banyak memberikan praktik daripada ceramah semata. 

Atas kedisiplinannya, beliau akhirnya mendapatkan amanah yang lebih tinggi. Beliau diangkat menjadi kepala sekolah oleh pimpinan daerah setempat. 

Selama memimpin sekolah, beliau membuat kebijakan yang cukup unik dan boleh dikatakan aneh. Setiap peserta didik wajib masuk sekolah pukul setengah tujuh. Setelah pukul setengah tujuh, gerbang utama ditutup oleh satpam. 

Otomatis peserta didik yang terlambat tidak bisa masuk gerbang. Kebijakan yang terlihat "kejam" tersebut ternyata banyak dicari dan diminati oleh wali peserta didik. Hal itu dapat dilihat mengenai minat peserta didik yang mau mendaftar sekolah cenderung naik dari waktu ke waktu.

Saat sedang upacara bendera, beliau pernah menjadi pembina upacara. Beliau memberikan ceramahnya cukup menohok. Ceramah beliau pada intinya berisi tentang kedisiplinan. 

"Saya tidak mau diintervensi. Apabila kalian atau orang tua kalian protes terhadap gerbang sekolah yang sudah ditutup pukul setengah tujuh, silahkan kalian pindah dari sekolah ini," kata Pak Bambang disambut dengan senyuman peserta didik. 

Ungkapan beliau boleh dikatakan cukup kejam, namun mampu memikat peserta didik untuk bersekolah di tempat itu. Kedisiplinan yang dilakukan sejak dini kemungkinan besar akan tetap terpatri dalam diri, hingga ketika dewasa nanti akan tetap menjadi anak yang disiplin. 

Kini, beliau telah almarhum. Namun, jasa beliau masih tetap teringat dan terimplementasi di dalam internal SMP Negeri 3 Salatiga. Semoga Tuhan mengampuni semua kesalahan beliau. Amiin. Semoga bermanfaat. 

 

Penulis: Ahmad Dwi Bayu Saputro

Editor: Putra

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

0

0

Komentar (0)

-Komentar belum tersedia-

Related Post

Setiap Siswa Itu Unik

Shafura, S.Pd.

Apr 18, 2022
3 min

Elfison Dahsananranca Syawtupan

May 10, 2022
1 min

Dra. Sri Suprapti

Aug 29, 2022
3 min
Takkan lari gunung dikejar

Mahlida Yuliana Siallagan, S.Pd

Apr 12, 2022
2 min
Kurikulum Post Pandemic

Tarsisius Hartimo Goncalves Pampuare, S.fil

Apr 23, 2022
3 min
Mengajar dengan Cooperative Skrip

Ali Azhari Siagian, S. Pd

Apr 18, 2022
3 min

GuruInovatif.id adalah Platform Online Learning Bersertifikat untuk Guru. Bangun keterampilan mengajar dengan kursus, webinar, dan sertifikat.


Copyright © 2022. GuruInovatif.id. All rights reserved. Guru Inovatif untuk pendidikan Indonesia